Senja Muram

Senja Muram
62


__ADS_3

“Pak ikut ya,“ ujar Claudia saat gurunya juga hendak pulang dan kebetulan tak memboncengkan siapapun jua di belakang nya .


“Ayo...“ Dengan senang hati Pak Guru yang baik jiwanya itu langsung saja menyanggupi apa yang diinginkan murid yang dia suka itu.


“Ini mau langsung pulang ya?“


“Iya. Mau pulang cepat,“ ujar Claudia yang membonceng menuju ke rumahnya yang lumayan jauh kalau mesti jalan.


“Lo. Kau tak pakai masker!“ ujar Pak Andrews melihat Si Claudia mukanya masih kelihatan cantik tak tertutup apapun jua.


“Lupa Pak,“ kata Si Claudia yang tak sengaja melupakan apa yang semestinya di persiapkan atau dimasukkan dalam tasnya itu.


“Ya sudah. Ini pakai,“ ujar Pak Andrews memberikan masker satu-satunya yang dipunya untuk dipakai. Toh masih baru dan sekali pakai langsung buang. Demi kesehatan. Sebab kalau dipakai berkali-kali meskipun di cuci, nanti takutnya masih ada zat renik yang masih tertinggal. Semua itu hasil pemberian dari gratisan kantornya.


“La Bapak?“ ujar Claudia yang tak tega melihat orang baik hati itu memberikan apa yang dipunya tersebut demi dirinya.


“Gampang nanti aku kasih alasan,“ ujar Pak Andrews dengan santainya dan bakalan berusaha mencari cara menghadapi hadangan yang sangat mengerikan nanti.


“Makasih ya pak,“ ujar Si Claudia yang sedikit menyesal akan keteledorannya. sehingga untuk kesekian kalinya dengan terpaksa merepotkan gurunya yang baik hati itu.


Motor pun melaju. Menyusuri jalanan pulang.


“Benar kan ada razia masker, wah bagaimana ini pak! Mereka bahkan sudah melambai," ujar Claudia yang panik. Dia melihat di jalanan ramai itu ada banyak petugas.


Terpaksa mereka mendatangi kerumunan dengan jarak antara itu.


“Lo Pak Andrews malah nggak pakai masker,“ ujar salah seorang yang menegurnya.


“Iya nih kelupaan.“


“Wah gawat itu pak bisa kena sanksi kalaian. Tapi nggak papa soalnya sudah ada 62 yang kena. Dan itu untuk anda.“

__ADS_1


“Anak pramuka kan?“


“Iya Pak. Kan tugas. Ada surat tugasnya lo.“


“Ya sudah. Aku langsung saja ya....“


“Kan kena sanksi dulu pak.“


“Aku itu?“


“Semua Pak. Tanpa kecuali. Sebab virus juga tak pandang bulu. “


“Waduh! “


“Nah sekarang bapak pilih mau 50 ribu atau pidana.“


“Tidak semuanya.“


“Itu saja.“


“Karena saya paham akan keadaan bapak yang gaji saja paling UMR sehingga untuk membayar semua itu akan kesulitan lebih baik push up saja kan....“


“Wah keterlaluan kau menuduhku demikian, kami ini kerja tanpa pamrih dan baru saja gajian ini, yang mestinya tanggal sepuluh, tapi baru saya ambil tanggal sekarang, jadi uang tak masalah, namun karena kau memaksa ya sudahlah.“


“Hooh. “


“Ya sudah push up saja.“


“Tapi saya nggak tega pak jadi biar bapak petugas berseragam itu saja yang kasih sanksi ya.“


Anak yang sudah tahu kerjaan itu menyerahkan persoalan pelik tersebut pada atasannya.

__ADS_1


“Oke Pak Andrews push up," ujar para bapak yang tidak mengijinkan orang berbuat keliru meskipun hanya berkerumun melihat pejabat.


“Berapa ini?“


“Nggak banyak, cuma 50 kali saja.“


“Banyak itu!“


“Nggak bisa nawar lo ini.“


“Ya sudah lah....“


Bapak-bapak itu segera saja mengambil sikap push up di tepi jalan pada bagian aspal yang rata. Dengan tangan yang telapak tangannya terbuka lebar.


Satu, dua...


Baru sampai sepuluh,


“Ya sudah pak. cukup lah,“ ujar si petugas tak tega sama orang yang tak biasa berolah raga itu. Jangankan angkat badan, mengangkat beban hidupnya saja sudah susah. Yang penting sudah melaksanakan sanksi yang mesti diterapkan buat pelanggar.


“Bentar dikit lagi. Masih kuat kok.“


Tapi dua kali angkat sudah ngos –ngosan.


“Ya sudah. Tak kuat aku.“


“Ya sudah.“


Setelah itu mereka boleh melanjutkan perjalanan.


“Aku langsung.“

__ADS_1


__ADS_2