Senja Muram

Senja Muram
Masih banjir


__ADS_3

“Masih banjir nih,“ ujar Claudia. Banjir memang tak selalu menggenang hingga permukaan daratan. Hanya beberapa waktu kemarin saja. Kali ini air perlahan surut. Untuk lalu menjadikan kembali pada posisi semula. Namun hal itu butuh waktu. Dimana sudah tak bisa langsung seperti awal. Menunggu esok atau lusa lagi. Meskipun jalanan sudah terlihat jelas. Dan dataran tinggi kembali kering. Hal tersebut tak cukup menjadikan dasar dataran rendah langsung mengering. Genangan-genangan kenangan itu masih tersisa. masih banyak air yang belum menuju ke muaranya.


“Kemana kita?“


“Naik motor tak bisa.“


“Mancing lagi kita.“


“Nggak usah mancing … nggak usah mancing!“

__ADS_1


“Terus kemana kita?“


“Ke selatan saja naik perahu.“ Itu yang akhirnya keputusan pada pagi itu.


“Nah itu.“


“Enak nih buat layar.“ Air masih besar. Dan itu sangat baik buat dilalui oleh perahu. Baik jenis mancung yang bentuknya panjang, atau compreng yang sejenis kapal tapi lumayan besar. Walau kalau dibandingkan dengan kapal laut masih kalah jauh, apalagi dengan kapal samudera. Setidaknya kapal jenis ini yang mampu melayari daerah tersebut. Dimana berikutnya akan sanggup masuk hingga ke pedalaman. Dan lagi, pada musin sekarang ini, akan sangat nyaman menyusuri daerah sungai yang semula surut. Karena debit air yang masih melonjak tersebut, mampu membuatnya mengapung hingga daerah yang menjorok hingga menembus perbukitan. Juga menjadikannya perahu tadi yang semula hanya di pinggiran pantai saja, kali ini siap menjelajah hingga ke hulu sebuah sungai. Sebab daerah tersebut masih dalam kondisi yang tak rata. Dimana pada satu sisi, dataran demikian rendah, namun pada jarak yang tak begitu panjang, sudah menyentuh sisi-sisi perbukitan. Menjadikan air demikian cepat terbuang. Walau demikian cepat juga dating air hujan karena berada di dekat garis pantai, dimana air akan sangat mudah dibawa menuju langit oleh cahaya pijar itu. Dan rintik-rintik hujan berikutnya akan dijatuhkan pada daerah tersebut.


“Kemana?“

__ADS_1


“Kita menyusuri sungai aja sampai mentok.“


“Lalu mancingnya?“


“Nanti kalau sudah sampai ujung sungai itu.“


“Tempat orang tenggelam dulu itu.“


“Ya jangan. Di dekatnya aja.“ Masa mancing di tempat orang tenggelam. Meskipun sudah sangat lama, tapi tempat tersebut sebagai penanda. Bahwa tak baik untuk dipakai sebagai aktifitas demikian. Bisa jadi karena arusnya kuat. Walau kali ini tak demikian terasa, namun terkadang karena dorongan energi dari laut demikian besar, maka akan membuat gerakan air yang aneh. Sehingga mampu membuat gerakan tak terduga. Dengan kekuatan air yang mengerikan dan membentuk semacam pusaran yang demikian misterius, akibat dari posisi daerah yang begitu rumit. Membuat air itu juga bergerak aneh. Sehingga terkadang menjadikan kekuatan dari gerakan tak terduga dengan dorongan yang tiba tiba mendorong dari belakang, akibat jalan yang semula dari depan lalu menghempas kuat ke ujung pantai, dan posisi yang tinggi itu mendorong balik gelombang, yang terus menderu hingga kekuatannya masih kuat. Dan saat dasar pantai yang tak rata, membuat beberapa ada cekungan, walau ada juga yang meninggikan hingga hampir menyentuh permukaannya. Amun itu juga yang membuat apa yang terseret, menjadi kesulitan menjaga posisi. Sehingga dia ikut hanyut lalu pada pijakan yang dia gapai terlampau dalam hingga tak bisa menyentuhnya. Untuk kemudian tergulung-gulung seirama kekuatan balik dari gelombang laut tersebut.

__ADS_1


__ADS_2