
“Yuk ah, kita pergi,” ujar Antony yang menemui Claudia pada sekolah lain yang ada di dekat sekolahnya sendiri tersebut. Seperti biasa, dia menjemput di depan gerbang. Sehingga dia akan menunggu pada tepi jalanan itu, pada seberang gerbang, atau di emperan rumah penduduk. Jika dia lebih dulu datang. Atau kalau si Claudia yang pulang lebih dulu, dia yang menungguinya. Baik sendiri atau bergerombol sama teman-teman sejawat. Yang sama-sama menunggu jemputan.
”Kemana?” tanya Claudia. Dia sudah hendak saja naik ke belakang jok Si Antony dalam mengantar pulang sekembalinya dari sekolah itu.
”Bantuin Si Kleo,” ujar Antony seraya menjelaskan apa-apa yang dia dengar dari sahabat barunya tentang keinginannya mendapat bantuan.
”Enggak ah takut entar kaya dulu lagi hampir terpenggal kepala,” ujar Si Claudia yang tak ingin lagi mengikuti hal mengerikan itu. Rupanya dia masih trauma. Bagaimana tidak, untuk anak seusia dia menghadapi masalah demikian pelik tentu membuat dia terus teringat. Untuk sebagian besar orang. Tak terkecuali sama si Claudia ini. Dalam pikirannya masih sangat membayang. Sehingga untuk melupakan, bahkan membuangnya sama sekali, membutuhkan banyak waktu yang tak sedikit.
__ADS_1
”Eh ini enggak,” ujar Antony sangat berharap kalau temannya itu mau menemani. Sebab dia akan kesulitan kalau sendiri atau setidaknya akan lebih ringan jika ada yang bersedia membantu. Dan Claudia sudah sangat piawai dalam memahami apa keinginannya itu. Dia semakin repot andai tak bersedia. Atau misalkan ada orang lain yang bersedia menggantikannya, belum tentu bisa selincah gadis ini.
”Pokoknya enggak!” ujar Si Claudia bersikeras. Meskipun si Antony berusaha membujuknya dengan berbagai cara baik dia hendak di bonceng untuk diantar hingga rumah, sampai akan dibelikan coklat yang harganya dua puluh tiga ribu rupiah diskon sedikit, tetap saja si Claudia tak mau.
”Aku mau ikut pak guru saja!” ujarnya berikut, malahan nekat mau membonceng orang lain, kalau si Antony terus saja mendesak agar dia tetap pada keinginannya.
”Sana kau pergi sendiri saja!” ujar Claudia tetap tak ingin melibatkan diri kembali pada satu hal yang belum pasti tersebut.
__ADS_1
”Terus nanti yang mencatat siapa?” ujar Antony kebingungan mencari orang-orang yang bersedia membantunya agar meringankan beban tersebut. Kalau tak ada yang mencatat, sebagai manusia biasa, pasti akan mudah lupa. Setidaknya ada bagian-bagian yang tak bisa diingat seratus persen. Dan gawat kalau hal penting yang justru terlewat. Itu akan membuat satu titik penting yang terlepas untuk menurut benang merah kasus selanjutnya.
”Tahu. Pokoknya gua enggak mau!” kata Claud yang sudah tak ingin diajak.
”Waduh...” Semakin panik si Antony. Bakalan gagal dia membantu sahabat. Juga akan terlewat satu misteri penting yang menjadi satu pengalaman di hidupnya dalam mengungkap kebenaran kisah yang orang lain belum tentu bisa lakukan. Atau bahkan akan keduluan orang lain. Tentu saja sebagai orang yang gemar memecahkan kasus, akan merasa sangat kecewa jika didahului orang lain yang sama-sama punya hobi serupa. Mungkin tak hanya pemuda itu yang merasakan demikian, orang lain, pastinya juga merasakan hal serupa.
Akhirnya Si Claudia ikut sama bapak guru agar mengantar sampai rumah dan tidak kena cegat sama tak memakai masker.
__ADS_1