
Ketika dalam goa gelap yang lebih dari muram nya senja. Yang terbayang adalah kengerian. Lalu berdiam diri. Mengatupkan mata. Dan membayangkan. Bahwa apa yang ada kini hanyalah sebutir ke putus asa an. Dalam menanti secercah cahaya. Adakah itu lilin. Atau cuma satu bintang yang jauh. Yang tak mampu menembus gelembung semesta lain. Bukan pada satu lubang hitam yang mampu menelan segala. Dan mendamba lubang putih agar keluar dari padanya. Mengingat ribuan bintang yang kan berkelip untuk lewat darinya. Ribuan bintang yang terus berputar membentuk satu jalur susu. Dimana segala nya berawal. Dari kabut lepas yang terus menggumpal. Membentuk satu kehidupan. Dalam semesta yang pekat. Untuk kemudian memberi cahaya. Cahaya yang menentukan. Merah, kuning, biru. Dan akhirnya menggelembung padam. Dalam ledakan dahsyat. Yang kemudian menjadi jalur susu lagi. Dimana awal kehidupan terbentuk lagi. Ketika menyadari, bahwa apa yang terlihat susu, bukanlah demikian. Hanya satu bentuk tipuan akan keterbatasan manusia. Yang menganggap bahwa diri adalah segalanya. Yang menjadi pusat. Ketika di lautan dan tak melihat daratan. Itulah pusat nya. Hanya karena tak mengetahui sisi. Dan semesta ini, maka disini menjadi segalanya. Untuk satu gelembung yang tak mesti bulat. Atau terompet. Atau sekedar oval yang unik. Tanpa mengetahui, sisi mana yang semestinya berada. Sebab diri ini yang kemudian memahami apa yang tertangkap. Diri inilah yang menganggap pusat. Karena memang apa yang terlihat mengelilingi batin. Namun, terkadang karena merasa diri sebagai pusat, menjadikan ego yang merasa apa yang ada dialah yang mengelilingi. Tak perduli jiwa lain juga merasa sama. Apa yang dirasa orang, tentu tak akan merasa. Maka kalau berlebihan, akan menganggap diri ini sebagai segalanya. Dan akhirnya terbelenggu pada satu pemikiran yang semestinya benar menjadi tak benar. Untuk saling memperebutkan diri. Diri yang fana. Yang berkelana dalam pikiran-pikiran pekat. Berkelana di semesta. Berputar dan terus memutar. Saling mengelilingi, saling berjuang. Untuk tetap hidup di jalurnya. Dan menghindari benturan. Atau saling terkam. Agar tetap melaju lurus. Menembus ruang misteri. Dimana pengelana abadi terus melaju. Waktu demi waktu. Yang seakan tanpa batas. Dimana akhirnya tanpa perlu memperhatikan waktu. Sebab semesta akhirnya mesti terus memutar. Tanpa satu putaran waktu. Yang ter kandas kan, oleh rasa saling. Saling gerak, saling makan, saling membaur, untuk kemudian saling memburai dalam satu ledakan besar lagi. Namun berikutnya menjadi waktu awal lagi yang kembali semula. Mesti mengumpulkan diri. Agar pribadi-pribadi itu kembali menyatu, menjadi satu kesatuan yang berikutnya saling mengikat dan padat dalam tahapan yang membutuhkan proses. Tentunya proses panjang yang berikutnya terputar memutar-mutar tanpa putus. Dan berikutnya mengembara lagi untuk satu tujuan yang tak pasti. Untuk itulah, lebih indah, jika diri juga menganggap diri yang lain mesti diperhatikan. Agar saling rasa, dan saling membagi ego. Sehingga tak perlu memperhatikan dimana pusat berada. Yang mesti diperhatikan adalah semua pusat. Sehingga bisa berbagi diantaranya, dan membiarkan semuanya saling mengerti. Maka akan memandang bahwa semesta yang luas ini dan penuh dengan raksasa-raksasa pijar, hanyalah satu baris susu yang benar-benar susu, untuk mengalirkan kehidupan baru yang tanpa perlu merasa diri sebagai pusat. Sebab segalanya kemudian akan melebur lagi. Menjadi sebuah puing-puing dalam kegelapan. Yang pekat dan muram, seperti dalam goa ini.