
“Ujian nih kita.“
Sebentar lagi sudah mulai ujian sekolah. Dan masa-masa akhir mereka berada di sekolah tersebut. Mereka mau apa terserah. Tapi sebagian besar menginginkan lanjut. Sebab merasa masih muda. Dimana masih banyak jalan guna menjangkau banyak cita-cita. Dimana mengarungi bahtera perkawinan sekarang bukanlah suatu akhir dari keinginan melanjutkan kehidupan. Memang itu suatu hal yang pantas di tuju. Karena merupakan pilihan hidup. Dimana akan ada generasi yang nantinya akan melanjutkan mengisi dunia dengan segala tantangan nya. Tapi jika mau melanjutkan juga sudah menjadi kebiasaan sekarang. Biasanya setelah lulus akan kuliah. Biasanya setelah kuliah nanti baru menikah. Biasanya kalau langsung menikah bekal hidupnya kurang. Makanya sekarang sudah menjadi kebiasaan pula, mereka-mereka ini pada nikah tua. Sebab pilihan itu sekarang menjadi semakin berlipat. Dan hanya akan kacau jika mengejar satu saja. Lagipula pilihan yang hanya satu itu paling tepat. Terkadang ada kendala yang dilewati. Sehingga tak jarang banyak yang kandas. Dan itu tak hanya terjadi sekali dua kali saja. Perkawinan dini masih memerlukan beberapa tahapan lagi yang ujung-ujungnya bermuara pada satu kegagalan. Meskipun semua juga sama-sama atau tantangan. Tapi resiko gagal dari sebuah teori kemungkinan, maka yang besar persentase akan kandas itu pada perkawinan usia muda. Banyak faktor yang melatar belakangi itu. Faktor kejenuhan, tak nyaman lagi, sampai pada keinginan memiliki rumput tetangga yang dirasa lebih hijau itu, membuat ingin secepatnya pisah dan memilih jalan masing-masing.
__ADS_1
“Ya sebentar lagi.“
“Mau lulus atau enggak.“
__ADS_1
“Yah bagaimana lagi kalau setelah ini sudah ada yang mengisinya kita tak punya kursi nanti.“
Itulah kalau lagi senang di situ tetap mesti pidah. Atau jika tidak sama saja. Mana ijazahnya juga lama menanti nya. Tapi yang senang karena telah lama bercokol di sekolah juga bakalan hengkang dari situ. Sebab sudah tiga tahun lamanya kebersamaan itu. Dan selama ini banyak yang dilewati. Makanya ada keengganan untuk pisah. Ingin menghabiskan waktu tambahan lagi. Sebab di dunia yang baru nanti juga akan menemukan komunitas lain yang tingkat kesulitannya belum di pahami. Sementara sekarang jelas sudah ketahuan, baik buruknya, atau dalam lubuk hati terdalam seakan sudah di hafal betul akan tabiat dan berbagai segi yang tak di kenal kalau cuma sekedar melihat. Itu yang menjadi beberapa alasan akan keengganan meninggalkan tempat itu. Bahkan kalau harus membina rumah tangga, dimana sekarang sudah tak jelas kumpul antar teman itu bagaimana. Walau tak jarang kalau mesti kumpul kembali. Atau kemudian saling kunjung guna memperpanjang tali persahabatan itu. Dan celakanya lagi kalau mesti dibatasi lagi oleh satu tembok tinggi akan banyaknya aturan itu. Dimana sebenarnya itu juga satu tujuan. Karena ada anggapan kalau masing-masing kita itu memiliki jodoh yang sudah diatur. Tapi kenyataan bagaimana panjangnya waktu, dan titik kejenuhan terkadang hadir, juga menjadi pertimbangan kini. Tak semudah itu rasanya membangun satu biduk rumah tangga yang tanpa goncangan. Sebab layaknya mengarungi samudera, seberapa teduh air luas itu, maka di suatu masa akan ada karang atau badai yang senantiasa datang dan ingin mengguncangkan suatu tujuan hidup tersebut. Jadi mesti di hadapi dengan tabah, karena sejauh ini banyak yang sanggup mengatasinya.
__ADS_1