
“Masih agak sore,” ujar Antony yang merasa jika masih ada waktu demi terjalin lebih akrabnya suasana. “Kayaknya belum terlampau malam.“
“Jam berapa sih?“
“Tahu“
“Ya sudah Sini mampir mendoan.“
Mereka kembali mampir pada suatu kerumunan di pinggir jalan, dimana ada orang berjualan yang sangat ramai.
“Yang lebar apa sedang?“
“Kecil ada?“ ujar Claudia, takut kalau terlampau besar tak akan muat perutnya.
“Tak ada lah,“ jawab Antony. “Yang kecil itu paling untuk tempe garit atau tempe wuda, istilah disitu, yang tidak pakai kemul atau pakai selimut gandum nya.“
__ADS_1
Duduk di kursi panjang pada belakang penjualnya. Disitu hampir tak ada orang, kebanyakan mereka-mereka ini pada ngantri di depan. Ada yang cuma minta bungkus, terus dibawa pulang. Ada yang dimakan sambil berdiri dengan minta minum air putih atau teh tawar saja setelahnya. Sembari menghilangkan rasa pedas akibat banyak makan cabe, maklum murah seperti cabe-cabean.
“Minum ini saja es soda gembira.“
Entah apa julukannya. yang pasti hanya air susu kental manis dalam bungkus, sekali tuang, lalu dibubuhi es batu hingga segelas penuh, dan dituang air berkarbonasi. Itu sudah disebut soda gembira. Padahal air soda sama air karbonasi katanya berbeda.
“Nah matang.“
“Wih, lebar sekali.“
Setelah menunggu lumayan lama, pesanan mereka datang. Pertama tentu saja minumannya yang dibuat cepat. Selain itu karena tidak mengantri.
Mereka mulai mencicipi. Diambil satu. Itu juga sangat besar, hampir satu hasta, lebar rentang telapak tangan panjangnya atau untuk empat ukuran normal mendoan dijadikan satu. Biasanya itu dibungkus dengan plastik jadi bisa lebar.
Lalu dituang sambal cair dan kalau kurang pedas memakai cabai hijau langsung petik yang nikmat sekali
__ADS_1
“Habis berapa?“
“Dua saja sudah sangat kenyang. Belum lontong. Sebagai penyeimbang agar gorengan yang penuh minyak itu, tak terlampau menggigit bibir.“
Lumayan lama mereka duduk sembari mencubit sedikit demi sedikit mendoan panas dan setelah kenyang,
“Yuk, sudah dibayar. “
“Kemana lagi kita?“
“Mampir mol? “
“Tidak ah, sudah malam. Paling kalau kita masuk, belum puas baru memutar satu lantai saja, sudah tutup nanti. Mana nyaman. “
“Ya sudah.“
__ADS_1
“Nah pulang saja.“
Daripada nanti menjadi pertanyaan orang rumah, mendingan istirahat. Besok, kalau kita keluar kan masih diijinkan.