
“Awas pak Comodus KDL datang. Galak dia!“
Belum juga usaha penggemblengan dilakukan sudah datang suatu yang sangat mengerikan di depan mereka. Dia berjalan dengan penuh wibawa, sembari membawa cewek cantik di sampingnya. Semakin nampak menyeramkan dia. Belum lagi kalau pas membantu para petugas. Demikian berwibawa dia dalam menangani para warga yang tidak berdisiplin. Dengan berdiri di tengah jalanan dan mencegat mereka.
“Anak-anak,“ ujar pak Comodus itu pada depan ruangan kelas mereka seperti kebanyakan guru yang hendak memberi pembelajaran. “Ini teman baru kalian dari kota.“
“Namanya siapa?“
__ADS_1
Banyak yang bertanya-tanya. Terutama para pemuda. Tatapannya aneh. Hatinya berdebar-debar. Dan tatapannya semakin tak mengenakkan bagi yang ditatap. Dan yang cewek hanya diam saja tak perduli dengan bakal saingan di depan mereka kini. Entahlah. Dalam hati mereka saja yang memahami.
“Namamu... “ mengulang pak guru.
“Kleo...“ ujar anak perempuan tersebut dengan penuh percaya diri. Maklum anak dari kota yang tak heran melihat anak-anak desa. Kalau saja orang tuanya tak pindah. Maka semestinya dia masih ada di daerah ramai tersebut. Dan tak perlu mesti mengulang lagi untuk memahami sekolah yang sunyi sepi tersebut. Dengan dipenuhi anak-anak kampung yang kurang pemahaman akan teknologi canggih. Serta apa yang sudah keluar dari suatu produksi penuh dengan modern nya suasana. Sebab daerah tersebut tentu lebih dekat dengan pabrik pembuat produksi barang mewah tersebut. Dan setelah dari sana untuk lambat lainnya juga akan menjangkau daerah. Hanya lama atau cepatnya tak bisa menjadi patokan. Tapi semakin dekat dengan canggihnya teknik komunikasi, membuat pergerakan peralatan modern itu semakin cepat menuju ke pelosok. Dengan bicara demikian, maka buat yang daerah ramai itu akan merasa lebih cepat. Meskipun tak terlampau lama.
Pesan pak Comodus pada mereka-mereka yang terkenal sangat usil di sekolah tersebut. Kalau tidak diberi pesan, bisa sesuka hati mereka memperlakukan anak baru. Diberi pesan juga terkadang masih melakukan hal aneh yang menyimpang dari tata tertib yang berlaku pada intra sekolah itu.
__ADS_1
“Terutama kau Ant!“ ujar pak Comodus langsung mengarah pada Antony yang sudah terkenal, kalau ada cewek sukanya banyak tingkah. Apalagi kali ini. Anaknya cakep. Dari kota lagi. Yang sudah pasti tak bakalan kekurangan gaya mode. Apalagi jika dibandingkan dengan anak-anak sekolah tersebut.
“Waduh, kok gua sih,“ ujar Antony terkejut. Mana dia belum sempat menata jantung lagi untuk membiarkan terus berdegup kencang. Sudah dituduh saja. Bisa gawat kalau anak itu sampai mengadu. Dia yang bakalan dituduh.
“Siapa lagi. Lu yang sering cari gara-gara,“ ujar pak Comodus sudah terlampau yakin dengan perkiraannya yang tak perlu diragukan. Jangankan hanya mengira hal sepele begitu. Tentang rumus yang rumit dan sinus cosinus juga dia sanggup memperkirakan. Dan tingkat melesetnya sangat sedikit. Kurang dari beberapa persen saja. Untuk itu kini dia sangat yakin bagi anak muda tersebut.
Antony hanya terdiam. Dia menurut saja, kalau orang tua itu menduganya yang kagak-kagak. Seakan dia menjadi anak yang demikian penurut. Mematuhi apa yang gurunya ucapkan kata demi kata tersebut. Meskipun dalam hati sedikit berkecamuk.
__ADS_1
Yang lain juga terdiam. Seakan demikian mematuhi apa yang bapak guru galak itu ucapkan. Agar semakin terdiam sampai yang diharap pergi.