Senja Muram

Senja Muram
Pria sejati


__ADS_3

“Yuk pergi lagi.“


Antony membawa kendaraannya. Mereka suntuk di rumah.


“Yuk… kemana?“ ujar Claudia yang juga menderita sama. Maklum kalau di rumah tak ngapa-ngapain bakalan merasa seperti itu. Mesti ada kegiatan. Mesti bisa menggerakkan badan. Dan kalau perlu olah raga berat. Semisal lari pagi atau makan kerupuk sambal di gantung. Itu bakalan cukup membuat keringat dingin.


“Kemana yah yang belum?“ Antony juga bingung. Mau kemana-mana hampir tak ada yang belum di lewati. Mungkin kalau jaraknya jauh – jauh yang belum. Misalkan ke sendang kembar atau air terjun yang hilang lah belum.


“Ke ikan bakar saja,“ itu yang lagi banyak peminat. Bisa jadi rumah yang luas dengan penambahan terus menerus menghabiskan tanah milik, maka bakalan bisa mencukupi kebutuhan para pengunjung. Apalagi dengan jumlah karyawan yang terus di perbanyak. Sehingga berapapun pengunjung yang datang baik itu Cuma pesan 6 ons sampai dengan 4 kilo akan segera di layani dengan cepat juga. Tanpa menunggu antrian yang panjang seperti mau menonton film heboh.


“Ogah.“


“Kenapa? Kan nanti bisa kita bungkus sisanya kalau tak habis.“ Biasa, karena jatahnya ikan kecil saja sudah bisa mencukupi perut, maka kalau pesan ikan besar tentu tak akan habis. Kalau di tinggal saying. Dibungkus bisa untuk kucing atau peliharaan lain. Dan bisa buat esok pagi atau pas jam tiga.

__ADS_1


“Mahal.“


Maklum, memang sering ke situ. Dan kalau bukan tanggal muda akan sulit menentukan isi kantong. Apalagi ikannya enak-enak yang bilamana tak terkontrol akan habis banyak. Bisa dua atau tiga, yang setara dengan satu kilo. Tentu saja sangat membuat kekenyangan serasa enggan untuk makan lagi selama dua hari. Sementara kalau Cuma pesan yang kecil saja masih kurang, sedangkan menunggunya sangat lama. Belum lagi kalau antrenya panjang sementara mendapat jatah nomor paling akhir. Itu membuat sangat menggelisahkan diantara perut yang terus minta di isi. Sedangkan kalau makan lalapan terus, kurang nyaman rasanya walau pun sudah dengan sambal yang demikian pedas dan sangat nikmat tersebut, tetap saja ada yang kurang. Sebab mereka ke situ untuk ikan.


“Atau nonton lagi.“


“Apalagi itu.“


“Antrenya lama. 3 jam. Keburu lapar kita. “


Biasa. Setelah larangan itu, tempat tontonan langsung membludak. Yang biasanya sepi, kursinya satu di kasih silang, satu tidak, kini sudah bisa semuanya. Yang biasanya bisa ngorok sedikit kalau pas nonton, sekarang sudah tak bisa, karena tiap ketawa yang menonton sudah bisa membangunkan orang.


Akhirnya sejauh itu tak ada tempat berhenti. Hanya jalan dan jalan saja diantara para penunggang motor yang memang asik untuk jalan-jalan melewati hari sembari berpikir bagaimana jajan sementara tak ada uang. Atau ada tapi mesti buat bayar cicilan yang tak sampai-sampai.

__ADS_1


Akhirnya hanya duduk-duduk saja di tepi jalan, pada suatu daerah sepi yang panoramanya indah. Gimana lagi, begini saja sudah asik. Memperhatikan orang demi orang. Yang lewat dan yang hanya melintas. Atau sekedar mengantar siapa ke mana.


Disitu biasa anak muda pada pacaran. Tapi kali ini mereka enggak.


“Nah sini saja. Sambil melihat alam.“


“Eh banyak orang mencangkul.” Tunjuknya. Disana orang-orang kuat dengan kulit kehitaman tengah keluar keringat banyak di bawah terik matahari. Mereka menggarap ladangnya.


“Itu namanya juga lelaki sejati.“


“Gitu yah.“


“Iyalah. Kan memberi nafkah keluarga.“

__ADS_1


__ADS_2