Senja Muram

Senja Muram
Pulang


__ADS_3

“Tadi nggak ada barongan ya?“


“Iya.“ Barongan itu bentuknya semacam singa yang di angkat oleh dua penari. Mereka biasanya laki-laki. Dengan gerakan yang di mulai bagian kepala. Sementara si penari belakang memegangi buntut serta gerakannya mengikuti si kepala. Dan penari depan memainkan mulut singo barong itu dengan memegang dua pegangan dari kayu yang sesekali di katup-katup kan. Benturan antara dua kayu yang keras itu menimbulkan suara menyeramkan. Layaknya seekor singa yang tengah membuka tutup mulut lebar itu.


“Pentul juga nggak ada.“ Biasanya para grup Ebeg ini akan menyertakan dua tokoh tersebut. Walau memang tak pasti. Hanya kebanyakan. Yang sering malah barongan nya. Sementara penthul menarinya sesuka hati. Tak harus sama dengan grup para penari Ebeg. Karena dari seragam juga beda. Dan jajarannya juga tersendiri. Dia hanya seorang penari yang memakai topeng. Makanya di sebut penthul. Topeng tersebut bentukannya lucu, dari kayu dan sebelum main, biasanya di kasih kemenyan serta di mantra-mantra, supaya harum. Bahkan kalau dalam karnaval biasanya disertakan satu ekor ular naga dengan muka menyeramkan dengan di bawa pakai tongkat penyangga yang di usung oleh beberapa orang, mulai dari bagian kepala hingga ekor. Untuk yang satu ini mesti kompak. Antara si kepala yang menjadi awal, serta bagian bawah yang mengikuti terus dalam suatu gerak tari yang meliuk-liuk seirama gending ringkas seorang penari.

__ADS_1


“Ya kali, dana buat itu semua nggak ada. Atau memang pemeran nya nggak ada.“ Memang biaya terkadang di butuhkan juga untuk pementasan sederhana itu. Tentunya semakin besar dana yang ada, maka pertunjukan juga akan semakin meriah. Karena apa yang dibutuhkan sudah ada. Termasuk sewa kostum, pengadaan ubo rampe, serta memberi kebutuhan si penari yang ikut main. Karena kalau hal yang dibutuhkan tidak ada, maka akan tidak jadi pertunjukan tersebut di selenggarakan. Walau kesenian demikian tak hanya melulu mengenai dana. Bahkan ada kalanya para pemeran tak harus di bayar, tapi kebutuhan dan perlengkapan tetap ada dana nya. Sehingga mesti ada yang berkorban untuk semua itu.


“Kalau ada lebih ramai tuh. Apalagi jika ikut mendem.“


“Kalau penthul hanya sekedar lucu-lucuan. Jika penari topeng ini tengah kemasukan, maka topeng biasanya di lepas. Soalnya menyembuhkannya sulit. Karena bakalan di usap kepala, tapi tertutup penthul itu, maka tak kena, nanti malahan nggak sembuh sembuh.“

__ADS_1


“Pasti jadi tuh? “


“Enggak juga. Yang kesurupan saja yang jadi. Kalau tidak, paling hanya ikut menari saja. “


Pada suatu rumah yang panjang dengan selasar yang luas, ada kerumunan yang tengah menyanding tiga buah tumpeng yang di hias indah. Mereka memandang mereka. Antony memandang mereka. Dan mereka memandang Antony. Lalu salah seorang dari mereka berucap, “Eh Antony. Sini… Kita makan-makan dulu, ya kan.“

__ADS_1


__ADS_2