
“Mau pergi lagi ini Kleo,“ ujar si Antony. Sedari pagi dia membantunya. Seperti sebelumnya. Kalau sedang tak ada kegiatan. Maka dia pergi untuk membantu berjualan temannya yang demikian suka jika di bantu. Maklum mumpung ada kegiatan.
“Mau kemana lagi?“ tanya si Kleo. Maklum jika tak ada yang membantu, akan repot juga. Sementara dia juga berjualan kalau sedang kosong dan tak ada pelajaran secara daring. Jadi antara senang dan sedih di bantu. Tentu saja senang karena ada rekan yang mampu memahami keberadaannya. Juga bisa berbagi kisah andai tak ada yang sedang membeli.
“Biasa, badminton nan dengan orang-orang kota yang kemarin itu.“
“Dengan main jus tiga itu?“
“Kali ini rally poin. Jadi jika empat belas sama, tak pakai jus tiga - jus tiga an. Tapi boleh kok minum jus.“
“Nah beli dulu,“ ujar seseorang yang datang dan meminta dilayani untuk sebuah jus yang jika hari jumat dapat gratis satu kalau beli dua. Makanya dia tak menyia-nyiakan apa yang sedang murah meriah itu. Sebab lain hari akan berbeda harganya. Itu yang menjadikan dia sangat butuh untuk di layani kala itu juga. Juga karena dia tengah haus-hausnya dimana sebelumnya selama berjam-jam dia tahan untuk tak meminum apapun agar bisa habis tiga botol minuman, beli dua dan ditambah satu. Namun harganya tetap dua saja. Ini yang menjadi daya Tarik bagi si penjual untuk membuat jualannya laku.
“Mau pergi malah beli.“
“Satu doang juga,“ ujar pembeli tak mau tahu. Dan Antony dengan sabar menjual apa yang di minta oleh sang pembeli tadi.
__ADS_1
Setelahnya, Antony segera meluncur ke lokasi dengan tergesa-gesa. Khawatir seperti kemarin yang sampai terlambat.
“Wah ramai yah,“ ujar Antony. “Sudah hampir selesai lagi nih?“
“Belum mulai,“ kata temannya. “Ini set dua. Penentuan kalau si pemenang menang lagi bakalan usai.“
“Kaya kemarin dong, aku membantu jadi penjaga garis dan wasit nya.“
“Bisa jadi.“
“Lihat sudah mulai.“
Pemain mulai dengan service nya. Diterima oleh lawan. Lalu dikembalikan lagi. Dan bola datang dengan bagus.
Smash!
__ADS_1
Bug!
“Wah temannya kena pukul . “
Raket yang buat memukul itu mengenai temannya.
“Di depannya sih!“ ujarnya berkilah.
“Payah nih.“ya
Mereka berdua terus saling hujat untung kena bagian raket yang lentur. Tapi karena kekuatan yang hebat membuat sakit juga. Sementara kok jatuh tak kena pukul.
Penonton pun sorak sorai suka dengan kejadian aneh tersebut.
Antony terus memberi tanda dengan dua tangannya. Kalau bola masuk atau telah meninggalkan garis. Untung hanya permainan sederhana dengan tak ada control komputer untuk merevisi keputusannya. Jadi sesuka hati saja dia main tangan.
__ADS_1
Sampai sore permainan mengasikkan itu terjadi. Antony dengan rajin menunaikan kewajibannya. Tapi kalau capek bergantian dengan temannya. Jadi tak terlampau capek. Dan suatu ketika dia main sembari bercanda. Dan raket tinggal pinjam. Serta kok nya memakai yang lama namun masih bagus. Tak seperti pertandingan sungguhan yang jika rusak kok atau patah bulunya satu sudah minta ganti. Ini tidak, kalau belum sampai habis bulu nya atau sampai bolanya meluncur melebihi rudal scud, belum mau ganti. Jadi pertandingan yang demikian mahal, oleh kedua anak sekolah ini hanyalah permainan murah saja yang hanya dilakukan main-main.