Suami Sewaan

Suami Sewaan
Lepaskan Aku


__ADS_3

Ridwan mendekati Anggi yang sudah siuman, ia lalu menyodorkan segelas air pada Anggi


"Makasih" ucap Anggi parau


"Anggi, boleh mas bicara sesuatu, jika kamu tak berkenan, kamu bisa menolaknya.


Tapi mas mohon kamu pikirkan baik-baik perkataan mas ini lalu kamu putuskan masak-masak sebelum kamu memutuskan" ucap Ridwan hati-hati yang di balas anggukan lemah Anggi


"Mas mau bertanya apa yang akan kau lakukan sekarang? "Ridwan menatap Anggi dengan lembut


Tiba-tiba Anggi menitikkan air mata, dengan sabar Ridwan menghapus air mata Anggi


"Sebagai dokter mas sangat kwatir dengan kesehatanmu dan anakmu, sebagai kakakmu mas peduli akan dirimu dan keselamatan anak dalam kandunganmu, mas ingin melindungimu" Ridwan membelai rambut Anggi


"Anggi hanya mau membesarkan anak ini dengan antau tanpa mas Satria" ucap Anggi terisak


"Jangan menangis lagi, simpan energimu untuk anakmu, jika kau sedih dia akan merasakannya" bujuk Ridwan lembut membuat isakan Anggi terhenti perlahan


"Aku ingin pergi mas, bawa aku pergi menemui mas Bram" ucap Anggi tiba-tiba


"Dengarkan mas, jika kamu menemuin Brams saat ini, Satria akan berfikir jika dugaannya benar bahwa anak itu anak Brams, jangan libatkan Brams lagi dalam permasalahan keluargamu, jika kau sayang sahabatmu itu" Ridwan berusaha menasehati Anggi, ia harus meminalizir terjadinya kesalahan dalam rencananya kali ini ia ingin membuat Satria menyadari kesalahannya sekaligus mengingatnya seumur hidupnya


"Apa kamu mengerti sayang? mas tidak mau kamu semakin di posisi bersalah, walau pada kenyataannya kamu benar. Terkadang apa yang terlihat tidak seperti kenyataannya, namun orang cenderung menilai apa yang di lihatnya" Anggi menganggu meresaki kata-kata kakak angkatnya itu, untung saja Ridwan menasihatinya, jika tidak maka kebenaran akan anaknya selamanya akan salah dimata Satria


"Aku mau pisah dari Satria mas" ucap Anggi tiba-tiba membuat Ridwan menatap terkejut, ia bisa melihat rasa sakit yang di torehkan Satria padanya sangat dalam, namun disana juga terlihat masih ada cinta untuk Satria


"Anggi, Allah tak melarang perceraian, namun Allah membencinya, lagi pula wanita yang sedang berbadan dua tidak di perkenankan bercerai, tunggu anak itu lahir, baru kalian bisa bercerai.


Namun mas mohon padamu sekali ini saja tolong dengarkan mas, pikirkan anakmu dulu, masalahmu dengan suamimu, biarkan mas yang bantu selesaikan.


Masalah jika akhirnya kamu memutuskan kembali atau berpisah dengan Satria, itu kembali padamu, kami semua tak akan mencampuri urusan pribadimu, namun alangkah bijaknya semua itu dipikirkan dengan kepala dingin, jangan putuskan sekarang saat perasaanmu mengalahkan logikamu, ok" Ridwan membelai rambut adik kesayangannya itu berusahan menenangkan Anggi

__ADS_1


"Bawa Anggi? keluar dari rumah ini mas, tolong" ucap Anggi menangkup kedua tangannya memohon dengan airmata yang membanjiri wajahnya yang cantik


"Iya, ok, ok, mas akan bawa kamu keluar, jangan nangis lagi, ingat bayi dalam kandungan kamu" Ridwan memperingati Anggi


"Dengarkan mas, kita akan keluar tiga hari lagi setelah kakek dan nenek kembali ke Bali"


"Mengapa lama sekali, Anggi mau sekarang mas" ucap Anggi tak sabaran


"Hufh, mas mau tanya sama kamu, apa kamu mau menghukum suamimu yang bodoh itu karena ia tak mempercayaimu?


