
“Yuk jajan,“ ajak Antony. Maklum seharian belum mampir. Hanya menatap orang-orang yang tengah asik dengan kesehariannya. Dimana ada baik, ada buruk. Sebuah pekerjaan baik. Walau buruk kondisinya. Sementara ada yang buruk dan tak layak untuk di nikmati. Walau kesemuanya tu menginginkan hal yang baik.terkadang pencapaiannya yang kurang maksimal. Sehingga apa yang semestinya baik menjadi hal yang tak baik.
“Dimana?“
“Nih mampir warung makan.“
“Asik.“
Mereka pun masuk ke rumah makan itu. Disini pintunya kaca. Sudah tembok dan pakai keramik. Tak seperti jaman dulu yang masih menggunakan bilik bambu dan kayu. Sekarang apa-apa sudah lebih bersih. Diharapkan mampu membuat citra yang terbaik bagi pelanggan sehingga mereka tak segan-segan untuk sekedar mampir. Sukur-sukur ma mencicipi dengan harga yang sedikit lebih tinggi dari biasanya dengan ditambah sedikit pajak. Maka ada pemasukan juga untuk negara.
“Dah pesan apa?“
__ADS_1
“Ini Saja.“
“Apa?“
“Burger Sama Es Moca.“
“Enggak es jus melon karo susu? “
“Enggak.“
Lalu dibawa ke meja yang kosong. Ada beberapa yang makan. Setidaknya empat dan di seberang lain tiga orang dengan anak kecil.
__ADS_1
“Wah Kita sendirian ini.“ Mereka tak merasa kalau kesemua itu kemudian meninggalkan tempat tersebut.
“Yang lain dah pada selesai makan. Langsung pergi saja. “
“Ya malah asik.“ Begitulah, terkadang makan di tempat lebih menyenangkan karena habis di masak langsung di santap dan itu membuat rasanya sedikit beda kalau sudah dibiarkan dingin karena di makan waktu. Maka tak heran jika makanan cepat saji langsung di goring serta di sajikan masih panas-panas dengan sambal pedasnya yang menggugah selera untuk segera menikmatinya walau masih panas kebul-kebul, tetap saja main santap. Rasanya tak kalah beda dengan masakan istri di rumah. Selain itu dengan langsung menyantapnya, maka perut yang kosong keroncongan langsung segar bugar kembali dengan isi penuh dan energi yang demikian melimpah untuk melanjutkan acara selanjut nya.
“Tadi di bungkus asik kayaknya yah?“ Jika tak nyaman makannya memang demikian. Mending di bawa pulang. Dengan demikian bisa di nikmati dengan santai, tanpa ada rasa yang lain. Seperti sekarang ini. Pada ruang yang demikian lebar hanya sendiri, dan tu seperti di awasi oleh banyak orang yang tengah masak sambal ramai-ramai di dalam sana.
“Disini asik, masih hangat. “ Dihabiskan makanan itu. Walau masih terasa kurang. Ikannya kecil saja. Tak lebih besar dari lengan mereka. Namun tisu nya banyak. Mungkin supaya bersih. Walaupun kurang kenyang, kalau bersih akan enak di pandang. Dan itu akan membuat perut terasa penuh saja apalagi di tambah dengan minuman karbonasi yang mengeluarkan busa sebagai pemenuhan tambahan buat perut yang menghendaki rasa nikmat yang bukan hanya sekedar banyak. Rasa yang sedikit akan membuat kangen, serta untuk beberapa waktu berikutnya masih bisa di isi lagi oleh banyaknya menu yang masih tersedia di seputaran tempat tersebut. Beda dengan para tenaga kerja yang butuh kekuatan dalam menyelesaikan tugas nya. Mereka akan makan banyak-banyak sehingga waktu tengah hari masih kuat dan malamnya dengan hanya tidur sudah bisa memulihkan kekuatannya, serta esok lusa masih sanggup bekerja melanjutkan hal yang aneh tadi.
“Yuk sudah.“
__ADS_1
“Hooh.“
Mereka meninggalkan tempat itu.