
“Lo kalian disini,“ ada teman yang dating. Si Scipio. Dia juga tengah mencari teman-temannya yang kali saja sudah duluan datang. Hiburan yang tak ada tiap waktunya. Walau itu agendanya tahunan. Bahkan kalau tengah musim akan ada tiap malam. Tinggal mau tidak berpindah-pindah tempat. Terkadang pada suatu selamatan desa, atau tengah meresmikan sesuatu. Bisa juga untuk tanggapan karena suatu resepsi. Maka akan ditanggap hiburan itu. Sebab selain dalang yang punya rejeki, juga akan berbagi dengan penayagan, sinden juga kru lain. Yang semua saling berbagi. Belum lagi buat panitia. Makanya terasa mahal untuk sebuah hiburan demikian. Tapi saling merasakan.
“Iya.“
“Suruh belajar malah disini. Besok praktek lemes lu. Sendiri?”
“Itu tadi dia di sini. Lo kemana anak itu.“ Ternyata sudah tak ada. Maklum penontonnya berjibun jadi bisa saja mereka hanya tertutup diantara mereka. Atau mereka memang sudah beralih tempat. Karena sumpek dan mau mencari pengalaman baru. Yang terang berpikir positif untuk tidak berhenti mencoba tempat lain.
__ADS_1
“Ya kali minta makan ke belakang panggung.“
“O“
“Yuk ah…“
“Kemana lagi?“
__ADS_1
“Makan lagi? Kacang tuh.“
“Kacang terus… Mie ayam sama es campur kek.“
“Kan sudah dibilang, nonton wayang itu makannya kacang. Kan ada conthong nya.“
Makan kacang itu kulit disebar di depan. Bukan di belakang. Karena mengenai orang lain. Atau kalau perlu di tempatnya. Sehingga lebih bisa dimanfaatkan. Kalau berserak, akan mengganggu orang yang ada setelahnya. Karena kulit itu tak bisa dimakan. Hanya untuk membiarkan lembek, dan jadi pupuk, maka bermanfaat. Atau hanya untuk sekedar menutupi sesuatu yang inti. Buahnya. Agar bisa sampai tua, lalu tumbuh lagi menjadi benih baru. Menggantikan yang sudah lama. Karena tiap satunya juga menghasilkan banyak jenis lain. Sehingga akan diteruskan tumbuh kembangnya jadi semakin banyak saja. Sehingga dari satu benih untuk selanjutnya akan menjadi banyak yang sanggup mencukupi satu menu dari satu hal yang mengenyangkan. Karena itulah yang satu bisa jadi banyak. Dan kulit hanya melindungi yang dianggap bermakna bagi keselanjut nya tadi.
__ADS_1
Memakai conthong. Yang seperti torong. Menggambarkan kalau tempat yang mengerucut akan mudah mengambilnya. Akan bisa lebih mudah dalam menempatkan. Juga bahan pembuatnya sederhana. Itu sangat mudah. Tinggal menggulung saja sebuah kertas bekas. Atau bahan dari kertas minyak. Dan menaruh makanan keras demikian sangat nyaman. Jika habis langsung buang.
Atau di balik. Maka akan membentuk semacam piramida. Sebuah bentukan lumrah yang sanggup mengatasi gaya Tarik bumi. Sehingga menjadi bangunan yang paling awet. Bentukan alaminya adalah menyerupai gunung. Karena bisa terbentuk secara alamiah juga. Hanya dengan bantuan angina serta rotasi bumi. Maka bentuk padat itu akan tersusun rata. Sementara bagian yang lunak dan luruh, turun, dan berserak. Menyisakan bagian terkuat dari bentuk kerucut itu. Makanya bentuk dasar dari gunung memang seperti itu. Demikian juga dengan bangunan piramida menjadi sebuah bentuk yang termasuk paling awet, karena tingkat kerusakannya sangat kecil.