
"Dasar cucu kurang ajar, apa yang kamu lakukan lagi sehingga membuat cucu mantu kakek pergi dari rumah, jika terjadi sesuatu pada Anggi dan cicit dalam kandungannya, kakek tidak akan memaafkanmu"
**Tut .... Tut.... Tut....
Panggilan berakhir
Satria mendengus kesal, karena terakhir nya adalah kakeknya sendiri, namun malah justru ia mendapatkan amarah dari Putu.
Satria menunduk lesu, ia masih tak percaya pada kakeknya sendiri, ia menaruh curiga pada kakeknya, sebab kepergian kakeknya kembali ke Bali terkesan ada sesuatu yang di sembunyikan
Satria lalu bangkit, ia segera menuju mobilnya meninggalkan Bagus yang masih berada di apartemen Brams
Bagis berlari mengejar Satria, ia tak mau kesalahan karena Satria melakukan tindakan bodoh
"Satria tunggu.....! "teriak Bagus, namun Satria tidak berkata apa-apa, setelah sampai mobilnya, ia langsung masuk disusul Bagus, lalu mereka meninggalkan apartemen itu
"Apa kau sekarang sudah percaya?? berapa kali kakak katakan jangan kau menyesal karena menuduh Anggi yang tidak-tidak dan sekarang kau baru merasa kehilangan setelah ia pergi"
**ciiiiiiittttthhhh......
Bruuuuuggghhhh**
Kendaraan yang mereka naiki berhenti mendada, lalu menabrak pembatas jalan. Hampir saja Satria menabrak sebuah truck bermuatan peti kemas di depannya, beruntung ia membanting stir ke sisi kirinya.
wajahnya pias, begitu juga Bagus yang shock beruntung ia mengenakan sabuk, jika tidak pasti tubuhnya akan menghantam dashboard mobil, wajahnya tambah tegang tak kala melihat kedepannya, sebuah truck besar yang hampir ditabrak Satria, mereka beruntung hanya menabrak pembatas jalan.
Warga yang melihat kejadian segera mendatangi mereka untuk melihat keadaan mereka.
"Astaghfirullah, sebaiknya kau turun, biar kaka yang bawa mobil ini" ucap Bagus menarik Satria keluar dari kendaraan mereka, beruntung malam itu sepi, sehingga hanya beberapa orang yang melihat kejadian tersebut.
Bagus meyakinkan bahwa mereka tidak apa-apa, sehingga warga membubarkan diri
Kini Bagus yang mengendarai mobil, ia hanya melihat bemper depan mobil yang penyok parah, namun ia bersyukur mereka lolos dari maut.
Sepanjang perjalanan Satria hanya diam sambil menarik rambutnya sendiri, Bagus tahu Satria sedang tertekan dan merasa bersalah yang teramat dalam pada Anggi
"Aku laki-laki egois, aku bersalah kak" ucap Satria lirih
__ADS_1
"Aku tahu dan satu lagi kamu keras kepala.
Dalam hidup terkadang kita perlu mendengarkan perkataan orang lain, bukan hanya apa yang menurut kita benar.
Karena benar menurutmu, belum tentu benar menurut orang lain, hargai pasanganmu, dengar ia, pahami ia, cintai ia dengan sepenuh hati" Satria hanya diam mendengar perkataan Bagus, ia mengakui jika dirinya sangat egois, mengabaikan perkataan semua orang
"Wanita itu sebenarnya mahluk yang Allah ciptakan unik, jika kita cintai mereka, maka mereka akan mencintai kita lebih dari yang kita berikan, jika kau sakiti mereka, mereka akan memaafkanmu berulang-ulang kali tanpa kau meminta, namun jika kau sakiti mereka, mereka akan mengingatnya selama hidupnya" Bagus hanya berharap apa yang ia katakan setidaknya bisa di dengar oleh Satria
"Aku tahu kak, dan aku lelaki paling bodoh di dunia ini" ucap Satria parau
"Aku juga tahu itu, aku pernah mengatakannya padamu" ucap Bagus melirik sekilas kearah Satria yang kian menundukan kepala
"Sekarang, apa yang mau kau lakukan? " selidik Bagus
"Aku akan mencari istri-istriku, aku tak mau hidup sendirian seperti ini, terlebih mereka pergi bersama anak-anakku"
"Apa sekarang kau sudah mengakui kesalahanmu? apa kau sudah mengakui jika Anggi mengandung anakmu? " tanya Bagus sangsi