Jika ia maka kamu harus ikut aturan main mas" Anggi mengangguk menuruti perkataan Ridwan, ia memang ingin sekali membuat Satria menyesal telah menyangsikan kesetiaannya terlebih anak dalam kandungannya"


Tiga hari lagi kita keluar, aku harap kamu mempersiapkan dirimu, jangan beritahu siapapun kemana kita akan pergi, tanpa terkecuali, tidak juga dengan asisten mu yang bernama Prapti itu, kamu bisa mengatakan ingin menenangkan diri tapi tidak dengan kemana kita akan pergi, apa kamu mengerti? tanya Ridwan tegas


"baiklah sekarang kamu istirahat, hari ini kakek dan nenek akan pulang, tapi kamu g usah kawatir, mereka sudah tahu rencana ini, mereka juga tidak akan membocorkan kepada Satria dimana kamu akan tinggal"


Lagi-lagi Anggi mengangguk


Ridwan meminta anak buah Putu agar menghalangi siapapun yang masuk kecuali Prapti, sedangkan ia segera menuju kamar Putu, disana Bagus dan kedua orangtua sudah menunggu


Tok tok tok


"Masuklah nak" ucap Putu dari dalam kamar


Ridwan lalu masuk, lalu mengambil duduk di sebelah mama angkatnya


"Mama, bagimana keadaan mama? apa yang mama rasakan? " tanya Ridwan memberondong pertanyaan pada Ayu


"Mama sudah tidak apa-apa asalkan kamu bisa mengeluarkan Anggi dari rumah ini dan menjaganya, mama akan baik-baik saja" ucap Ayu menatap putra angkatnya tersebut


"Ridwan berjanji akan menjaga dan melindungi Anggi dengan nyawa Ridwan sendiri" ucap Ridwan bersungguh-sunggu

__ADS_1


"Jadi apa kamu sudah berbicara dengan Anggi nak? " potong Putu


"sudah pa, dia setuju, tapi ada satu kendala, Ridwan mohon, jangan ada yang membocorkan keberadaan kami, siapapun tanpa terkecuali terutama Brams, agar masalahnya tidak semakin parah" Ridwan menatap semua orang yang berada di kamar itu


"Papa dan mamamu setuju" ucap Ayu cepat


"Gue setuju juga" timpal Bagus


"Ok sekarang papa akan jelaskan pada Bagus tugasmu, kamu tetal disini awasi dan bantu cucu papa, tapi bukan dalam hal mencari Anggi nanti, jika ia meminta bantuanmu, kamu samarkan saja, jangan kamu sampai bocorkan.


Mengenai wanita itu, menurut papa kamu biarkan dia tahu sedikit demi sedikit kebenarannya, sudah saatnya kebenaran terbuka, agar matanya tak tertutup lagi oleh cinta buta"


"Baik pa"


"Dan sebelum papa pergi, papa akan memberikan dia satu perusahaan papa yang berada di jakarta padanya, biarkan ia sibuk mengurus perusahaan, sehingga otaknya bisa teralihkan dari wanita itu.


Oh ya, mengenai jati diri papa, Anggi belum tahu, sebaiknya kita jangan sampaikan dulu, takut ia shock.


Anggi punya tangan kanan juga selain Brams, kamu bantu ia urus perusahaannya, dan perusahaan ini juga menurut kakek Satria tak tahu, betapa rumit hidup ini" Putu memijit keningnya yang terasa berdenyut, ia sudah mengetahui bisnis Anggi dan perusahaan Anggi merupakan perusahaan ternama, hanya saja Anggi lebih suka main di balik layar, ia tak mau namanya di publikasikan.


"Papa juga sudah menyiapkan kalian berdua masing-masing kalian akan mewarisi satu perusahaan papa, papa harap kalian bisa menjalankannya dengan baik" Putu menatap kedua anak angkatnya dengan penuh kasih, mereka lah berdua pelipur hati Putu dan Ayu


"Pa, ma, kami sudah kalian jadikan anak saja sudah sangat bersyukur, kalian melimpahkan kasih sayang layaknya orangtua kandung, kami tak bisa menerima ini pa, ma" ucap Ridwan menunduk haru


"Iya pa, ma, Bagus tidak mengharapkan apapun dari kalian, Bagus hanya ingin berbakti sebagai anak kalian" Bagus bersimpuh di kedua kaki orangtuanya, ia si bungsu yang paling penurut


"Papa tahu dan papa bangga pada kalian, begitupun mama kalian, kami memberi itu semua karena kami ikhlas, karena kalian anak kami yang lahir dari hati kami, tolong terima pemberian kami yang tak seberapa ini di bandingkan cinta kalian pada kami" ucap Putu menghapus air matanya


"Pa, please jangan sedih, jika itu keinginan papa dan mama, Ridwan dan Bagus akan menjalankan dan menjaga amanat papa dan mama"


"Terima kasih anak-anakku"

__ADS_1


Mereka berpelukan dalam haru dan bahagia


__ADS_2