
“Disini juga sama saja paling banyak banget“
“iya muter-muter kota dulu kita“
“wah ramai sekali“
“yuk ke mol“
“wah ramai sekali“
“Mana parkirnya jauh banget. Melewati jembatan lagi ih,“ mereka mengeluh. Parkiran yang demikian luas langsung terisi penuh kala itu. Seakan tak ada hari lain. Dimana pada balik kampung. Dan yang di kota pada ingin keluar rumah hanya sekedar menyenangkan keluarga. Karena jarang-jarang ada momen istimewa begini. Bahkan ada beberapa diantaranya yang tak bisa kembali akibat berbagai aturan yang melarang hal tersebut. Dimana untuk menuju ke lokasi itu saja pada waktu sebelum ini mesti memutar-mutar kota, dan berbagai penyekatan yang dilakukan supaya mengurangi kerumunan. Kali ini sudah boleh. Maka seakan tak menyia-nyiakan kesempatan yang cenderung langka ini.
“Bagaimana lagi adanya. “
“Entar kalau tidak dapat tiket kita bisa jajan“
“Memang buka“
“Ya sudah“
“Ada yang buka lah“
“Kan masuk mol saja nggak bisa.“ Disitu penjaga melarang para pengunjung. Dari sistem penghitungan menunjukkan kalau kapasitas sudah tak memadai. Dari chek in data pribadi yang menunjukkan kalau kelebihan kapasitas.
“Bisa lewat lantai atas tapi.“ Dari situ ada ruangan lain yang belum penuh. Karena di lantai bawah banyak yang belum naik. Sementara di bagian atas belum banyak terisi. Jadi di masing-masing lantai masih cukup ruang yang bisa di tempati. Itu juga dilihat dari berbagai kepentingan akan masing-masing lantai. Dimana banyak diantaranya yang kurang diperlukan untuk saat itu. Makanya pada lantai tertentu orang-orang demikian padat namun pada beberapa lantai lain masih sepi. Bukan berdasarkan posisi lantai. Karena paling bawah juga kosong. Hanya mesin-mesin saja yang ada. Sementara untuk tempat kebutuhan sehari-hari yang sangat dibutuhkan, orang-orang banyak berkumpul. Walau sudah diijinkan, namun masih ada beberapa aturan yang tak boleh dilanggar agar penyakit jahat itu tak kembali datang. Menyerang. Menggoda.
“Ya ayo. “
“Wah haus tapi. Tadi belum minum.“
__ADS_1
“Ya sudah minum dulu. Beli yang enam ribuan aja.“ Mereka mencari beberapa kedai minuman yang ada. Namun banyak diantaranya yang penuh antrian. Jadi akan lama mereka bisa minum. Hingga pada suatu tempat menjual minuman, disitu tengah kosong. Dan mereka mampir. Namun berikutnya ada yang datang juga. Sama seperti mereka ingin beli. Untung mereka langsung dapat.
“Ini...“
“Teh ini.“
Dibawa air itu ke atas. Dimana tak boleh membawa minuman ke lokasi tersebut. Namun terkadang jika bukan dibawa ke lokasi menonton, masih diijinkan, sejauh masih di seputar lobi. Dan itu yang mereka lakukan.
“Coba kita nyari. Siapa tahu masih ada kedudukan.“
“Disini sama saja. Antrian mengular.“
“Mau bagaimana lagi dimana-mana sama. “
“Ih panjang lagi,“ mengeluh karena lumayan lama antrian nya.
“Diminum es nya. Supaya bisa sedikit bernafas, dan rasa haus bisa terobati.“
“Segar...“
“Mana keringatan lagi.“
“Langsung lenyap.“
Dihabiskan air dingin manis itu.
“Nah hampir sampai tempat loket nih.“
Tinggal beberapa langkah lagi sampai ke tukang karcis. Mereka mendengar percakapan pembeli.
__ADS_1
“Ada...“
“Iya tapi cuma satu di pojok depan.“
“Yah nontonnya mendongak terus nih kita. Juga jangan-jangan di dekat kita nanti orangnya kacau dalam menonton. Bisa saja dia duduknya bergerak terus sama sering menatap ke sisi lain, akibat posisi yang salah itu.“
“Kalau mau entar yang jam enam sore.“
“Ya lah.“
“Malam tapi.“
“Oke.“
Mereka membeli banyak tiket untuk jam tayang berikutnya. Karena yang sekarang sudah habis.
“Nah kita....“ Bertanya saat sudah berada di depan petugas.
“Bagaimana?“
“Adanya mau bagaimana lagi.“
Diambilnya kursi sisa itu.
“Ya silahkan.“
Mereka langsung masuk. Karena jam sudah lewat. Mereka langsung di arahkan sama penjaga sembari merobek tiket. Mereka menuju ke lorong panjang. Lalu mencari tempat dimana banyak orang sudah menatap layar yang sudah jalan. Sebentar mereka mencari kursi kosong. Baru dimatikan lampu saat menemukan kursi kosong itu.
“Kan mendongak kita.“
__ADS_1
“Dari sudut lagi.“
“Aduh....“