
“Banjir lagi.“
“Lebih baik sekarang kita memandangi sang surya terbenam dengan muram saja ya.“
“Eh bosan.“
“Terus apa hendak dikata.“
“Kita cari makana saja yuk.“
“Apa lagi.“
“Ikan bakar saja.“
“Oke kita mampir.“
Keduanya mampir. Bahkan hamper terseok karena kurang keseimbangan sama jalanan yang kurang rata.
__ADS_1
Lalu diparkir begtu saja di tempat parker yang sudah penuh oleh para pendatang yang suka rela mencari tempat yang lesehan atau kalau sudah penuh menata meja dua yang besar besar utuk dijadikan satu dan digabung dengan jumlah kursi yang disesuaikan dengan para pendatang tadi.
“Yang murah saja.“
“Kecil dibagi dua hihi.“
“Ngirit.“
Mereka memilih yang kira-kira murah, tapi dapat makan enak. Kira-kira setengah kilo atau yang kurang. Agar bisa habis.
“Habis.“
“Tinggal yang satu kilo itu.“
“Mahal dong.“
Atau kalau perlu mencari yang pak mujair dan ikan emas masih ada. Gurami bakarnya yang tinggal besar-besar. Paling ada di belakang, pada balong ikan yang dibuat banyak sekali demi memenuhi kebutuhan konsumen. Bahkan kalau pas air meluap sebagian ikan ikut eloloskan diri karena tak mau dipanggang di rumah makan, walau akhirnya tertangkap sama nelayan atau pemancing yang bergairah mendapatkan ikan besar berkualitas dan sangat digemari tua muda itu.
__ADS_1
“Berdua juga belum tentu habis.“
“Bagaimana lagi. “
“Ya sudah kita makan sekilo berdua saja. “
“Oke. “
Merekapun memesan yang lumayan besar. Satu kilo. Hitungannya sih per ons. Dengan ditambah minum. Kalau nasi dan lalapan sudah paketan. Itupun sudah lumayan mahal. Namun nikmatnya tiada tara. Karena dalam sekilo kalau disitu paling Cuma 55 ribu saja. Sementara disini dua kali lipatnya. Yang terang soal rasa sudah terkenal dimana-mana hingga warung it uterus saja penuh dengan para pengunjung yang banyak menggemarinya. Tidak hanya dari para wisata local, bahkan yang jauh juga ikut penasaran. Sehingga kala lewat atau tengah pulang ke sanak saudara menyempatkan diri untuk sempat-sempatnya singgah sejenak.
Kemudian mencari tempat duduk. Dimaa disukainya. Pada sebuah lesehan yang ada di dekat kolam. Sembari melihat ikan dan para peancing luar. Sembari memandang matahari senja yang memancar kemerahan tak memanggang. Sembari menerima sepoi angina alami yang terus saja menghembus hingga habis waktu senja itu.
“Penuh sekali.“ Mereka mengeluh. Akhirnya duduk seadanya. Hanya dengan orang yang sedikit dimana satu meja penuh dengan ikan dan lalapan serta nasi minuman itu saja. Selanjutnya menuggu giliran. Dan yang melayani sangat banyak. Itu masih kekurangan. Karena suasana kali ini rupanya berbeda. Ada nuansa libur yang sudah lama diidam idamkan. Jadi banyak yang mengunjunginya. Bahkan saat semua ditutup karena pandemic, disini juga tetap buka meskipun selalu mematuhi protocol kesehatan. Dengan masuknya memakai pengukur suhu dan memakai aplikasi pedui. Maka akan nyaman. Yang dating aman, yang melayani juga nyaman. Pokoknya semua serba bisa diatur. Maka akan enak dikemudian waktunya.
Makanya menunggunya juga lama. Padahal lalapan sudah habis. Tertama welok yang direbus. Rasanya lumayan manis dan empuk setelah direbus ditangan yang benar. Belum lagi sambal yang pedasnya tiada tara. Semakin menambah asiknya lalaban tersebut. Sementara nasi dan ikan lama menunggunya.
Kemudian keluarlah panggang ikan itu dengan aroma khas yang snagat memikat di hidung serta ingin segera menghabiskannya sampai duri-durinya segala ingin ditelan walau tak mungkin. Setelah lama menunggu dan lalapan banyak yang habis.
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap.