
“Mana Si Antony?“ tanya pak Comodus KDL yang entah mengapa pagi itu uring-uringan. Kali saja baru mendapatkan laporan tentang hal yang buruk buat anak didik nya yang bisa membuat jelek keluarga, dimusuhi sama keluarga.
“Tahu pak lagi main badminton kali,“ ujar temannya.
“Kalau tidak, tengah pacaran sama anak sekolah tetangga itu sembari pinjam mobil orang tuanya sembari bergaya.“
“Atau jualan pak. Dia biasanya ikut sama si Cleo di keramaian. “
“Wah itu anak ya. Sudah mau ujian, malah main melulu. Nanti kalau tak lulus bagaimana? Sebagai guru tentu malu dong murid yang sangat dibanggakan malah gagal,“ ujar Bapak seraya mencari ke tempat yang dikatakan sama anak-anak tersebut. Dia tentu sangat khawatir. Bagaimana kalau tak lulus. Atau mendapat nilai jelek, padahal dia anak terpandai. Nanti kalau hal itu terjadi, tentu akan mencemarkan nama baik. Sedini mungkin di cegah. Dia harus mengatakan tentang kebenaran itu, agar si anak lekas belajar, menuntut ilmu yang bermanfaat, untuk selebihnya bisa mengaubkan suasana hati. Agar tenang dalam menghadapi ujian asesmen yang akan di kenakan pada setiap siswa. Kalau semua itu berhasil di hadapi, tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik. Dan berikutnya menjadikan satu kesenangan buat semua. Terutama sekolah yang tetap stabil menerima semua kenyataan di tahun baru nanti. Baik itu pendapatan murid terbaik, atau bantuan yang bisa dipergunakan sebaik mungkin sesuai dengan jalur yang sudah diinginkan sebelumnya sesuai permintaan. Sehingga anggaran juga tepat guna.
__ADS_1
“Tuh Ant, lu di cari.“
“Wah gawat.“ Antony panik. Segera dan segera dia mesti menyembunyikan diri. Untuk berikutnya bisa menghindarinya. Gawat kalau kena. Terlebih lagi akan segera kena poin yang akhirnya bisa mengurangi nilai nanti. Sebab nilai disini sangat penting. Meskipun tidak semua segi di nilai pakai angka-angka. Sebab ada yang mengandalkan akhlak dan kebajikan, tapi selama beratus tahun sebelum ini juga nilai tadi sebagai patokan serta kepantasan dalam menempuh ilmu yang dilalui. Mulai dari dasar, dari sekolah rumahan, hingga perguruan tinggi, penilaian itu tetap menggunakan angka-angka. Sebab akan kebingungan kalau patokannya berbeda. Tak bisa setiap lokasi membaca akan nilai itu. Beda kalau disatukan dan menyeluruh. Maka akan mudah dipahami oleh semua pihak. Terutama buat mereka - mereka yang berkompeten akan hasil tersebut.
“Sana segera ngumpet.“
“Kemana kau mau bersembunyi?“
“Paling di WC.“
__ADS_1
Bergegas Antony masuk ke ruangan sempit itu. Kalau tidak akan segera kena, dan diomeli macam-macam yang tak mungkin dia jawab. Makanya lebih baik menghindar untuk ketemu esoknya paling sudah melupakan kejadian penuh tragedy hari ini. Sembari berangkat, dia membawa bekal macam-macam. Ada bubur kacang burjo, surabi hangat, berikut snack jatah pagi ini. Paling bingung kalau kehausan. Tidak mungkin dong jika mesti minum air keran.
Benar saja. Bapak guru yang terhormat itu sampai pada rekan si Antony. “Kau tahu dimana Antony?“ tanyanya dengan nada sangat berwibawa.
“Dia tadi pamit ke toilet pak,“ jawab anak itu seraya menunjuk dimana Antony berada. “Betah dia di dalam pak, soalnya bawa makanan segala.”
“Anjir. Dasar kampret. Malah menunjukkan lokasinya!“
Si Antony mangkel plus marah-marah. Namun tak bisa marah sama temannya, nanti kalau dia mendekat, tentu justru akan dimarahi sama guru killer itu.
__ADS_1