
“Ini ruwat sebenarnya.“
__ADS_1
“Ruwat? “
__ADS_1
Sebuah acara menanggap wayang untuk membuang sial, selamatan, bahkan terkadang untuk meminta berkat. Kisah Mahabarata yang menjadi dasar cerita wayang adalah ruwat. Jika di pewayangan ada ruwat. Maka di cerita mahabarata itu juga sejenis. Hanya kalau wayang, ruwat itu untuk Dewa Kala, sang waktu, sedangkan pada kisah tersebut untuk pengorbanan ular. Yang tujuannya mengejar naga Taksaka yang telah membunuh Parikesit. Tentunya ruwat itu ada setelah kisah pengorbanan ular terjadi. Sebab kisah mahabarata tercipta sudah lama sekali. Hanya inti dari pengadaan itu kemungkinan berdasarkan kisah tersebut. Dengan keinginan mengorbankan ular maka terjadi kisah besar tersebut, dalam ruwat akan ada kisah yang ingin disampaikan oleh penyelenggara buat keluarga, anak cucu, dan sekitarnya agar memahami kisah yang dijabarkan. Pada akhirnya kisah ruwat ini dibedakan lagi, antara selamatan bumi, selamatan laut, dan selamatan keluarga. Yang semua sebenarnya menginginkan agar selalu selamat dari rubedo yang merintangi perjalanan hidup manusia. Manusia tak lepas dari cobaan dan hilang rintang. Namun dengan usaha selamatan itu diharapkan mampu membuatnya terbebas dari cobaan tersebut. Bisa mengatasinya, sekaligus bisa membuat lebih banyak rejeki dalam kesehariannya melintasi waktu yang tersisa di dunia ini.
__ADS_1
Ini mungkin menunjukkan bahwa balas dendam tidak baik. Tak perlu dilakukan. Bahkan oleh orang paling benar sekali pun. Dan untuk memutus mata rantai usaha pembunuhan satu atas yang lain nya. Sehingga tak perlu lagi ada nyawa yang melayang karena suatu kesengajaan. Usaha dari sahabat Taksaka yang besar membuat naga itu lepas dari pengorbanan ular. Dan usaha yang besar sanggup merubah niat hati sang raja untuk membalaskan dendamnya pada naga, meskipun dia telah membunuh orang tua yang dikasihinya. Sebab kematian belum tentu memisahkan anak dengan ayah untuk selamanya. Ada kalanya setelah itu hanya pergantian dari alam dunia ke alam abadi. Serta mempertemukan antara ayahnya yang merupakan penerus tungga dari dinasti bharata yang besar dengan para leluhur dalam kahyangan yang menjadi inti cerita pada epos besar itu.
__ADS_1
Kembali pada masalah ruwat, yang diadakan bukan untuk naga Taksaka, tapi untuk Betoro Kolo agar para sukerto terbebas dari kejarannya. Karena sukerto itu sangat banyak, menggambarkan kalau semua orang akan di kejar oleh batara Kala sang raksasa penguasa waktu. Sehingga manusia tak akan bisa lepas dari kejaran waktu. Dari siang, dari sore, dari malam, akan bisa membuat waktu mengambil seseorang. Untuk kemudian lebur. Dari abu kembali ke abu. Dan biasanya acara ruwat itu terpisah dari acara wayangan itu sendiri. Walau sama-sama menggelar wayang. Jika siang akan diadakan ruwat, maka malam nya akan ada hiburan wayang. Sehingga dalam satu hari itu ada pertunjukan yang lengkap. Seperti Ganesh yang menulis tanpa putus, maka acara itu juga tidak terputus kisahnya sampai tancep kayon.
__ADS_1