
“Kita makan ini.“
“Gini lagi?“
“Yang ada lah.“
Merekapun memarkir kendaraan pada sebuah warung di tepi jalan yang sangat sunyi. Penuh dengan pohon-pohon besar. Dan semak belukar masih ada di kanan kiri jalan.
“Ini di hutan kah?“ Melihat betapa sunyi nya daerah itu. Yang masih penuh dengan semak. Dan pepohonan yang besar-besar. Serta sangat sunyi. Suasana seperti hutan. Tapi bukan hutan. Biasanya hutan itu tempat yang liar. Ini masih ada pemiliknya. Yang dikerjakan oleh orang umum sehingga menganggap bukan hutan. Karena sudah menjadi milik warga. Kalau hutan itu milik pemerintah. Meskipun daerah itu memang sengaja di buat hutan. Dalam artian di tanami pohon-pohon yang berusia panjang. Sekedar untuk diambil kayunya. Yang usianya bisa puluhan tahun. Atau sekedar beberapa tahun tapi untuk dipakai sebagai sebuah bahan tak tahan lama. Dan itu nanti bisa untuk kayu bakar, atau sekedar penguat bangunan yang sementara sebelum diganti dengan yang kuat. Dan itu semua bentukannya sudah menyerupai hutan. Dimana kayu-kayunya besar, sehingga kalau menjelang malam daerah itu sudah sangat sunyi. Meskipun demikian jalanan nya masih di lalui hingga malam dating. Bahkan menjelang pagi. Karena menghubungkan daerah ramai di pinggiran kota. Yang memang masih banyak penghuninya untuk saling berkomunikasi. Dan jalan itulah salah satu media penghubungnya. Apalagi jika alat komunikasi tak cukup untuk saling memutuskan hal penting. Walau pagi menjelang, masih tetap dipakai sebagai penghubung tadi. Dan yang menjadi kemudian pentng adalah tak adanya kalan lain. Hingga mau tidak mau mesti melewati jalanan sunyi itu. Untungnya masih dalam suasana aman. Sehingga masih saling menjaga tanpa adanya tragedy memilukan yang berikutnya tercipta.
“Bukan. Ini cuma di warung tepian.“
“Ya lah.“
__ADS_1
Merekapun menuju warung itu. Dan ke sebuah tempat duduk pada tepiannya. Dimana ada bangku panjang. Serta mejanya dibuat panjang dan agak tinggi. Itu tempat ideal buat para pejalan yang tengah istirahat guna melepas lelah. Sehingga makanan demikian saja rasanya sudah sangat nikmat.
“Bu pesan es capcin sama….“
“Apa?“
“Gorengan ya.“
“Apa!“
“Apa,“
“Cabainya ya.“
__ADS_1
“Apa…“
“Pedes.“
“Oke….“
Merekapun menikmati makanan begituan yang mungkin akan sangat mahal jika ada di tepat yang mahal juga. Namun kali ini demikian saja. Duduk pada warung tepi kesunyian, hanya dengan duduk beralaskan kursi.
“Wah panas.“
“Jangan di goreng dong.“
Sedikit demi sedikit. Lama-lama habis banyak. Tentunya sembari menikmati rasa yang tersaji. Sehingga bagi para penikmat semua itu tentu akan menjadi satu kegemaran tersendiri. Dimana uang tak segalanya. Terkadang harga sama, tapi racikannya beda, juga akan membuat masakan itu lain. Dan orang-orang akan memburu rasa yang enak dengan harga sama saja. Makanya akan sangat teliti masalah ini. Kalau tak enak langsung menjadi pergunjingan. Sudah umum juga demikian. Akibatnya para penjual akan membuat masakannya sedemikian rupa menjadi enak dan para penikmat akan merasakan yang berlebih setelahnya.
__ADS_1
Lalu membayar setelah kenyang. Seperti biasa, pada kampung tepi hutan tersebut, makan setelah membayar. Hal ini lumrah. Tak seperti di kota. Yang akan meminta bayaran dulu. Selain sudah nyaman, karena apa yang dibutuhkan sudah terlunasi, serta tak khawatir andai tak bawa uang, yang mungkin lupa, atau dompetnya terselip di celana cucian.
Selepas itu mereka jalan lagi.