Senja Muram

Senja Muram
WA


__ADS_3

“Nah minta bantuan ini.“


De La Cruz datang dengan membawa orang yang membawa-bawa cangkul di pundak nya.


“Siapa Dia?“ tanya Antony sembari melihat orang yang nampak sudah tua namun otot-ototnya kuat. Maklum pekerjaannya memang demikian yang memerlukan otot guna terselesaikan apa yang mesti dia garap.


“Phartha Indulgensiano alias Wa Ta’i,“ ujar Cruz. Dia terus berusaha mencari apa yang dibutuhkan temannya.


“Wih...” Antony hanya manggut-manggut- . “Dia orang sini kah?“


“Iya. Sangat pengalaman dan sangat piawai soal li menggali ta iye,“ ujar De La Cruz lagi. Sebab memang itu yang dibutuhkan guna mendapatkan hasil maksimal. Kalau orang asli maka akan sangat memahami lingkungannya juga berbagai kejadian sebelumnya berkaitan dengan lokasi tersebut. Sehingga akan sangat membantu demi terkuaknya misteri di tempat itu.


“Mau apa?“ tanya Wa Ta’i.


“Mencari duit.“


“O,“ Wa *** hanya main angguk. “Berapa?“


“Enam juta lah.“


“Banyak amat.“

__ADS_1


“Hehe...“ Mereka hanya mengekeh. Main jawab sekenanya. “Biar dia mau menggali kan untuk kita kan? Nyari sumur yang dijadikan tempat sampah.“


“Dimana ya,“ Wa Ta’i main cari. Sembari menunjuk-nunjuk dan mengorek tanah gundukan kalau ada. “Paling daerah ini. Sumur itu ada di sekitar sini dulu, tapi sudah di kubur dengan tanah dan macam-macam sampah. Soalnya sumurnya sudah runtuh. “


Berikutnya Wa Ta’i menuju suatu lokasi yang aneh.


“Ini.“ Dia berhenti pada sebuah tempat yang kelihatannya masih merupakan timbunan baru.


“Bener ini?“ tanya Antony.


“Iya. Soalnya disini dulu tempat yang ada sumur runtuh itu.“


“Tak berair kah?“


“Ya sudah gali.“


“Seberapa dalam?“


“Palingan dua belas meter,“ jawab Antony sekenanya.


“Dalam amat.“

__ADS_1


“Ya gitu. Disana kali ada duit enam juta.“


Wa Ta’i mulai menggali-gali pada tempat tersebut yang menurut ingatannya dahulu ada lubang bekas sumur yang dulu pernah dipakai namun sekarang sudah tak ada bekas.


Benar saja, belum juga lama dalam menggali, sudah menemukan banyak sampah.


“Wah, ada pisang, pepaya, daun kering, rumput tetangga.“ Semua itu dicangkul oleh Wa Ta’i yang merupakan penggali sangat hebat tenaganya. Kemudian dengan pacul itu juga semua dilemparkan ke atas. Kotak kaleng juga ada. Maklum memang tempat sampah.


“Wih bau ini,“ ujar Wa Ta’i.


“Tempat sampah ya baulah. Kan pada membusuk tanaman itu,“ ujar Antony.


“Pistol bekas ini,“ ujarnya terus menggali sedikit demi sedikit dengan cangkul yang terus menerus menemukan sampah yang banyak jenis dan ragam nya.


Setelah lumayan lama, Wa Ta’i nampak kerepotan.


“Baru semeter doang ini.“ Antony heran. “Terus dong.“


“Masih seberapa dalam mesti diambil sampahnya?“


“Lebih dalam lagi.“

__ADS_1


“Wah kagak kuat ini tong,” kata Wa Ta’i dengan nafas memburu dan keringat bercucuran. “Mesti bawa bantuan. Tambang dan sebagainya buat menarik sampah-sampah ini ke atas.“


__ADS_2