
“Wah yang habis pesta.“
“Hehe…“
“Nggak ngajak juga.“
“Maklum undangan khusus,“ jelas Antony yang termasuk di dalam nya. Kalau membawa teman, bakalan di ledekin sama yang lainnya nanti. Sementara yang lain tak membawa siapa-siapa.
“Dekat sawah kan?“
“Iya. Lagian terbatas hanya rekan saja.“
“Berapa?“
“14 orang tapi cuma pesan 6.“
“Wah.“
__ADS_1
“Juga mahal.“ Makan begituan di tempat yang mewah tentu saja sangat mahal. Tidak cukup kalau hanya puluhan ribu. Apalagi banyak. Yang jelas nuansa yang lumayan nyaman, membuat pertemuan antar rekan di desa menjadi sedikit terkesan. Apalagi kadang kala tak pernah sekalipun para rekan itu kumpul untuk makan bersama seperti kali ini. Maklum, selain akibat larangan penyakit, juga bisa jadi karena kurang nya pengeluaran dana. Meski biasanya bisa pakai patungan, dimana satu orang mau membayar 200, dan kalau terkumpul maka sudah bisa untuk makan bersama. Hanya saja tiap orangnya biasanya punya kebutuhan tersendiri. Dimana isi kantong tersebut bisa dipakai buat urusan lain. Semisal bayar hutang online, atau untuk membeli beras. Kan bisa untuk satu bulan.
“Terus aku?“
“Kita pesta yang lain saja.“
“Apa itu?“
“Ini…“ Mereka singgah ke warung tepi jalan. Lalu mengambil yang tersaji di situ. Lumayan di kala tengah menjaga isi kantong yang Cuma sedikit itu, makan di sini agak sedikit bisa menstabilkan suasana, namun masih bisa makan bersama.
“Lah gitu,“
“Masa makan nanas.“
“Kenapa?“
“Gatal,“ kata Claudia. Apalagi kalau pas membersihkannya tak sampai bersih mata nanas itu. Kalau di gigit gatal sekali rasanya. Ting clekit, apalagi kalau langsung banyak, bibir bisa jontor. Kan sayang lipstiknya kalau sampai demikian. Maklum namanya juga buah bikin gatal.
__ADS_1
“Eh ini manis, coba deh,“ ujar Antony mencoba menghibur. Jangan sampai yang di hibur itu tidak merasa terhibur, kan sayang.
“Kan?“ Sebenarnya lebih enak lagi kalau buahnya banyak. Namun di situ hanya ada buah ini saja. Karena memang hasil panen yang sengaja langsung di jual di tepian jalan. Berbeda dengan yang memang sengaja membuat rujak buah-buahan. Disana tak hanya satu macam buah. Namun banyak. Walau jumlahnya tak begitu banyak pada tiap buah tersebut. Tapi dengan sedikit demi sedikit, namun beraneka, membuat satu tempat yang tadi hanya nanas tersebut, penuh juga oleh buah-buah yang banyak. Serta membuat rasanya sedikit bermacam-macam, dan di gigit juga berlainan.
Claudia hanya mengangguk saja. Sembari memenuhi mulutnya dengan nanas kupas yang sudah bersih dan tak gatal. Rasanya hanya manis dana sin saja dengan taburan air garam di atasnya. Kalau Cuma di balur dengan garam dapur saja, maka sebagian saja yang rasanya asin. Asin berpadu asam biasanya menjadi manis.
“Apalagi kalau pakai sambalnya.“ Di cocol pakai sambal bawaan yang di bungkus plastik. Bentuknya cair kental. Lebih mantap rasanya. Apalagi daerah situ suka nya pedas. Jadi menjadi perpaduan antara pedas, asam manis.
“Lutis ya?“
“Rujak.“
Mereka terus menghabiskan nanas manis itu. Di cocol dengan sambal. Dan pas setelah makan. Kalau belum akan perih rasa lambung. Apalagi buat yang bermasalah. Semakin terasa.
“Kan enak.“
“Enak lah orang nggak ada yang lainnya.“
__ADS_1
“Ya besok kita nyari yang lain,“ kata Antony, mau tak mau menghabiskan nanas yang sudah di beli. Sayang.