Senja Muram

Senja Muram
Gelora dulu


__ADS_3

“Yuk ah. Kita segera pulang,“ kata Claudia. yang mesti meninggalkan desa itu berikut misteri yang kali ini justru membuat kesedihan.


“Tak tega melihat de la cruz sedih,“ ujar Antony lagi yang melihat temannya yang sudah mempercayakan semua itu padanya kini ikut kandas


“Pulang ya.“


“Pulang cepat!“


“Heeh....“


Claudia langsung saja ingin meninggalkan tempat tersebut segera mungkin agar tak ikut larut lagi, “terus kita pulang.“


“Sekejap kita berputar. Buat hilang setres,“ ujar Antony yang melajukan kendaraannya menuju ke daerah selatan dari tempat itu dan tak ditemukan apapun pada diri si pengendara. Dia berharap, dengan sedikit memandang pemandangan alam di sepanjang perjalanan pulang akan sedikit membuat pikiran kembali normal. “Lewat pantai selatan saja.“

__ADS_1


Mereka terus menuju ke selatan dengan menyusuri jalanan beraspal dan diantara kendaraan ramai para pelintasnya ada sate yang khas di sepanjang perjalanan itu dan tak ada di daerah lain karena disini asal resep nya.


Kini mereka sampai pada suatu batas dimana sebelumnya tanah datar kini agak naik jalanan berkelok naik turun tapi sangat halus. Tanah di sana sudah keras. Dengan bebatuan yang mendasarinya. Meskipun dekat laut, tapi itu pegunungan batu. Dimana air hujan sudah menyeret bagian atasnya yang lunak. Dan yang tersisa hanya untuk bagian yang keras. Bahkan jika hujan sudah tak ada lagi tanah becek nya. Sehingga mobil juga bisa melaju di atasnya tanpa mesti selip. Beda dengan di bawah bukit, yang masih merupakan tanah aluvial muda. Dimana pada bagian atas bukit itu, tanah gemburnya dibawa dan mengendap pada bagian sini. Tak jarang tanah yang terseret tersebut membentuk daratan baru yang siap untuk dibentuk menjadi suatu hunian baru. Meskipun dampaknya, akan terjadi banjir, dimana air tak sepenuhnya masuk pada bagian bawah atau cekungan yang sanggup menampung banyak air itu.


“Lihat itu,“ Antony menunjuk pada suatu yang jauh namun terlihat apik dari atas tersebut.


“Wah bagus.“


Ada pemandangan indah dari atas bukit ini Antony berhenti pada sebuah bukit dimana dibawahnya ada pantai yang terbentang luas dengan pemandangannya.


“Tahu tidak?“


“Kenapa?“

__ADS_1


“Kalau tempat itu dulu pernah terjadi tragedi.“


“Apa itu?“


“Ada tsunami. Yang gelombangnya sampai ke bukit dan melahap apa saja,“ terang Antony. Namanya gelora. Kalau sampai darat memang demikian mengerikan. Apalagi daerah itu memang rawan gempa. Bisa sehari sampai 50 kali. Meskipun tak semuanya besar. Tapi runtuhan bebatuan di dasar samudera sana sanggup membuat getar di atasnya. Dan berikutnya menjadi tsunami yang mengerikan. Belum lagi kalau tumbukan lempeng benua yang besar itu terus saling menghimpit. Maka akan semakin besar akibat tabrakannya tadi. Dan berikutnya menjadi getar yang hebat. Dan mempengaruhi permukaan samudera luas tersebut. Hingga air yang demikian banyak menjadi bergejolak. Untuk kemudian meninggi. Menjadikan ombak dasyat. Yang mencapai puluhan meter.


“Yah Antony.“


“Kenapa?“


“Aku yang semula suka melihat pemandangan di bawah sana jadi ngeri mendengar ceritamu,“ kata Claudia merasa seram lagi. Dan mulai terbayang yang tidak-tidak. Kalau-kalau gelombang besar itu datang lagi bagaimana. Atau para korban yang tiba-tiba bangkit, lalu meraih kakinya untuk meminta tolong supaya dimandikan dan di kubur ulang secara terhormat. “Yuk pulang saja lah. “


“Loh tidak istirahat sejenak? Indah lo ini?“

__ADS_1


“Tak!“


__ADS_2