Senja Muram

Senja Muram
Rawa


__ADS_3

“Sini, Ikutan main.“ Banyak anak-anak yang tengah duduk menggelosor di lantai. Kemudian mengisi botol dengan air. Separuhnya saja. Dimana kalau didirikan sudah bisa cukup. Kemudian botol itu dilemparkan ke atas dengan perkiraan jatuhnya nanti akan tepat dengan kaki botol yang membuatnya bisa berdiri. Memang lumayan sulit. Terkadang jatuhnya tak tepat kaki. Karena dilemparkan secara memutar, kayak orang tengah salto. Hingga jatuhnya terkadang di samping botol, atau justru pada penutupnya. Tai karena dilempar berulang kali, membuat sesekali bisa tegak berdiri. Itu yang kemudian membuat si pelempar sangat bergembira bahkan ria.


“Yah lempar-lemparan begitu.“


“Kita ikut main sama anak-anak sebentar.“


Lalu makan-makanan yang sangat nikmat.


Barulah pergi lagi.


“Kemana kita?“

__ADS_1


“Tak tahu.“


“Ikutan main anak itu lagi saja yuk?“ ujar Claudia yang senang juga pada mainan kanak-kanak yang sudah jarang ditemukan di masa sekarang. Apaklagi buat mereka yang beranjak dewasa. Sangat enggan mainan begitu. Tapi merupakan kesenangan tersendiri kala main dengan banyak orang. Terasa hal begitu saja sudah menjadi kegembiraan. Dimana anak-anak lain pada main HP dengan game-game mdern yang bisa omunikasi dimana tak ada orang dan menjerit-jert bagaikan orang gila. Tapi itusudah jaman nya. Dimana anak-anak demikian ccepat menangkap apa yang menghebohkan baru-baru ini. Sehingga dunia pembelajaran juga kemudian mengadopsi berbagai permainan agar anak bisa mengikuti pelajaran dengan asik, tapi ada materi yang terserap. Jadi tidak hanya melulu main dengan daya hayal tinggi, tapi sama sekali tak ada pembelajaran yang diperoleh. Atau belajar sampai pusing, namun di akhirnya tetap saja pusing tanpa banyak yang masuk.


“Itu...“


“Iya. “


“Eh, asik tahu. Bisa bahagia kita. Main sederhana begitu bisa membuat hati senang. “


“Mendingan kita melihat rawa saja. “

__ADS_1


Disana ada bayam.


Ada kumuda. Yang terus mengapung. Tak mau tenggelam. Seakan disitulah tahtanya. Ada gelembung udara yang sengaja dia serap di batangnya yang berongga. Memungkinkan dia tetap mengaung. Dan seakan tak kekurangan minuman untuk penyegar tubuhnya. Lalu menjulurkan akarnya yang menjangkau hingga dasar rawa yang tak begitu dalam. Disitu dia menyerap sari makanannya. Untuk bertahan dari waktu ke waktu hingga musim berkembang biak terjadi. Dan akhirnya memenuhi permukaan air, serta menjadi naungan buat benih-benih ikan yang mulai tumbuh. Serta perlindungan anak-anak katak yang belum berkaki.


Ada juga kodok tetot tetot. Binatang tersebut sangat banyak. Terutama kalau musim kawin. Yang jika musim kemarau atau air tak ada mereka akan menari tempat teduh. Terkadang masuk ke rumah malahan dan menunggu di pojokan tempat yang lembab. Selain dingin, juga menunggu jika saja ada binatang terbang kecil yang datang mendekat. Ada nyamuk, laron sulung dan mungkin juga belalang sembah. Nanti akan dimakan sebagai sarapan yang mengenyangkan baginya. Dan jika musim sudah bergant, selepas hujan nani akan turu lagi ke rawa, dengan suara kidung alaminya yang demikian memukau bersahut-sahutan diantara mereka sendiri yang seakan seirama.


“Ya lah.“


“Nah kan disini asik. Melihat rawa yang tenang. Sembari menunggu matahari terbenam dengan mukanya yang muram, dengan larik cahaya yang menghias angkasa.“


“Oke. “

__ADS_1


Keduanya lantas duduk mematung. Sembari menatap rawa yang mulai surut, menunggu hujan datang lagi. Nanti kalau airnya melimpah akan meluap sampai jauh. Bahkan menelusup hingga ke rumah-rumah penduduk.


__ADS_2