
“Sedang apa Ant?“ ujar Claudia yang tengah asik sembari mengayuh sepeda lipatnya, yang bisa dilipat-lipat tapi kali ini tengah dikayuh nya. Untuk mengisi waktu santai sembari olah raga supaya badan sehat, segar senantiasa.
“Menembak lah,“ ujar Antony yang kala itu suasananya mulai muram, sehabis senja, dimana dia tengah asik mainan senjata anginnya yang dia banggakan. Senjata mainan yang penggunaannya mesti diperketat. Tak sembarang main tembak. Terhadap burung, biawak, kadal, juga pada hewan terbang lainnya, apalagi pada bintang. Kalau jatuh bisa membuat mata kelilipan.
Dielus-elus, di bersihin, di seka, kalau ada kotor sedikit langsung di lap. Biar tak ada binatang renik lain yang lebih dulu menggunakannya untuk dirusak dan dijadikan barang remeh tak berguna. Benda tak berbahaya itu menjadi permainan asik. Namun bias mengerikan andai dimainkan oleh orang berbahaya. Dia sanggup menembus daging kalua pelornya dilepaskan pada jarak teramat dekat. Dan bisa membuat jidat bocor kalau popor nya dibenturkan ke kening yang hidup. Makanya mesti hati-hati. Mesti waspada. Dan patuhi anjuran dokter.
“Bintang itu?“
__ADS_1
Claud menatap ke atas. Ada kelip aneh disana. Sesuatu yang sangat cemerlang. Dijangkau tak dapat, dipetik tiada sanggup. Bukan bunga. Bukan gitar.
“Ya, Sirius.“
“Serius?”
“Iya,” ujar Antony. Bintang paling cemerlang di langit malam jika dilihat dari bumi dengan mata telanjang tanpa terlindung. Dia berkelip diantara dua milyar bintang yang Nampak. Dan terus bercahaya pijar tanpa bias memutusnya. Berkelip-kelip membuai pandangan. Bersama gelapnya suasana malam. Yang menaburkan mutiara-mutiara pijar lainnya.
__ADS_1
Dia cemerlang. Karena di bumi jaraknya tak seberapa jauh makanya sampai mata demikian indah. Namun bukan yang paling besar dan paling terang, jika dibandingkan dengan segala yang ada di semesta. Dia hanya butir pasir diantara bebatuan, andai dibandingkan dengan para galaksi yang dua milyar itu. Tapi juga bukan yang paling kecil untuk ukuran benda langit lainnya yang ada yang hanya butiran batu dan berserak mengelilingi tata Surya dan andai dikumpulkan hanya sepertiga dari berat bulan di tiap bulannya. Meskipun begitu ke cemerlang an nya mengalahkan si cemerlang lainnya yang panasnya melebihi neraka. Dan mampu menembus batin para pengagum, hingga menjadikan berlaksa pujian atasnya yang sanggup mengurai kegelapan malam untuk meniti pada satu arah cinta yang semakin nyata.
“Dia bintang paling cemerlang,“ ujar Antony. Cahayanya demikian anggun menembus mata dan tak ada yang mengalahkannya, malam itu.
“Lalu...“ tanya Claud yang keheranan dengan sikap temannya ini dan tak paham dengan si anjing itu yang bercahaya beriring dengan katai nya. Dia aman disana. Santai dengan cahaya nya yang tampak aneh. Ada yang mengganggu, ada yang menambahkan. Sehingga bertambah terang kalau keduanya saling iring. Dan membiaskan jika si kecil menghalangi. Serta membuatnya lebih besar, jika tergabung. Pijarnya dua kali lipat. Cemerlang nya semakin bening. Dan menembus bumi lebih kentara. Sehingga para pengagumnya bertambah suka, menjadikannya larikan- larikan aneh dalam berpuisi. Dan syair-syair yang tercipta untuk nya semakin banyak.
“Agar tak ada yang lebih cemerlang dari kamu…“ ujar Antony sembari mengerjap-ngerjapkan mata dan main kokang sama senjata ampuhnya itu. Naik turun.
__ADS_1
“Ah….“
Si Claudia hanya tersipu dan dia mengayuh sepedanya untuk menuju mimpi menggantikan si cemerlang Sirius, agar tak ditembak sama Antony.