
Beberapa kisah wayang ada yang berubah. Misalkan Lelananging Jagad itu Arjuna. Tapi pada kisah aslinya yang paling tampan adalah Nakula, Si Kembar yang di wayang kembar identik. Tapi pada Mahabharata tidak sama termasuk jenis sosok, kepandaian, bahkan nasib nya. Karena Sadewa berhasil membunuh Sangkuni, sedangkan Nakula, si paling tampan dalam kisah, justru tak pernah berbuat apapun, baik itu membunuh tokoh utama, mencari perempuan calon wiji ratu dengan berbekal ketampanan, atau juga menguasai suatu dampar kencana sebagai simbol lelananging jagad. Makanya Lelananging Jagad pada kisah pewayangan beralih ke Arjuna, yang jelas-jelas menurunkan Parikesit lewat Abimanyu yang menjadi raja penerus. Dia bukan yang paling tampan, tapi ahli panah dan perang. Serta pada berbagai kisah, justru di sukai banyak wanita. Para bidadari bahkan Drupadi lebih memilih Arjuna, daripada si tampan. Sehingga pilihan paling tampan tertuju pada satria penengah itu. Apalagi dikatakan bahwa kembar adalah anak dari istri kedua Madrim, yang secara logika bukan dari permaisuri. Serta penyebab kematian pandu. Dengan demikian semakin menipiskan kemungkinan untuk menjadi tokoh utama dengan harapan bahwa pewaris tahta adalah keturunan dari istri yang utama. Dan berikutnya yang menjadi banyak peran adalah satria penengah itu. Dimana sebelum perang akhirnya dia juga yang banyak mendapatkan banyak wanita. Kemudian kedudukan. Serta senjata yang ampuh untuk digunakan dalam perang yang bisa membasmi lawan tangguh pendukung kurawa sehingga mereka akhirnya punya lebih banyak pasukan dan dukungan dari raja-raja yang sakti dan ternama. Juga Bima. Dimana seratus Kurawa di bunuh olehnya seorang. Sebagai gambaran bahwa seratus itu sebenarnya Cuma satu. Baik dari Rahim yang satu, maupun dari gumpalan yang satu dan terlahir akibat amarah sang ibu dengan menendang gumpalan daging menjadi banyak, tapi pada hakekatnya hanyalah satu. Walau sebenarnya kisah itu dibuat agar tetap menarik. Sehingga di akhirnya akan ada banyak yang sulit di tebak. Hanya karena terlampau panjang untuk masa itu, sehingga tak jarang jika ada kemiripan kisah dan ada sedikit kerancuan. Bayangkan bila sang guru yang sangat menyukai Arjuna, akhirnya harus sedih karena dia lebih suka anaknya yang menjadi penyebab kematiannya akibat ditipu dengan sanga anak yang dikatakan meninggal terbunuh. Walau akhirnya anaknya dikatakan tak pernah mati. Sebagai harapan akhir dari sang ayah yang tak menginginkan anaknya itu sengsara. Sehingga akhirnya doa orang besar terwujud dengan berkat itu, yang menjadikan anaknya abadi. Hanya karena kekeliruan memilih anaknya yang berada pada jalur salah, membuat dia hidup abadi namun berada pada sebuah kutukan mengerikan, yang membuatnya mesti bersedih karena tak disukai siapapun. Bahkan dalam pewayangan akhirnya dia terbunuh. Berbeda dengan arjuna yang dikatakan sangat disayang gurunya bahkan ketika ada yang menyamainya baik kemampuan panah, sampai kecerdasan otak, yang hanya memandang patung nya saja sudah bisa menguasai keterampilan ilmu guru besar itu, harus berakhir kesaktiannya akibat hilangnya jari. Dan akhirnya Arjuna tak tersaingi kemampuannya. Akhirnya begitulah, Lelananging Jagat akhirnya jatuh ke Arjuna. Bukan ke Yudistira si anak pertama. Juga Bima si kuat. Atau nakula yang paling tampan serta sadewa si bungsu yang berhasil membunuh Sangkuni penyebab perpecahan keluarga. Ini karena banyak yang menyukai kisah nya dibandingkan dengan saudara nya yang lain, terutama si tampan tersebut.