
“Kotor ah, mandi dulu,“ ujar Wa Ta’i memandang diri yang kotor, diantara sampah bau dan tanah yang memenuhi bekas lubang sumur itu. “Kita lanjut menggalinya besok saja ya. Aku mau mencari orang. Paling tidak, mesti ada delapan orang buat menggali sumur sedalam itu.”
“Ya sudah. Ayo susuri sungai. Kita ke kedung saja. Disana airnya lumayan banyak dan juga isinya berbagai air yang jernih berbaur dengan kotor.“
“Ih, jangan disana dong.“
“Kenapa?“
“Ada buayanya.“
“Mana?“
__ADS_1
“Dulu itu kita jelas-jelas melihatnya dan tengah asik berenang sampai perut kembung,“ jelas Claudia yang masih merasa ngeri kalau mengingat saat itu. Masa dimana melihat sesuatu yang tak biasa dilihat namun kini di alam liar bertemu dengan binatang macam demikian.
Namun Wa Ta’i terus saja berjalan menuju ke arah kedung. Baginya itu adalah suatu tempat yang lumrah. Lumrah pada daerah itu ada genangan air dan banyak difungsikan untuk berbagai keperluan. Tempat itu dengan alaminya membentuk suatu cekungan yang menyimpan banyak air. Tak hanya musim penghujan. Di kala kemarau juga masih tergenang airnya. Jadi bisa dimanfaatkan buat berbagai keperluan. Khususnya buat keperluan sehari-hari. Mungkin dimana masih ada hujan, air tersebut bisa untuk mandi. Namun kalau musim kemarau dimana air susah, maka tempat itu di pakai buat minum, memasak, yang jelas buat dikonsumsi. Sebab dimana lagi mau mendapatkan air, kalau bukan alam yang masih sayang pada sekitarnya dengan menyimpan semua itu. Tinggal semua yang mesti memanfaatkan sesuai keperluan.
Sesampainya di kedung itu, Wa Ta’i langsung masuk saja dan tak perduli pada kata-kata orang baru. Dia merasa sudah pengalaman. Dan lama malang-melintang di dunia sekitar kedung itu. Tak pernah dia mendapati sesuatu yang mengerikan demikian. Apalagi cuma katanya – katanya yang kebenarannya bagi dia sangat disangsikan. Lebih baik kalau membuktikan sendiri, dan semua itu tampak nyata seperti terlihat kali ini. Dimana hanya ada sunyi, sepi dan dinginnya suasana.
“Ah, ini baru segar,“ ujar Wa Ta’i langsung saja masuk berikut pakaian yang melekat. Dan membersihkan diri serta cangkul yang sedikit kotor tadi. Semua kotoran langsung lenyap terbawa derasnya air.
“Tak lah,“ kata Wa Ta’i terus saja berenang kesana-kemari menjelajah luasnya telaga kecil itu dan membersihkan badan dari segala kekotoran duniawi yang melekat hingga bersih kembali.
“Berarti hantu itu, yang kita lihat dulu,“ ujar Claudia tadi memastikan dan dia juga meyakini kalau kali ini sama sekali tak melihat binatang mengerikan itu.
__ADS_1
“Ya kali,“ kata Antony yang juga keheranan, sebab dulu dia juga melihatnya dan bukan kata orang lagi, tapi melihatnya sendiri.
“Ih gua memegang sesuatu!“ Tiba-tiba Wa Ta’i berteriak. Seakan ada sesuatu yang dia raba. Tangannya seakan merasakan ada hal aneh.
“Apa itu?“
“Tahu...“ ujar Wa *** terus saja berusaha memastikan apa yang tengah dia dapatkan.
“Jangan-jangan itu moncong buaya!“
“Iya. Hati-hati Wa!“ Keduanya terus berteriak. Antara khawatir dan rasa penasaran. Kira-kira apa yang tengah di pegang oleh orang tua itu. Khawatir kalau-kalau itu binatang panjang yang mereka lihat dulu. Namun penasaran dengan apa yang di katakan oleh Wa Ta’i tadi.
__ADS_1
“Kayaknya bukan sih. Rasanya beda.“