Senja Muram

Senja Muram
Diantar


__ADS_3

“Bagaimana langkah kita sekarang?“ ujar De La Cruz untuk mengetahui keinginan temannya, dimana kala itu sudah lumayan istirahatnya.


“Ya kesana lah.“


“Ayo,“ ujar mereka, setelah usai istirahat dengan masa yang lumayan lama hingga bisa berpikir jernih.


Mereka berjalan menuju lokasi yang jarak dari rumah kakak nya Si De La Cruz, tak seberapa jauh namun lumayan melelahkan jua.


“Kita jalan kaki saja. Hanya jarak beberapa rumah kok,“ jelas Cruz. Dia merasa kalau dari rumah itu hanya beberapa rumah saja. Tak lebih dari puluhan. Makanya mending jalan kaki.

__ADS_1


Karena tak terlampau jauh itulah makanya tak perlu naik kendaraan. Motor ditinggal di rumah kakaknya Cruz. Bikin ribet. Dan suasana alam tak bisa dinikmati dengan seksama, kalau hanya pintasan demikian. Lebih enak dipandang jika dengan pelan-pelan saja.


“Lumayan jauh,“ ujar mereka mulai kepayahan. Maklum rumah kampung sama kota agak berlaianan. Di kampung jaraknya antar rumah agak lumayan. Untuk kata-kata Cuma beberapa rumah akan berjarak agak panjang. Beda kalau ditunjuk meter. Kalau di kota misalkan seratus meter saja sudah banyak sekali rumah-rumah penduduk. Terkadang satu rumah bisa di belah untuk di pakai dua keluarga. Sedangkan jika di perkampungan begitu, ada dua rumah saja masih milik satu keluarga. Karena ada yang memiliki dapur berbeda rumah dengan rumah utama. Itulah makanya meskipun hanya berjarak dua rumah, jaraknya bisa mencapai seratus meter. Dan ini dirasakan oleh dua remaja sok tahu itu. Yang jelas sudah keringatan untuk melintasi beberapa rumah saja. Lagipula rumah di desa sangat luas dengan bahan yang ada. Misalkan kayu yang tinggal petik di pekarangan kemudian di buat menjadi rumah sepanjang uluhan meter dengan lebar yang menyesuaikan.


“Enggak.“


“Itu kelihatan.“


Tunjuk De La Cruz pada rumah misterius tempat si keluarga yang di rundung masalah tersebut.

__ADS_1


Luas juga maklum rumah kampung dimana pekarangannya juga lebar-lebar namun harganya tak terlampau tinggi beda dengan di kota.


“Sudah berdinding,“ ujar Antony kala melihat gedung itu lumayan kokoh. Dari bata yang di plester dengan kuat dan bukan dari kayu.


“Iya.“


“Soalnya kebanyakan rumah kampung kuat-kuat sekarang beda dengan dulu, sudah banyak alat transportasi yang bisa membawa material hingga lokasi juga harganya sudah bisa terbeli sama penduduk sini,“ terang Cruz. Asal kendaraan bisa lewat, maka pihak penyuplai demikian mudah memberi bahan-bahan itu hanya dengan persetujuan dari si bakal pembuat peralatan itu. Lalu orang-orang itu tinggal membayar dari uang yang gajinya tinggi, baik itu bekerja di luar negeri atau cuma kerja di persawahan namun memiliki lahan yang luas, hingga hasil panen juga banyak. Hal itu juga yang membuat mereka mampu membeli barang-barang yang kelihatannya bagi mereka sangat berat. Namun nyatanya berhasil memiliki. Itulah yang berikutnya nampak. Jika rumah-rumah di perkampungan juga bagus-bagus dan tak kalah jika dibandingkan dengan rumah di kampung lain.


“Penembakan itu dari mana,“ tanya Cruz yang penasaran kalau-kalau sudah ketahuan dan setelahnya bisa langsung menyuruh mereka pulang.

__ADS_1


“Bisa dari segala sudut,“ ujar Antony yang juga belum paham dan mesti menanyai lebih lanjut akan segala yang terjadi. Kalau serampangan akan menjadi persoalan rumit, dan itu berawal dari suatu kecerobhan hingga memutuskan suatu hal yang sepele saja mesti berakhir secara bertele-tele.


__ADS_2