
“Yuk pulang.“ Maklum dananya juga menipis. Tinggal 180 ribu. Itu mesti buat makan. Mengisi bensin, juga segala keperluan sampai rumah. Dana segitu mesti cukup.
Meninggalkan hutan dengan senang hati.
Lalu mereka mampir makan. Di situ ada kepiting, sop tege, ayam panggang, kuluban, kerupuk, sate kerang, degan dan semangka. Berikutnya nyanyi - nyanyi dulu. Lagunya yang bikin goyang. Sehingga goyang-goyang biar sehat badan, sehat pikiran.
Diambil nasi sepuasnya. Maklum masih bisa mengambil penuh, asalkan habis saja. Sayang kalau hanya disisakan buat makanan mentok atau ayam. Yang memang mesti memelihara unggas itu. Kalau-kalau banyak makanan sisa yang terbuang. Masih bisa untuk binatang tersebut. Sehingga hasilnya akan dijual. Atau dagingnya dimakan. Maka ada tambahan untuk pemasukan keluarga yang tentunya sangat penting kala situasi terjepit begini. Sudah makan enak, ada tambahan uang pula. Beda jika hanya mengandalkan gaji, yang sudah habis buat hutang yang 90 persen itu, maka akan merana kemudian. Sampai selesai semua, baru bisa.
Makan tentu banyak-banyak, sebab nasi disitu berlimpah, maklum rumah saja di tengah sawah. Itu berarti banyak hasil untuk makanan itu. Kalaupun tak mengerjakan sawah, maka oleh tetangga yang sawahnya ada disekitar pasti akan memberi barang beberapa sendok dari hasil panen itu. Disini orangnya asik-asik. Pada masih ingat tetangga. Juga pada ingat kalau tak punya tetangga. Soalnya jauh-jauh rumahnya. Para pemilik tanah pada kaya-kaya. Jadi dibiarkan menjadi hutan.
__ADS_1
“Kan enak. “
“Iya nih.“
“Asik sekali.“
Dimakannya sambil mengobrol. Dipilih dan diambil yang cocok saja. Tak perlu terlampau banyak. Nanti bisa-bisa tak mampir tempat makan lagi. Pakai sambal yang banyak. Biar mantap rasanya. Walau terlampau pedas dan langsung menangis dibuatnya. Tapi seakan melupakan kepedihan hati yang bikin sengsara. Makanya langsung hilang bersama cucuran air mata kepedasan.
“Wah sudah kenyang aku. “
__ADS_1
Maklum satu itu sama saja dengan satu gelas air besar. Terkadang lebih. Tergantung besar kecilnya si buah. Kalau lapar, iya, masih bisa nambah, karena perutnya belum terisi benar. Tapi jika sudah isi, itu akan mengurangi kapasitas. Jangan-jangan nanti isinya menyangkut di leher, karena tak cukup ruang.
“Isinya saja.“
“Nih dibelah.“ Dibelah nya kelapa itu. Hanya satu ayunan saja. Sebab goloknya juga sangat tajam. Dan batok kelapa itu masih lembek. Tempurungnya itu belum bisa dibuat irus buat masak.
“Yah, sayang. Yang separuh sudah tua-an.“
“Tapi asik ini yang masih muda. Benar-benar lezat. “ Kelapa muda itu di belah. Lalu hanya dengan memakai sendok yang gagangnya lemah dan seakan mengiris kulit saja kalau dipakai buat mencungkil isi kelapa muda itu. Memang aneh. Isinya seakan terbagi dua. Seiring cara membelah kelapa itu. Airnya sih sangat nikmat. Makanya satu saja rasanya kurang. Tapi kalau masalah isi, yang separuh saja yang masih lembut. Itu pada satu sisi ternyata sudah penuh dalam mengeluarkan buah. Dan sebentar lagi akan tua. Yang bisa dipakai untuk berbagai olahan. Membuat santan, kopra sebagai minyak goreng, juga bisa untuk parutan penikmat lupis. Barulah yang stau itu sangat asik saat di kerok pakai sendok langsung kena. Mungkin akan lebih nikmat jika di taruh dalam tempat menggunakan es batu, dan campuran sedikit susu. Rasanya tambah segar.
__ADS_1
“Tanpa perlu di olah. “
“Iya. “