
“Mayat Itu?“
Claudia ingat saat di sungai ada suatu mayat yang aneh dengan kepala hilang di makan oleh mahluk ganas. Semuanya itu sudah menjadi pemikiran bersama kalau kepala itu hilang dan dimakan oleh mahluk ganas penghuni desa algojo itu.
“Dia tetangganya,“ kata Antony yang menunjuk pada salah satu tetangga yang rumahnya berdekatan dengan si Pretoria itu. Diantara rumah ini dengan rumah Trajan.
“Karena melihat Pretoria saat beraksi,“ ujarnya lagi dengan mengungkapkan logika yang telah berjalan sebelum itu, di rumah itu dulu. Di malam jahanam itu, sang tetangga melewati depan rumahnya dengan diam-diam. Memang hal yang lumrah kalau seseorang yang apalagi masih merupakan warga desa sepi itu, melakukan aktifitas di malam gulita. Namun baginya, itu merupakan suatu keanehan yang dianggapnya tak biasa. Bagaimana seorang wanita mesti menghampiri rumah orang yang sudah berkeluarga dengan diam-diam tanpa tujuan yang jelas. Lalu dia mengikutinya. Berikutnya dia dengan jelas menyaksikan kelakuan nya itu, mulai dari awal mulainya terjadi bencana hingga seperti yang sudah kita lihat kali ini. Makanya di kemudian waktu, dia berusaha mendekati si wanita serta bercerita kalau dia sudah mengetahui apa yang tengah di perbuatannya pada keluarga Trajan.
Pretoria terkejut menghadapi kenyataan itu. Rupanya dia keliru memperhitungkan waktu, dimana desa yang sunyi begitu masih ada yang terjaga. Sehingga apa yang dia perbuat sesuai dengan rencana detail dengan calon suaminya andai segalanya berjalan lancar, mesti melibatkan orang lain lagi.
__ADS_1
Dia lalu berusaha se-maksimal mungkin, supaya rahasia besarnya tak bocor. Sehingga akan mengacaukan rencana yang sudah dia susun dengan si Trajan dengan susah payah itu.
Makanya dia berusaha menjanjikan uang enam juta agar si tetangga mau tutup mulut dan tutup segalanya agar rencana yang dia susun berjalan lancar. Tentu saja tetangga yang mengetahui rahasia besar tersebut sangat bersedia. Apa sih yang tak tergiur. Di kampung uang sebesar itu sudah bisa membeli barang yang mewah. Bahkan kalau dikembangkan akan menjadi berlipat ganda serta sanggup membeli tanah dan tegalan. Itulah akhirnya yang membuat sang tetangga tanpa pikir panjang langsung bersedia menyanggupi untuk tutup mulut yang sebelumnya tutup hidung dulu.
Berikutnya bernada kesepakatan tadi ditaruhnya pada suatu kotak. Supaya tak kentara, kalau orang lain melihat, untuk tak mencurigainya. Lalu kotak dihanyutkan. Agar isinya tak basah, uang itu lalu di bungkus plastik sebelum masuk ke kotak. Dan si tetangga disuruh menunggu pada hilir sungai guna mengambil pada alirannya itu, saat di hanyut kan dari arah hulu.
“Barangkali biar tidak ketahuan orang lain lagi, sehingga peristiwa yang semestinya akan ditutup justru tersebar luas.“
“Namun di kedung peti tersangkut sesuatu dan tak bisa berjalan lagi.“
__ADS_1
“Saat itulah Si Pretoria melihat orang yang tengah menunggu, berikutnya menembak si tetangga yang tengah kebingungan karena kotak nya tak kunjung datang. Dengan berondongan yang tak terarah membuat si tetangga kehilangan kepalanya.“
“Bisa Begitu Ya“
“Yah, kalau cuma satu maka hanya akan membuat luka bolong, tapi kalau banyak peluru yang keluar, maka bisa membuat leher putus dan kepala menggelinding ke sungai untuk terseret arus hingga ke hilirnya. “
“Buaya yang kita lihat?“
“Itu barangkali buaya yang tersesat hingga kemari. Jangankan disini yang antara sungai masih terhubung. Pada suatu sungai di dekat pantai juga sering nampak buaya yang tidak hanya satu, bahkan sampai tujuh. Itu suatu hal yang wajar dimana hidup mereka memang di air.“
__ADS_1