
Nenek Senja kedatangan tamu. Nenek-nenek itu tengah asik dengan kegiatan sehari-harinya yang tak menentu namun ada saja.
“Kamu Claudia,“ ujar nenek itu.
Gadis itu dengan santainya masuk ke rumah dan duduk di dekat nenek-nenek yang baik hati ini. Ada satu kelegaan nampaknya kalau sudah duduk dengan orang yang sudah banyak makan asam garamnya kehidupan. Sudah banyak yang dia hadapi. Dan dengan berbagai penyelesaian yang tak selalu sama. Juga tak selamanya mulus. Hampir separuh hidupnya dia telah lampaui.
“Iya nek,“ katanya dengan santai. Lalu menaruh tas kecil di dekatnya yang sebelumnya dia selempang kan tali panjang pada bahunya.
__ADS_1
“Mau ikut Antony berpetualang lagi?“ tanya Nenek Senja. Selama beberapa waktu, dia tak kelihatan rupanya dibawa anak orang itu oleh si Antony. Seperti kebanyakan anak muda yang jiwanya masih bergejolak. Dan membara. Sehingga banyak pengalaman yang benar-benar dibutuhkan olehnya. Guna mengisi hari-hari mudanya agar penuh dan pada usia selanjutnya bisa ia bagikan pada generasi berikutnya atau pada orang yang tak mengetahui satu peristiwa yang terlewatkan.
“Enggak ah. Serem!“ ujar si Claudia yang belum juga hilang rasa ngerinya pada saat terakhir ikut pergi dan belum lama sampai rumah. Istirahat. Meskipun tak selamanya mengganti waktu tidur tersebut untuk beberapa saat yang telah hilang. Sebab di luar rumah sebelum itu, juga bisa tidur. Hanya pikiran dan rasanya tetap bekerja sebelum apa yang dihadapi terselesaikan secara memuaskan. Dan kala itu juga masa istirahat hanya sekedar menghentikan aktifitas alat-alat vitalnya. Dan di rumah tersebut meskipun hanya sampai semuanya bisa istirahat, maka untuk saat berikutnya juga tak merasa nyaman. Maka untuk lebih mengembalikan kondisi pada posisi semula, mesti ada orang yang bisa memahami kisahnya. Sehingga tak terendap percuma.
Lalu nenek masih melanjutkan aktivitas tak biasanya itu sembari masih mendengarkan ucapan anak kemarin sore yang kini ada didekatnya itu.
“Antony Nya ada?“ Dia lalu tanya dimana sahabatnya tersebut. Sembari mukanya celingukan. Dia kemudian menoleh ke nenek dan menyusuri seluruh ruangan. Namun tak nampak terlihat cucu si nenek ini.
__ADS_1
“Tahu kemana tuh anak. Kalau tidak di kamar, tengah tidur, barangkali lagi di belakang. Tadi sih ada di rumah,“ jelasnya. Biasa anak muda. Tahu-tahu dia sudah menghilang. Dan sepanjang hari tersebut, tak selamanya dia memperhatikan siapa–siapa yang keluar masuk pintu tersebut.
“Ya sudah. Aku disini dulu saja ya nek.“
“Baiklah. Sini sama nenek saja. Kita saling berbagi cerita. Kau bisa menceritakan bagaimana kau pergi kemarin.“
“Iya nek.“ Si Claudia lalu menceritakan apa yang dia alami. Bahkan tak hanya saat di kampung. Pada tiap perjalanan dengan Antony juga dia singgung.
__ADS_1