
Di kelas si Kleo pagi itu pak Comodus masuk dan langsung memberi tugas. “Sekarang kalian kerjakan soal yang ada di G form.“
“Jangan lupa di save ya, kalau sudah selesai mengerjakan soal yang hanya 50 soal lalu kirim. Jangan sampai lupa, biar jawaban kalian masuk ke sistem.“
“Iya pak guluuuu.“
Setelah demikian, para murid langsung fokus memperhatikan HP nya.
__ADS_1
“Eh lu mau kuliah dimana?“ ujar Comodus mendekati si Antony yang lagi kebingungan mengerjakan soal yang demikian pelik tersebut.
“Wah rahasia dong pak,“ kata si Antony diantara rasa cemas nya kalau-kalau guru killer nya itu mengetahui dia bakalan melanjutkan kemana.
“Lo kenapa?“ ujar pak guru keheranan. “Aku mesti tahu dong.“
“Lo nggak gitu,“ kata pak Comodus mengurai rencana nya. “Orang aku mau mendaftar di kampus, dimana lu mau daftar.“
__ADS_1
“Waduh gawat,“ ujar Antony semakin khawatir pada yang di dengar kali ini. Jangan jangan dan jangan jangan, itu yang terlanjur dia pikirkan. Makanya sebisa mungkin dia akan mengelak untuk mengikuti kemauannya. Jika dia membiarkan apa yang tak disukai, namun segalanya mengalir sejalan dengan waktu sedangkan dia tak menyukainya, maka dia akan merasa sangat kecewa. Dan perjalanan selanjutnya akan sangat kacau untuk pendidikannya, sekaligus untuk materi yang diserap dan akhirnya pada sebuah kerja yang berikutnya dia dapatkan setelah dia mendapatkan ijazah yang dia peroleh dengan susah payah selama bertahun-tahun dalam mendapatkannya di kampus tersebut.
“Tahu dong kalau kredibilitas ku sangat bagus dimana-mana dan tentunya mendaftar di kampus manapun bakalan diterima,“ kata pak Comodus percaya diri. Dengan apa yang sudah dia punyak dan tentunya sangat berbeda dengan yang lain dan kemampuan yang hebat tersebut dengan disertai data dukung semacam sertifikat yang diperoleh dari hasil kemampuannya tersebut. Maka memang tak hanya menjadi isapan jempol, jika segala yang diutarakannya itu memang sudah sesuai dengan kemampuan diri.
“Atau gini aja pak,“ kata Antony punya solusi. “Gimana kalau bapak mendaftar dulu di kampus itu, terus aku mau mencari kampus lain.“
“O tak bisa gitu dong. Aku akan mengantar kau hingga sukses dan akan mengikuti mu terus untuk memantau perkembangan mu. Orang kita sudah capek-capek membentuk kepribadianmu semenjak tiga tahun dimana awal kalian masuk ke sekolah tercinta kita. Itu sebabnya aku bakalan mengantar kamu untuk terus memantau sikapmu selanjutnya,“ ujar Pak Comodus yang sangat khawatir kalau-kalau anak didik yang sangat diharapkan itu melenceng dari apa yang diharapkan dirinya dan tentunya orang tua sebagai penyandang dana dan pemilik ijin tertulis untuk membiarkan anaknya menjadi sangat maju dalam pemikirannya.
__ADS_1
“Waduh.“