
“Nah setelah muter-muter, kita mampir sini,“ ujar Antony kembali memarkir motornya.
Mereka kembali masuk pada sebuah warung di kesunyian. Pada tepi hutan. Pada tepi jalan yang lengang. Sekarang warung-warung sudah banyak yang lokasinya menyepi sendiri. Biasa mencari rejeki. Tak mesti di tempat ramai. Kalau pada keramaian, biasanya saingannya juga banyak. Ditempat begini tak banyak saingan, hanya para pengunjung juga mesti dilihat, apakah banyak yang melintas. Sebab kalau sepi juga percuma. Hanya pada jalur demikian pasar biasanya mencari yang lumayan ramai peladang atau para pekerja hutan. Itu menjadi hal tersendiri dimana mereka tengah capek, langsung melihat makanan maka akan segera mengejarnya. Dan kalau lupa, bisa di hutang dulu. Namun di kemudian waktu akan membawa. Itu sudah menjadi saling pengertian diantara ketergantungan yang tercipta dengan sendirinya. Sehingga kalau esok laku maka penjual juga akan jualan lagi. Biar ada rejeki lagi.
“Enak nih.“
“Badeg ini mah.“
__ADS_1
Mereka melihat-lihat makanan dan minuman apa saja yang tersedia di warung tersebut. Ada legen, air kelapa yang dimasak, serta berbagai gorengan. Juga ada jajanan yang di kemas dalam tempat plastik.
Badeg biasanya ditempatkan pada bumbung, bambu yang di lubangi. Lalu di tutup pakai kayu bulat sesuai ukuran bambu besar, dan di buntel plastik. Sehingga tepat menutup andai di rekatkan ke situ.
Air nira kelapa lo ya, jadi bukan air kelapanya. Yang nantinya bisa jadi gula. Kalau dimasak hingga mengental. Tapi kalau badeg itu Cuma sampai mendidih saja. Dan airnya tak sampai habis. Itu sudah bisa diminum, menjadi miuman yang nikmat dengan hangat-hangat kuku yang rasanya sudah manis. Minuman segar tersebut menjadi bermanfaat kala banyak yang membutuhkan. Tapi tak banyak yang menjualnya. Karena hasil laku nya akan lebih baik dijadikan gula. Sebab gula bisa dijadikan banyak pilihan, sedangkan jika jadi badeg hanya diminum saja. Gula bisa untuk bumbu, untuk pemanis minuman, juga oleh-oleh yang tahan lama.
“Dan ini cimplung.“
__ADS_1
Makanan yang terbuat dari singkong, kelapa atau ubi. Tergantung bahannya. Yang lalu dimasukkan ke badeg yang tengah di masak untuk membuat gula kelapa. Maka dengan sendirinya rasa manis air kelapa sebagai bahan gula itu akan meresap hingga membuat singkong masak itu jadi manis. Memang jarang yang menjual. Ada tetapi tak banyak. Biasanya seperti itu hanya pesanan beberapa orang yang ingin masakan demikian. Pada para pembuat gula. Cuma tidak setiap saat. Karena kalau di kasih itu juga belum tentu segera masak. Bahan bakar jadi bertambah, serta akan menjadi lebih lama. Ini karena beban yang dimasak bertambah. Serta rasanya yang demikian saja akan membuat orang jenuh. Jika terus menerus. Maka hanya sesekali saja orang membuatnya. Dan itu sebagai rasa kangen untuk masakan khas desa yang banyak para penderes kelapanya. Cimplung ubi jalar enak lagi. Selain makanan itu sudah manis dari asalnya, juga terasa khas jika dimasak secara demikian. Ubi jalar itu jika hanya di rebus saja sudah nikmat, dengan tambahan pemanis maka akan bertambah rasanya. Terutama umbi jenis khusus ini. Selain mudah tumbuh juga mudah di cari di seputar perumahan penduduk. Makanya sekarang banyak makanan yang terbuat dari bahan itu. Lagi pula banyak dijual di pasar bebas.
“Jarang ini.“
“Ya nggak ada lah. Ada paling peuyeum.“
“Peyempuan?“
__ADS_1
“Tape. “