Senja Muram

Senja Muram
Ceker


__ADS_3

“Nah ini mie ayam ceker.“


Kini mereka masuk ke sebuah rumah makan mie sama bakso. Demikianlah. Biasanya kalau di situ ada mie ayam, maka sembari menyediakan bakso. Memang tak harus. Tapi sudah menjadi kebiasaan. Jadi kalau diantara sepuluh penjual dagangan itu, maka bisa delapan sampai Sembilan yang menyediakan bakso. Sebab bahan-bahannya mirip, dan prosesnya mudah. Serta banyak yang menjajakan demikian. Selain harganya terjangkau, masakan itu bisa diterima oleh orang-orang situ. Baik di kota maupun di desa. Semua bisa menerimanya. Walau kebanyakan yang membeli mungkin dari lapisan menengah ke bawah. Dan orang penting hanya sesekali saja menginginkan masakan ramai ini. Hanya sebagai keinginan. Sebab kalau terus menerus juga akan menderita perut mules, nggak nyaman, serta ingin terus. Terutama kalau saos nya kebanyakan dengan sambal yang menyertainya.


“Lo ceritanya makan terus,“ kata Claudia.


“Agendanya begitu.“


“Ya sudah dua.“


“Habis lu dua,“ tanya Antony.

__ADS_1


“Buat kau juga.“


Setelah pesan, sembari menunggu, mereka makan cemilan. Serta es the buat menghajar nanti kalau terlampau pedas dan kepanasan serta keringat bercucuran.


Seteklah jadi di kasihnya saos banyak-banyak. Sampai saat di aduk merah semua dengan bentukan yang begitu cakep. Dan di tambah sambal bagi yang doyan pedas. Tapi kalau tak ngin, maka hanya saos saja sama kecap agar tak pedas-pedas amat sembari ada rasa lain yang menyertainya. Kalau perlu bahkan di tambah acar dan cuka. Sehingga menambah asam sedikit. Berbagai rasa akhirnya di rasakan di seputaran lidah pengecap itu.


Merekapun makan dengan lahap. Tak ada rasa lagi selain nikmat untuk waktu itu. Yang ada, serta yang sudah umum. Masakan itu sangat laris. Sehingga tak hanya di kota, menelusup ke perkampunganpun sudah bisa ditemukan. Bahkan pada warung tengah hutan juga ada. Semua senang semua menggemari. Kalaupun tak suka, maka hanya sebagai pelampiasan rasa ingin saja. Itu sudah cukup. Sebab mereka juga akan membutuhkan makanan lain sebagai menu yang berbeda, sehingga asupan gizinya juga beragam. Maklum ada uang. Mereka tak kekurangan. Makanya selagi ada, juga apa yang diinginkan terpenuhi. Bahkan untuk sekali makan yang menjangkau jutaan dalam restora mewah. Itu tak jadi soal, selagi rasa ingin sudah terpenuhi. Dan masakan ringan seperti mie itu juga hanya untuk pengganti rasa ingin saja. Dan sewaktu-waktu butuh, langsung bisa disediakan.


“Habis? “


“Cekernya doang kali ya?“

__ADS_1


“Enak sih. “


“Cuma harganya tersendiri tuh.“


“Ya lah. “


Begitulah. Mereka tak jadi nambah. Hanya memakan cekernya saja sebagai cemila dan dimakan dengan di gado. Atau langsung saja tanpa meminta mie lagi. Sebab mie sudah sama dengan nasi. Hanya bentukannya yang beda. Namun bahan pembentuknya sama. Kebanyakan karbohidrat. Dan itu menambak rasa kenyang. Yang akhirnya menjadikan sebuah perut melar, seperti karet. Namun bagi yang doyan nasi, serta kesehariannya memakan tersebut, hanya akan menderita kelaparan lagi dalam jangka yang tak demikian panjang. Demikian juga dengan yang tak biasa makan roti, untuk sarapan, juga akan cepat lapar. Itu untuk sementara waktu. Saat merek banyak –banyak makan. Maka kenyang hanya berkisar beberapa jam saja. Lain kalau sudah makan nasi, mereka akan tahan sampai waktunya makan siang, atau sore. Ini sudah menjadi kebiasaan. Sehingga saat perut belum tersentuh nasi, dianggap belum makan. Kebiasaan.


Merekapun pulang.


Tidur.

__ADS_1


__ADS_2