
“Eh itu kan psikopat!“ teman-teman pada menunjuk ke salah satu orang. Baik langsung dengan telunjuknya maupun hanya memakai gerakan kepala yang terarah mukanya itu ke sosok yang dituju.
“Siapa? Si Premani?“ ujar Claudia. Hanya anak itu yang ada di sana, serta yang mukanya lurus ke arah dia.
“Iya. Siapa lagi.“
“Tahu darimana?“ tanya Claudia lagi.
“Kata orang,“ ujar teman-temannya. “Aku sendiri juga lihat, saat dia membunuh cacing dengan jalan menginjak-injaknya sampai mati dan *****.“
“Kita juga kali,“ ujar Claudia membayangkan saat melihat binatang menjijikkan demikian tentu akan berbuat sama.
“Tapi dia beda,“ kata teman-teman. “Dia seakan ada dendam tersendiri walau tak ada kasus antara dirinya dengan si cacing.“
__ADS_1
“Lah gimana….“
Pada suatu tempat di waktu yang berbeda. Claudia tengah berjalan sendirian. Dia melihat sosok psikopat itu.
Mereka saling lihat. Lalu tersenyum.
“Hai,“ ujar Claudia.
“Anda sendirian?“
“Kata orang-orang sih. Tapi sebenarnya aku nggak merasa,“ jawab Prem. “Makanya aku malu bergaul sama orang-orang. Dan inginnya penyendiri.“ Itulah. Karena dianggap psikopat, makanya malu. Belum lagi kalau dia benar-benar melakuka hal demikian hanya karena perkiraan orang yang kemudian menjadi kenyataan. Itu aka menambah beban pikirannya. Sebab tiada yang tidak mungkin dimasa berikutnya.
“Wah bisa gitu yah?“
__ADS_1
“Begitulah.“
Mereka terus berjalan berdua sembari mengobrol. Di sepanjang lorong sempit yang sunyi. Lorong yang seakan menjadi sebuah misteri. Dimana pada jalan it uterus menuju ke suatu tempat yang lebih dekat jaraknya jika dibandingkan dengan jalan semestinya yang memutar serta tentunya lebih jauh. Makanya anak-anak suka melintasi tempat itu, agar mudah sampai, menghemat tenaga dan waktu, serta bisa santai di ruah seperti yang sudah diperkirakan. Daripada jika lewat jalan umum yang memutar serta ramai. Dan dapat melihat segala sesuatu yang menggiurkan. Tentang makanan, orang lewat, juga yang menarik hati lainnya. Itulah juga yang menjadikan boros. Bisa-bisa uang jajan habis hanya untuk jajan, taka da sisa untuk disisihkan, atau masuk ke celengan semar yang bisa dimanfaatkan saat pemecahan menjelang hari besar.
“Ih. Aww!“ si Claudia tiba-tiba menjerit. Ada yang melompat ke atas dirinya. Arahnya sari sisi lorong itu. Dia segera mengibaskan tangannya, sebelum si aneh itu bergerak lebih jauh.
“Awas ada kecoa!“ Semua terkejut melihat teriakan itu dan menyaksikan sendiri ada satu binatang mengerikan. “Biar ku hajar sampai *****!“
Si Premani segera menangkap binatang tersebut. Menekan kuat-kuat dengan jemari lembutnya. Lalu menghempaskan ke tanah. Dan setelahnya diinjak tubuh binatang malang itu. Tak puas hanya sekali. Maka diinjak injak terus sampai dengan di akhir nya.
“Wah kau membunuhnya seakan dia mempunyai masalah saja sama kau,“ ujar Claudia tak menyangka pada apa yang dilakukan wanita itu. Barangkali betul perkiraan teman. Ini tentang jiwa nya yang udah meledak. Atau sanggaan yang kelewat itu, kali ini sedikit terbukti kebenarannya. Dan menjadikan dia semakin tak yakin akan orang ini. Bisa saja berikutnya dia akan berbuat lebih lanjut yang mengerikan. Atau pada dia di sebelahnya yang kemudian akan berbuat brutal tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan ketidaknyamanan di pikirannya itu.
“Aku hanya tak ingin anda ketakutan. Makanya aku meluluhkan dia. “
__ADS_1
“Anda aneh ya?“
“Begitulah. Meskipun aku bukan alien, tapi kata mereka termasuk aneh.“