Senja Muram

Senja Muram
Baru


__ADS_3

“Eh, Antony...“ banyak anak yang sudah menunggunya pada suatu ujung kelas tepat di arah lorong masuk menuju kelas mereka .


“Ada apa?“ ujar Antony yang keheranan dengan anak muda tersebut dengan banyaknya aneka pemikiran di tiap-tiap manusia nya.


“Murid baru,“ ujar mereka dengan mengatakan hal yang juga terasa aneh akan kedatangan orang yang mereka sebut sebagai orang baru tersebut.


“O“

__ADS_1


Antony hanya mengangguk-angguk memang tak biasa ada murid baru di tempat tersebut khususnya untuk kelas mereka yang penuh seleksi itu. Sebab biasanya mereka sampai usai sekolah, tak menerima tambahan siswa baru. Kalaupun ada maka dicari yang sekolahnya satu golongan dalam nilai akreditasinya. Dimana sekolah tersebut sudah paling tinggi angkanya. Jadi buat sekolah yang nilainya dibawahnya tak bakalan diterima. Mereka akan lebih menyukai jika sekolah itu tak menambah siswa. Dan baru mencari sebanyak-banyaknya kala ada pendaftaran baru saja.


“Dari Ibu Kota,“ ujar yang lain dengan sudah paham akan kehadiran rekan mereka yang semakin terasa keanehannya tersebut.


“Wih, kelas dua belas gini pindah?“


“Iya lah.“

__ADS_1


Yang dilakukan berikutnya semua sudah menggunakan rencana dipikiran masing-masing. Entah apa yang harus dilakukan. Kalau pada anak-anak siswa baru tentu ada pelatihan khusus bagi mereka. Sebab mereka dari awal. Dan kali ini dia yang sudah sama-sama dengan mereka pada tahapan kelasnya. Dia dahulu saat kelas satu mungkin juga sudah mengalami hal yang sama dalam melalui masa pengenalan lingkup sekolah. Jadi ada sedikit hal berbeda dalam memperlakukannya. Serta sedikit berbeda pula untuk materi yang harus dilakukannya.


“Besok kalau kita merantau ke kota kan kita yang dikerjain sekarang dia dulu,“ ujar orang-orang itu berpendapat pada yang belum terjadi. Seakan memang itu tujuan mereka. Memang sebagian besar dari lulusan tersebut mungkin mengarah pada daerah ramai itu. Sebab disana lowongan lebih banyak serta sangat terbuka buat anak-anak remaja yang banyak memerlukan pengalaman.


“Iya. Masa dulu kita juga kena ploncoan lama lagi sampai dua minggu di gulung-gulung sama petugas berseragam itu kan,“ masih teringat dipikiran mereka bagaimana kerasnya untuk masuk ke sekolah tersebut. Dan itu bakalan menjadi kenangan tak terlupakan. Serta menjadi kebanyakan banyak diantaranya, dimana mereka sanggup mengatasi apa yang menjadi tantangan dalam menuntut ilmu di lingkup sekolah keren tersebut. Sehingga ada sedikit kebanggaan atas almamater yang kini mereka jalani. Dan pada berikutnya jiwa disiplin yang tertanam bisa untuk menjalani pendidikan di sekolah tersebut. Untuk kemudian menjadi persiapan buat mengarungi dunia kerja yang sesungguhnya berikutnya.


“Kita ospek dia,“ itu yang bakalan mereka lakukan pada anak baru yang mesti mengenal lingkungan kampusnya agar bisa lebih beradaptasi.

__ADS_1


__ADS_2