Senja Muram

Senja Muram
Banjir air


__ADS_3

“Wah banjir. Perasaan tadi nggak hujan yah?“ ujar Antony keheranan saat akan melintasi jalanan rendah tahu-tahu sudah banyak genangan air yang menghalangi mereka.


“Sedikit tadi, rintik-rintik.“


“Gerimis.“

__ADS_1


“Lah itu.“


“Banjir besar gini.“


“Banjir kiriman paling.“

__ADS_1


“Ya gitu.“


Mereka berhenti sejenak. Melihat lihat banjir. Kira-kira bisa tidak dilewati. Sebari menunggu kalau-kalau ada motor yang berani melewatinya. Sepi. Tak ada satu otorpun yang melintas. Ini tak bisa menjadi patokan untuk lanjut atau tetap disitu menunggu banjir surut. Karena sungai sudah diperlebar. Juga tanggulnya ditinggikan. Serta kedalaman sungai yang sudah cukup. Hanya memang curah airnya saja yang debitnya demikian melimpah, sehingga air tak bisa tertampung. Namun demikian menjadi sebuah catatan, bhwa hal ini tak menutup kemungkinan sebentar lagi bakalan surut. Itu sudah kebiasaan. Banjir ini aka lekas pergi, seiring dengan sungai yang sudah sangat ebar dan dalam, serta tak banyak penghalang yang merintanginya.


Ada orang berjalan dengan membawa keranjang dan celana digulung.

__ADS_1


Anak-anak asik main. Dengan didampingi orang tuanya yang tak cemas. Biasa anak-anak.aneh-aneh. Dimana orang tuanya terkadang cemas. Sampai mesti menemani hingga ke daerah banjir tersebut. Tidak di desa tidak di kota, yang namanya anak-anak ada tak perduli akan air. Kalau di seda mereka enak sanja berenang. Seakan banjir itu suatu kolam renang yang maha luas. Dimana tak perlu lagi mengisi kolam dengan air sumur yang tiap ember timba mesti dibawa. Mereka akan terus bermain. Bahkan di jembatan yang deras itu mereka asik saja menceburkan di ri ke sungai yang keruh membawa air. Satu persatu anak-anak tanpa baju itu naik ke tepi jembatan, dan saat telah tiba, mereka meluncur asik. Lalu menghilang di kedalaman sungai, dan muncul kembali di tepiannya untuk kembali naik. Bahkan ada kalanya sembari main-main, ada anak yang baru saja terjun dari jembatan itu sudah disusul teman yang lain, dan tak menutup kemungkinan di kedalaman nanti kaki si anak yang terjun belakangan sampai menjejak badan perenang sebelunya. Namun seenaknya saja keduanya naik ke perukaan untuk tertawa-tawa. Seakan benda berbahaya itu menjadi sebuah permainan asik. Maklum sudah biasa. Daerah itu merupakan langganan banjir. Sehingga tak jarang dalam satu tahun sampai lima atau enam kali terkena bencana ini. Dan anak-anak seperti mengalami evolusi dimana kemudian lambat laun bisa menyesuaikan diri dengan bencana. Diana justru menjadi ajang yang asik bagi mereka. Yang tak jarang saling berlomba dalam berenang atau justru setelahnya membuat rakit dari pelepah pisang yang dirangkai, kemudian dinaiki hingga ke sungai besar. Yang mengerikan tentu saja anak-anak kota. Dimana air dating dengan cepat. Melintasi lorong lorong gang. Kemudian menyeret segala yang ada. Dan anak-anak itu menyusurinya dengan riang sembari membiarkan diri terhanyut.


Baru lewat. Setelah yakin kalau tak akan mati mesin di tengah banjir itu, asalkan dalam main gas mesti stabil, serta tidak berhenti di tengah-tengah genangan air itu. Dalam perjalanannya mesti pelan. Satu roda itu banjir nya. Air berkecipak. Terbelah oleh laju roda yang menjadi bersih karenanya. Mesin mesti stabil. Dalam kecepata yang relative rendah. Juga mesti menguasai diri. Jangan sampai pada tengah-tengah nanti akan terperosok. Maklum di tengah perjalanan ada sedikit lobang yang lumayan dalam dan tak lebar. Itu bisa menjepit roda. Juga ada yang sudah di isi dengan kerosok, tapi tetap saja kerikil besarnya bisa menghalangi roda untuk tidak jalan, serta berhenti di tempat. Itu yang kemudian menjadi kendala kala roda melaju. Disini biasanya banyak motor menjadi mogok. Kemudian mencoba di stater lagi. Dan tak bisa. Akhirnya mesti turun mesin. Dimana selain mahal juga dalam waktu lama tak bisa digunakan.


__ADS_2