Senja Muram

Senja Muram
Pesawat aneh


__ADS_3

Antony dan Si Claudia jalan-jalan dengan motor merah itu.


Berhenti di sebuah pesawat yang dijadikan simbol tepat di depan pintu masuk jalan simpang itu.


Mereka lalu duduk.


Selfie--selfie dengan HP canggih mereka, sembari memandang jalan yang ramai orang lalu lalang.


Kemudian Antony membuat pertanyaan. “Pesawat. Pesawat apa yang tak bisa terbang?“


“Ini, pesawat dibelakang kita tak terbang,“ tunjuk si Claudia pada pesawat yang tak ada mesinnya namun sangat cantik sebagai pengingat kalau pesawat kuno tersebut dahulu pernah menguasai angkasa dalam perjalanan indahnya.


“Bukan pesawat telepon, televisi atau pesawat radio?“


“Ya bukanlah.“


“Tapi kalau radio bisa tuh melayang ke jidat.“


“Itu kalau mamak kau tengah marah.“


“Gunung nih sekarang,“ kata Antony lagi. “Gunung, gunung kembar apa yang tak bisa didaki.“


“Semua gunung bisa didaki lah ya. Paling- paling gunung kembar gambar Tino Sidin yang tak bisa.“


“itu kan dari kisah nyata.“


“Kata siapa?“


“Kata orang-orang. Itu gambar gunung Susundara Sumving yang kalau di pandang dari salah satu tempat di temanggung sangat persis penggambarannya. Dengan persawahan, hutan, jalan yang sama. Dan itu dianggap gambar yang sama tepat dengan keadaan di lukisan tersebut.“


“Ya kalau nyata. Orang itu hanya hayalan yang kebetulan sama dengan kisah demikian. Sebab jaman itu lukisan tersebut sangat popular sebagai bahan ajar dan lukisan yang sangat mudah untuk diikuti. Sehingga anak-anak di sekolah juga menggambar dengan pola demikian kala ditugasi oleh gurunya untuk menggambar pemandangan alam.“


“Kan sama.“


“Mirip doang kali. Mana pernah dia sampai sana.“


“Apa hayo?“ ujar Antony.


“Apa! Belum tanya juga,“ ujar Claudia.


“Kenapa hayo?“


“Kenapa apanya?“


“Jika tidur dia bangun jika bangun dia tidur.“


“Gua nggak mau jawab ah.”


“Jawab dong.”


“E.. kalau bukan itu, apa yah?”


“Ya apa?”

__ADS_1


“Orang terkena senapan angin.”


“Apanya yang tidur.”


“Senapannya dong.”


“Bukan.”


“Orang sedang menanam padi di sawah.”


“Apanya yang tidur?”


“Padi.“


“Bukan. “


“Jadi apa dong?”


“Telapak kaki. Kan kalau kita tidur, dia bangun. Soalnya kalau sama-sama bangun, akan sulit. Masa telentang sambal jalan.”


“Ih gemes gua!“


Mereka main cubit-cubitan.


“Tuh kan nggak ada mesra-mesranya lu yah. Main cubit sampai biru kehitaman gini.“


“Mangkel gua!“


“Lengan lengan apa yang merah hitam?“


“Binatang apa yang ekornya lima?“


“Main togel kan lu. Mau bilang kambing kan yang 35 gitu. Kepalanya tiga ekornya lima.“


“Apa yang ada dilantai tapi tak kotor?“


“Wih nggak ada lah“


“Ada“


“Semua yang ada di lantai, pasti kotor. Karena ke injak-injak, kena debu, juga kena keringat orang lewat.“


“Ini ada yang tidak kotor meskipun ada di lantai."


“Bayangan.“


“Kok bayangan?“


“Ya iya kan. Jangankan menginjak, mendekati saja kita tak bisa. “


“Selain seruling , alat musik apa yang ditiup?”


“Gitar. “

__ADS_1


“Bukan.“


“Piano, mari main piano. Mi dodo sol dodo mi.“


“Bukan.“


“Tifa dan fu.”


“Bukan.”


“Apa itu?“


“Alat musik kotor.“


“Buat membuang debu nya yah. Bukan supaya bunyi. “


“Iya. “


“Siapa yang naik angkot tak bayar?“


“Sopir apa kernet ya? “


“Mereka kan yang menarik penumpang sampai tersungkur.”


“Piring apa yang tidak bisa dipakai buat makan?“ tanya Claudia yang sangat memahami akan makanan dan hal-hal yang berkenaan dengan acara selamatan itu.


“Piring yang ngejokrok karena orang rumah tak masak.“


“Salah!”


“Piring yang penuh dengan sayur kangkung dan bikin mengantuk.”


“Bukan.”


“Lalu apa?”


“Piring terbang.“


“Bicara Ufo kau?”


“Hooh.”


“Masa itu.“


“Ya iya lah.“


“Bukan kali.“


“Iya.“


“Bukan hih. Sebel gua”


“Sudah ah. Sebel gua. Ayo kita pulang!“

__ADS_1


“Ya ayo. Huh!“


Mereka pulang dengan saling membelakangi.


__ADS_2