Senja Muram

Senja Muram
Nonton 5


__ADS_3

“Dan makan mi nya.“


“Dah.“


“Kenyang lu.“


“Iya lah. Makan. Ada es campur nya lagi."

__ADS_1


“Tekor gua kalau pacar minta jajan mulu.“


“Dikit doang juga.“


“Kan belum hasil.“


“Ya sudah tinggal minta.“

__ADS_1


Pada awalnya, Bujang pelawak ini hanya menyertai para lakon, tokoh utama dalam pengembaraannya.


Namun berikutnya menjadi seseorang yang mumpuni. Sehingga dihubungkan dengan penguasa.


Karena pada awal cerita tak menggunakan legenda itu. Tapi di periode Kediri sudah mulai muncul tokoh punakawan itu. Dan jumlahnya hanya satu atau dua saja. Makanya pengembangan tokoh menjadi empat ini kemudian menjadi suatu karangan dimana penggambarannya lebih menonjol disandingkan dengan tokoh utama. Dan ada babak akhir dari cerita itu selalu membantu, walau pada dasar kisahnya tidak ada.


Di awal cerita tentu saja hanya sebagai teman satria dimana fungsinya untuk menghibur. Dalam hal ini tentu saja tak memiliki kesaktian apa-apa. Karena yang sakti adalah tokoh utamanya, yakni sang ksatria itu.

__ADS_1


Tapi berikutnya digambarkan bahwa punakawan itu adalah penjelmaan dari dewa. Dengan demikian tentu menjadi sosok yang kaya dan sakti. Karena dewa pada pewayangan adalah tokoh di atas para manusia di dunia.


Sosok bujang pelawak ini justru selalu ada dalam setiap pertunjukan wayang. Karena pada momen itu juga disuguhkan berbagai hiburan. Ada pelawak, ada tari, ada lagu. Yang jelas kemunculannya lebih ke hiburan, dimana untuk menghabiskan waktu menuju usai. Hingga hiburan ini antara dalang dan sinden. Lalu berkembang dengan menghadirkan tokoh pelawak. Dan berikutnya dengan tarian berbagai warna nya. Jika hanya dalang dan sinden, mesti lawakannya cenderung ada ucapan sang dalang yang mampu memainkan ucapan dari karakter tokoh penghibur itu. Dalam hal ini sosok di tiap-tiap tokohnya tak ada yang baku. Tergantung dari dalang, serta dari daerah mana dia menggunakan pakem. Sehingga ada karakter dengan nama Bagong, maka di daerah lain namanya bisa berubah menjadi Bawor, bahkan wayang di sunda menyebutnya cepot. Satu tokoh ini saja sudah berbeda dalam pembawaannya. Baik kisah terciptanya, kisah kehidupannya sampai dengan pembawaannya berbeda-beda. Juga sosok semar. Itu merupakan kreasi baru. Ada kenyataannya di era candi-candi, semua belum muncul. Dan pada kitab di era Kediri baru ada dengan sebutan Jurudyah dan dua rekannya. Lalu muncul di masa Mojopait dengan sebutan Semar. Kali ini Semar mempunyai banyak nama sebagai sebutan, salah satunya Jurudyah Punta Prasanta yang tergabung untuk satu tokoh. Menghadapi kenyataan demikian, maka keberadaan punakawan itu untuk menambah cerita agar lebih hidup, serta bisa diterima oleh masyarakat, supaya tidak bosan. Juga membuat ceritanya menjadi lebih beraneka. Disitu juga banyak kata-kata bijak serta program-program yang disampaikan secara menghibur. Dan bukan hanya baku dari tulisan asal. Dan yang jelas bisa memberi pesan pada tokoh yang ada tersebut untuk menyindir segala sesuatu yang kurang tepat dan tengah berkembang dalam dunia sekarang ini. Kiranya itulah yang membuat acara punakawan selalu muncul. Kalau dahulu misalkan pada perang bratayuda tak perlu ada acara tersebut, namun sekarang banyak dalang tetap mempergunakannya sebagai selingan agar dalam satu malam itu hiburannya tetap ada dan penonton masih betah untuk tetap memperhatikan hingga esok saat acara usai.


__ADS_2