
“Mana nih perangnya.“
“Sebentar. Pakai acara dong.“ Perang dalam sebuah pementasan begini juga dipakai buat ramai-ramai. Dimana yang sebelumnya berisi wulang reh antara seorang pemimpin dan andahannya atau seorang bijak buat para siswa, kali ini langsung hiburan. Disini biasanya dipertunjukkan sebuah sabetan, memainkan wayang yang seperti hidup kala berkelahi antara para satria dengan raksasa, kebenaran melawan kemungkaran. Yang masih menggantung. Karena menunggu akhir dari lakon itu. Makanya disebut perang gagal.
“Judulnya apa sih.“
“Bima kumara ini.“
“O sama dengan Bimaya Kumara Si Galigi ya?“
__ADS_1
“Hus, itu lama sekali. Ini beda lah.“
“Kan sama judulnya.“
“Judul sama, Cuma sekarang banyak faktor. Ada hiburan ada yang ma hyang, ada juga lawakannya. Komplit. “ Memang keberadaan hiburan ni sudah sangat lama. Dalam konteks sama. Karena sekarang ceramah juga mesti ada hiburan. Kotbah yang ber jam-jam juga. Karena supaya audience juga tak bosan. Tak terkecuali dengan memainkan wayang itu. Ada ajaran dan diselingi dengan berbagai hiburan. Mungkin memang bukan tujuan utama. Tapi pertunjukan juga memerlukan banyak penggemar. Dan salah satunya dengan membuat para penonton untuk sampai pagi bertahan mengikutinya. Karena buat apa sebuah pertunjukan jika tidak ada yang melihat. Itulah akhirnya yang membuat sebuah pertunjukan wayang berkembang dari awal nya yang hanya begitu begitu saja, membeberkan sebah kisah, menjadi bentukan lengkap berbiaya mahal akan suatu tontonan yang tidak membosankan. Sehingga boleh di katakana antara tiap dalang mempunyai ciri khas nya sendiri demi mendapat perhatian para penonton itu. Bahkan ada kalanya satu Dalang dalam pertunjukan di tempat yang sama namun pada beda waktu akan ada sedikit perbedaan dalam melakonkan wayang tersebut. Itu usaha dalam membuat mereka tak bosan. Karena kalau namanya bosan, meskipun kelihatannya melihat namun hanya akan duduk saja pada sudut tiang teratak sembari mulut menganga tapi mata terkatup.
“Kalau dulu?“
“Gitu. “
__ADS_1
“Iya. Yang di pakai buat ma hyang, mayang, itu sebuah wayang. Namun berikutnya wayang di buat berbagai versi. Jadi awayang. Dalang yang memainkan ma hyang. “
“Si Galigi itu.“
“Ya sekarang bukan Si tapi Ki. Ki dalang. Ki awayang. Pelakon yang memainkan tokoh lakon. Sehingga pada kisah berikutnya wayang di katakana ngudal piwulang. Sebab kata-kata bijak, wulang tutur, dan ungkapan kisah yang benar sebagai tuntunan tersaji lewat hiburan yang berisi antara lain memberi wejangan dan piwulang, ajaran tentang baik dan benar, salah dan keliru nya sebuah perbuatan. Sehingga ada tokoh yang di kanan dan di kiri. Untuk mengartikan bahwa dalam hidup ini ada yang benar dan salah. Dan dalam kisah mesti memberi kemenangan bagi si benar. Supaya orang-orang yang menonton juga berlaku sesuai ajaran, dan tak menyimpang nya. “
“Nah perangnya mau mulai.“
“Mana?“
__ADS_1
“Yah, ketutupan orang. Yang depan duduk dong.“
“Dan pembelajaran itu usai saat tancep kayon ya. Tertancapnya kayu. Sebagai akhir dari sebuah kisah. Antara usai memberi ajaran. Mencontohkan tentang kesengsaraan hidup. Dan membuat diri terentang antara langit dan bumi dalam sebuah seni pagelaran semalam suntuk. “