Senja Muram

Senja Muram
Kakak


__ADS_3

“Ant....“


“Apa De La Cruz?“


“Bantuin kenapa!“


“Apa?“


De La Cruz menemui Antony yang kala itu tengah asik melakukan kegiatannya sehari-hari. Maklum sebagai anak sekolahan, tak banyak yang bisa diperbuat oleh seorang Antony pada masa-masa rumit seperti ini. Apalagi kali ini tengah mempersiapkan untuk menjalani ujian akhir. Dan pada masa dimana tengah banyak bencana, maka kegiatan remeh yang dilakukan untuk mengisi luang begitu yang hanya bisa diperbuatnya. Setidaknya bisa buat mengisi waktu, sekaligus bikin sibuk diri.


“Kakakku ada kasus.“

__ADS_1


“Kasus apa itu?“


Si Jupiter De La Cruz langsung bercerita dan mengeluh pada sobatnya yang dia yakini bisa membantu memecahkan kasus rumit. Sebab pada siapa lagi kalau mesti begini. Kepada yang berwajib belum tentu ada waktu. Juga kasusnya belum jelas. Kalau sama orang lain juga belum tentu perduli. Sebab tak ada hubungan apapun. Sama sahabatnya inilah yang kiranya dapat memperingan beban, serta segala permasalahan akan bisa diketahui nanti nya.


“Biasa cinta segitiga.“


Antony hanya manggut-manggut kala mendengar apa kasus yang mesti di telusur serta dipecahkan. Hal demikian sangat umum terjadi, dimana banyak orang yang memiliki berbagai kepentingan dan salah satunya pada kakaknya si De La Cruz itu. Apalagi kalau bukan asmara. Suatu kasus yang mesti ada semenjak ada manusia yang membutuhkan cinta. Dimana banyak batasan yang menyelubunginya. Maka tidak menutup kemungkinan jika banyak keinginan menerobosnya. Menggapai sesuatu yang menjadi larangan itu. Larangan memang sengaja diciptakan demi kepentingan bersama. Agar tak ada yang dirugikan. Jika ada yang dirugikan, pasti satu titik ada yang membuat kerugian itu. Disitulah aturan dan norma yang dibuat mesti berlaku.


“Si istri tewas pada tempat tidurnya dan hanya dia yang jadi musuhnya saat ini, sehingga kemungkian kakak ku itu yang akan di tuduh sebagai pelaku tunggal.“


“Makanya tolong dong. Jangan sampai dia yang dituduh. Dia itu yang aku jadikan pengganti orang tua. Kau tahu kan ayah ibuku sudah tak ada. Makanya dia yang kali ini menggantikannya sekaligus sebagai tempat curahan aku kala mesti mengeluh. Kalau tak ada kakakku itu, aku akan merana, sendirian, tak ada yang mengurus.“

__ADS_1


“Baiklah. Tapi rumit ini,“ ujar Antony yang mesti memahami permasalahannya dari semenjak awal hingga sampai terjadinya peristiwa yang sangat mengerikan itu. Dia memahami perkara temannya tersebut. Serta tak ingin semakin membuatnya kecewa. Makanya dia menyanggupinya. Perkara bisa tuntas atau tidak, itu perkara nanti. Maklum, sebagai anak kecil, dalam urusan demikian, tidak semua permasalahan bisa ditangani. Juga untuk satu hal sepele begini.


“Makanya kau kan dapat melihat kasus“ kata Jupiter De La Cruz sangat yakin kalau si Anthony sanggup memecahkan permasalahannya.


“Oke kita mencoba membantu,“ jelas si Antony yang bersedia mengungkapkan apa yang belum diketahui oleh semua orang hanya oleh si pembunuh dan terbunuh. Sebab jika ada yang terbunuh pasti ada yang membunuh. “Ya kita segera berangkat.“


Mereka mempersapkan diri untuk segera menuju ke lokasi dimana tempat kakak si De La Cruz tinggal.


“Aku kasih tahu alamatnya.“ Si De La Crus segera menulis alamat berikut lokasi pada maps di hapenya agar bisa di telusur dengan gsp nanti.


“Aku duluan ya....“

__ADS_1


“Ya.“


Si De La Cruz beranjak begitu telah memberi keterangan akan alamat dan permasalahan yang mesti ditangani.


__ADS_2