"Mereka anak-anakku kak, aku harus menemukan keberadaan mereka walau di ujung dunia sekalipun" ucap Satria mengepalkan tangannya
"Hmmm, sepertinya akan sulit menemukan Anggi, mengingat kak Ridwan pintar sekali menyembunyikan diri sejak dulu, bahkan papa saja tidak bisa menemukan keberadaannya ketika ia memaksa Ridwan menikah dengan salah satu anak koleganya, saat itu Ridwan menolak dan kabur dari rumah dan keberadaannya lenyap seperti di telan bumi" ucap Bagus menghela nafas
"Ya, kakak terlahir dengan IQ diatas rata-rata, dia menyelesaikan pendidilan kedokterannya lebih cepat setahun dan melanjutkan spesialisnya dengan hasil cumlaude dalam usia sekarang kakak sudah menjabat wakil kepala rumah sakit" ucap Bagus bangga dengan prestasi Ridwan
"Aku tak tahu banyaj tentang dia, tapi mengapa dia membawa kabur istriku? apa ia menyukai Anggi kak? tanya Satria mendengus kesal
Pletaaaaakkkk
sebuah jitakan keras mendarat di kepala Satria, membuat Satria emosi
"Seharusnya kau gunakan dulu otakmu sebelum mulutmu yang beracun itu mengeluarkan ucapan" dengus Bagus tak kalah marah
"Apa aku salah? aku hanya menduga" kilah Satria tak terima
"Kapan kau bisa sadar hah? Ridwan ituemyayangi Anggi seperti adik kandungnya sendiri" ucap Bagus setengah berteriak karena kesabarannya sudah habis
"Maaf kak, aku tidak berfikir jernih" ucap Satria
__ADS_1
"Kau bukan tak berfikir jernih, tapi kau tak memakai logikamu untuk mencerna keadaan" ucap Bagus keluar dari mobil, lalu membantingnya dengan keras, ia berjalan menuju kediaman Anggi dengan emosi yang meluap
Bagus segera menuju kedapur dan langsung menenggak air mineral yang ia ambil darindalam lemari pendingin, sisanya ia siramkan ke atas kepalanya, berharap air dingin itu bisa membantu meredam kepalanya yang panas
"Mas Bagus kok mandi pake air mineral? tanya Prapti bingung menatap Bagus
"Saya sedang kepanasan" ucap Bagus singkat
"Tapi kan.... "
Bruuuukkkk
belum sempat Prapti melanjutkan ucapannya, ia sudah jatuh terjelembab ke lantai
"Kamu baik-baik aja?"tanya Bagus segera mendekati Prati
"Prapti gak baik-baik aja, semua gara-gara mas Bagus" ucap Prati sewot mengelus bokong dan pinggangnya yang serasa mau patah karena menghantam lantai, ia mencoba bangun, namun kakinya serasa sakit digerakan hingga air mata keluar dari sudut matanya
Bagus mencoba membantu, namun Prapti yamg kesal menepis tangan Bagus
"Saya minta maaf ok? ayo saya bantu" ucap Bagus lembut
Melihat Prapti yang merasakan kesakitan di kakinya, Bagus segera menggendong Prati ala bridal
"Kenapa dia kak? " tanya Satria yang baru saja masuk
"Bukan urusanmu, sekarang kamu keringkan lantai itu" ucap Bagus sinis, ia membopong tubuh Prapti menuju kamarnya, Prapti hanya menunduk malu, baru kali ini ia dekat sekali dengan Bagus, terlebih bisa melihat wajah tampan Bagus dan merasakan tangan kekar Bagus saat membopongnya
Sebenarnya Prapti ingin bertanya mengapa Bagus terlihat kesal pada Satria, namun ia urungkan karena merasa dadanya bergemuruh kencang , karena kedekatan mereka
Bagas meletakkan Prati di tempat tidur dengan perlahan
"Sakit di bagian mana? " tanya Bagus lembut
"Sepertinya kaki Prati terlilir mas" Prati meringis menahan sakit saat Bagus memegang bagian kakinya
"Sebentar" ucapnya keluar dari kamar Prapti, namun tak lama kemudian ia kembali dengan minyak gosok di tangannya
__ADS_1
"Tahan sedikit ya, ini pasti sakit" ucap Bagus lalu ia memijit kaki Prapti, sebenarnya Prati merasa tak enak karena walau bagaimanapun Bagus adalah tamu di rumah ini, namun rasa sakit membuat Prapti lupa akan hal itu