Senja Muram

Senja Muram
Saat pulang


__ADS_3

Saat pulang sekolah,


“Mari ku antar.“


Tiba-tiba, ada bapak itu. Yang tahu-tahu saja sudah ada dibelakangnya. Tanpa terdengar suara motor keren dan demikian halus suaranya. Mungkin juga dia tengah sedikit melamun dan meleng sehingga segala suara diluar jangkauan lamunannya tak terdeteksi hingga otak bawah sadarnya tak bisa menjangkau apapun.


“Terima kasih pa,“ kata si Claudia yang sendirian, setelah para rekan pada menuju jalan masing-masing. Ada yang membawa motor. Ada yang di jemput. Dan ada juga yang naik angkutan umum, karena motornya cuma satu, itupun mesti dibawa bokap menuju ruang kerja yang sangat jauh.


Mereka berboncengan naik motor hitamnya, yang baru servicenya. Maklum sebulan itu dia bolak-balik bengkel demi indahnya perjalanan bersamanya. Kalau tidak maka motor tak nyaman. Bagian bawahnya kendor. Dan bunyinya keras. Serta seakan tak ada per yang empuk buat mantul.


Helm cuma satu, yang bawa motor saja yang memakai, maklum tak sengaja bakalan membonceng siswi cantik dan begitu memukau tapi bukan satu-satunya, karena satu sekolah itu sudah banyak yang cantik-cantik, tahu gizi dan pandai berdandan meskipun tidak rusak.

__ADS_1


“Kita kesini dulu ya...” ujar itu punya nama guru yang cakep namun belum mempunyai. Makanya dalam usaha pencarian.


“Langsung saja pa,” ujar Claudia yang tak enak kalau terus-menerus merepotkan orang yang sudah memberinya ilmu pengetahuan yang teramat luas, sehingga isi kepalanya yang sepersekian luar kepala dalam menghafal rumus akan diberikan semuanya. Rumus ini, rumus itu. Rumus yang sulit, juga rumus yang sering nembus.


“Sebentar saja, mumpung saya lapar lo ini.”


“Kan itu perut bapak, saya masih kenyang kok.“


“Lagipula bantuan 600 itu cair, jadi tak apa toh.“


Namun pada kala itu tak banyak yang menghadiri karena masih sunyi. Mungkin bakalan ramai sebentar lagi. Atau pas malam-malam liburan yang panjang, daerah tersebut akan penuh pengunjung, meski berada pada batasan sosial.

__ADS_1


Mereka duduk sekejap. Lalu memesan bakso dan tetelan atau tengkleng sebagai campuran bahkan ada yang cuma memesan daging tengkleng saja. Hanya memakai, kuah, saos yang banyak dan kecap. Menjadikan kuah kental itu sebagai penyedap saja.


“Nah makan.“


Begitu sudah saji langsung disantap dan diminum es tehnya. Sedikit, sedikit. Satu sendok demi satu garpu. Lama-lama bakso yang sekepalan tangan orang bertinju itu menipis dan habis berpindah pada perut lapar akan dahaga.


“Sudah kenyang,“ kata bapak itu sembari mengeluarkan dompet coklat yang tebal. uangnya berlipat-lipat berbagai warna. Merah, kuning, jingga dan ungu.


Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini tentu saja sudah tidak mampir-mampir lagi. Dan lurus pada tujuan. Hanya sedikit membelok kala mengantar si cewek. Sebab kalau lurus terus maka akan menjangkau rumah si punya motor. Apa kata dunia nanti kalau mengetahui hal tersebut.


Dan tak berapa lama, sampai didepan rumah Claudia persis sampai pintu rumah.

__ADS_1


“Makasih ya pak,“ ujar Claudia. Bagaimana jadinya kalau tidak bertemu dengan orang yang baik hati ini. Mungkin kakinya akan keseleo, berjalan sekian jauhnya. Atau lecet-lecet dengan perut kosong yang semakin membuatnya bertambah merana.


“Iya,“ ujar gurunya seraya menerima helm. Dia langsung pergi tanpa perlu mampir. Padahal tadi dia tak memakai helm darimana dia dapat. Mungkin pas di bakso tadi. Entahlah.


__ADS_2