Senja Muram

Senja Muram
Menyusuri sungai


__ADS_3

“Yuk pulang.“


Itulah akhirnya dikala kebingungan masih mendera dan belum menemukan titik temu mereka mesti kembali dulu sembari membawa kotak seisinya. Nanti pada tempat yang lebih aman serta tak terkacaukan oleh keadaan yang demikian kacau, akan diteliti dengan seksama.


“Susuri sungai saja asik ini,“ ujar Wa Ta’i yang sudah hafal betul daerah tersebut.


Berikutnya, mereka melewati tepian sungai yang kering. Daerah tersebut ditumbuhi oleh tanaman pendek, rerumputan, bahkan pohon-pohon yang lumayan rindang di bantarannya. Pada bagian ini mereka terus jalan. Dan biasa dilewati oleh para penduduk. Baik itu yang hendak ke sawah atau ladang. Atau mereka-mereka yang hendak memancing untuk mencari ikan sungai yang kecil-kecil tapi sangat enak dan gizinya tinggi. Sehingga lama kelamaan tempat itu mudah untuk dilewati. Tak terkecuali oleh Wa Ta’i yang sedari kecil sudah sering melewati tempat tersebut. Meskipun tidak setiap hari, namun lebih dari sekali saja sudah lumayan layak dalam menghafalkan tempat itu.

__ADS_1


“Wah indah ya, kalau disusuri demikian,“ ujar Claudia sembari terus jalan. Sesekali melompat kalau ada genangan air dan jika ada batu sungai yang besar menghalangi langkah. Itu semua menjadikan satu hal yang unik dalam melewati masa-masa di desa. Keadaan itu tak akan pernah didapatkan di kota tempat tinggalnya. Masing-masing tempat punya keunikan. Dan kali ini satu keunikan lagi yang mereka rasakan.


“Dingin Wa?“ tanya Claudia melihat orang itu demikian saja masih berbasah-basah tanpa handuk dan terus saja jalan. Kaos dilepas dan memanggul pacul.


“Lumayan. Tapi segar,“ kata Wa Ta’i yang sudah mulai keringatan lagi dengan bercampur dengan air sungai yang masih membasahi badan. Maklum meskipun basah kuyup. Tapi melewati jalanan yang tak rata, naik turun, akan membuat tenaga kembali terkuras. Mana sedari tadi belum mendapat asupan makanan sedikitpun. Mungkin nanti kalau sudah di rumah, akan pulih kekuatannya setelah mendapat sajian dari orang rumah.


“Kan airnya sudah tak dalam. Tidak seperti di kedung tadi yang membentuk cekungan. Jadi mana enak mandi serta berenang di tempat yang tak dalam begitu. Hanya akan menambah kotor badan saja,“ ujar Wa Ta’i yang terus saja melangkah, sembari memanggul pacul. Cara demikian akan memudahkan dalam membawa alat tersebut. Dibanding hanya dengan menggamit atau bahkan Cuma mengangkat pakai satu tangan. Akan terasa berat jika tak tahu caranya. Dengan menaruh pada pundak akan terasa ringan. Bahkan terasa tak membawa apa-apa. Jadi untuk perjalanan jauh juga tak masalah.

__ADS_1


“Eh lihat. Ada sesuatu....“


Mereka melihat ada keanehan di depan mereka yang akan dilalui pada tepi sungai yang alirannya sama dengan yang di kedung tadi.


“Kita dekati.“ Mereka penasaran. Mereka terus mendekat pada sesuatu yang misterius dan kini tampak jelas di depan nya kini. Kalau dari jarak mereka kini tak kentara. Masih terasa jauh. Bahkan tertutup oleh rumput dan tumbuhan pendek di sekitar tubuh itu.


“Wah badan tanpa kepala.“

__ADS_1


Mereka terkejut menyaksikan ada satu sosok yang tengah rebah menghadap sungai, bahkan pada batas antar air itu. Namun kepalanya sudah menghilang. Entah kemana.


__ADS_2