
“Dimana ini?“
“Kita terus jalan saja, masuk ke dalam hutan.“
Mereka pun terus jalan. Menyusuri jalanan setapak yang kanan kirinya berbatasan dengan tanaman liar. Banyak semak berduri. Dimana jika tak memakai alas kaki, akan menembus kulit. Hingga robek-robek dan perih. Bukan hanya duri hutan saja, ilalang-ilalang pendek juga mampu membuat tak nyaman kulit. Makanya jika ada kendaraan mending naik itu saja. Meskipun kecil jalanan tersebut, tetapi para penduduk desa di kaki hutan itu, mampu mengendarai sepeda roda dua menembus jalanan tersebut. Meskipun suara mesin dan gas yang di geber kuat-kuat. Terkadang kalau kena hujan atau embun pagi, tanahnya menjadi sangat licin. Tak jarang para pengendara itu mesti terseok-seok hingga tergelincir dan nyungsep ke semak-semak. Tapi memang sejauh ini tak sampai menimbulkan korban jiwa. Sebab orang-orang situ sudah hafal betul lokasinya.
“Itu ada goa. Kali saja dia di dalam.“
__ADS_1
“Barangkali dia memang disini. Kita mesti ingat pada apa yang dia katakana pada keluarganya. Yang tengah memperingati HUT. HUT itu hutan ini. Dia ingin berpetualang ke hutan. Dan yang dirasa menarik baginya adalah hutan larangan ini. Sehingga dengan rekan-rekannya mereka menempuhnya walau perjalanan tak semudah yang dikira orang. Dan kita merasakan sendiri tadi. Terkadang ada bahayanya. Baik perahu yang bisa tenggelam. Atau Cuma kandas akibat air yang surut. Mungkin juga lokasi yang penuh bahaya. Adanya binatang buas, duri-duri tajam yang mampu merobek kulit. Juga jalanan licin yang sulit di tempuh. Hutan ini menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi kalau ada petugas yang terkadang tak memperbolehkan orang untuk masuk ke hutan dan melanggar larangan yang sudah di buat.”
“Pintunya kecil itu.“
“Nah itu ada yang keluar.“
“Wah banyak.“
__ADS_1
“Ngapain kalian mencari.“
“Loh gimana sih. nggak pulang ya dicari.“
“Aku tuh mengikuti orang-orang kota. mereka masuk ke goa itu.“
“Ngapain di goa?“
__ADS_1
“Kita melihat-lihat di dalamnya,“ ujarnya bercerita. “Disana ada batu yang membentuk satu sosok yang terbuat secara alami dari pertemuan antara stalaktit dan stalakmit. “
Suatu keanehan memang. Juga tak biasanya dalam goa ada stalaktit. Biasanya suatu relung saja sudah bisa di sebut goa. Jadi tak sempat membentuk stalaktit stalakmit. Air yang merembes keluar dari sela-sela batu terkadang membentuk sebuah bentukan yang aneh, sebagai jalan air akibat membawa zat-zat kapur maupun struktur batuan. Sehingga lama-lama akan menjadikan jalan itu suatu tumpukan mineral yang mengeras. Sehingga bertemunya stalaktit dan stalakmit akibat air yang membentuk itu menjadikan sebuah karya seni alami yang begitu mengagumkan. Bahkan tak jarang orang yang memandangnya menjadikan sebuah bentuk kekaguman akan indahnya alam ini. Karena bentukan yang terjadi akibat ketelatenan air dalam membentuk selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad hingga menjadi hal indah tadi, dirasa suatu keunikan tersendiri. Dimana manusia juga akan sulit membuat demikian. Walau dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju, belum tentu bisa melakukan seperti itu. Kalaupun bisa, sisi keasliannya juga menjadi penilaian tersendiri. Itulah makanya satu bentuk menarik tadi sanggup membawa daya Tarik orang-orang yang jauh untuk melihatnya. Walau sekali kalau sudah kesampaian akan senang. Dengan jarak yang panjang dan medan yang dibilang tak mudah. Semua menjadi sebuah tantangan tersendiri. Dan merasa bangga jika sudah tercapai apa yang diinginkan itu.