Senja Muram

Senja Muram
Makan


__ADS_3

“Yuk kita makan dulu,“ ujar keluarga Pretoria yang langsung membawa mereka ke suatu ruangan makan. Dimana sudah banyak tersedia makanan-makanan nikmat. Semua di masak dengan rasa penuh cinta. Agar bisa dihabiskan oleh para penikmatnya yang kala itu tentunya tengah kelaparan. Sebab kali ini waktunya makan. Sudah menjadi kebiasaan, makanya semacam alarm keras yang mampu mengingatkan si manusia. Meskipun pada kenyataannya, sirkulasi makanan itu yang justru mengingatkan si empunya. Karena pada beberapa jam perutnya mesti di isi kembali. Itu yang sebenarnya menjadi waktu pribadi manusia yang mengingatkan hal penting tadi.


“Nah sini,“ ujar mereka untuk segera duduk pada suatu meja makan dari kayu dimana kursi-kursinya juga dari kayu yang sama. Meja itu dibuat dalam bentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar dan lebar yang fungsinya sama saja. Hanya penempatan dan tata ruang nya saja yang menuntut bentukannya disesuaikan, agar indah terlihat, dan nyaman digunakan.


“Pakai apa?“ ujar mereka sembari melihat apa yang tersaji di tengah-tengah meja tersebut dengan berbagai bentukan masakan yang nikmat-nikmat.


“Mangut mbeong.“ Tunjuk Pretoria dengan masakan nikmat dari ikan purba yang habis dibeli dari luar kota dan baru dihangatkan disini. Ikan tersebut tak ada disini. Makanya kalau ingin, mesti membeli di sungai tempat habitat ikan tersebut berada. Sebab ikan tersebut jenis khusus. Yang meskipun ada mirip-miripnya dengan saudara jauhnya, semacam lele, patin, kathing, atau caung. Tapi bagi para penikmatnya akan jelas terlihat perbedaannya.


“Daun talas.“


“Bukan gendot ini?“

__ADS_1


“Bukan lah.“


“Kirain kan tananman itu banyak terjadi di lingkup persawahan sini yang tumbuh subur secara liar,“ kata Claudia. Masakan murah meriah itu, kalau di perkampungan tinggal ambil saja di sawah yang tumbuh liar. Bahkan rasanya terkadang dianggap lebih nikmat jika hanya di ternak atau ditanam oleh para petani. Mungkin salah satu alasannya karena para petani menghendaki untuk segera mendapat hasil. Makanya belum matang benar sudah di petik. Atau dalam menumbuhkannya membuat pupuk serta obat-obatan untuk cepat membuat pertumbuhannya menjadi lebih besar dari usia sebenarnya. Berbed dengan yang liar akan tumbuh dengan sendirinya secara alamiah. Dan memetiknya sudah dalam kondisi yang benar-benar siap petik.


“Juga botok teri.“


Suatu bentukan sebuah masakan yang terbuat dari gereh teri banyak sekali yang dicampur dengan parutan kelapa yang dibumbui. Hal ini menjadi bentukan lain yang berbeda jika dibandingkan dengan hanya ikan keil yang banyak tersebut untuk langsung dimasak biasa. Maka masakan yang dibuat unik ini biasanya membuat rasa bertambah nikmat. Atau rasa yang unik, menjadikan berbeda dengan rasa ikan jika dimasak biasa.


Mereka sudah semakin menelan air liur saja kala menatap masakan kampung yang terlihat enak dan nikmat.


“Pakai tangan,“ ujar mereka sembari memasukkan tangan ke kobokan dari baskom. Maklum, walau tangan sudah bersih karena sehabis mandi, namun jika belum membersihkan atau memasukkan kembali tangan nya dalam air, masih terasa belum cuci.

__ADS_1


“Bagaimana?“ tanya De La Cruz yang terus menanyakan akan penyelidikan di sela-sela makan itu, oleh kawannya yang biasanya cepat diselesaikan, kali ini sudah sejauh ini, belum juga ada titik terangnya.


“Ya belum lah, sulit ini,“ ujar Antony sembari makan ikan mangut itu.


“Aduh... Udah kau tuduh kan saja sama pacar dia,“ katanya mengompori.


“Ya nggak bisa.“


“Biar cepat kelar terus kau pulang sana!“


“Iya gua juga takut.“

__ADS_1


“Nah kan. Cewek lu sudah takut begitu.“


__ADS_2