
Empat bulan kemudian
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, kini usia kandungan Widya sudah menginjak empat bulan, ia juga sudah tidak merasakan mual muntah lagi, morning sickness nya juga sudah berkurang separuhnya, kini Widya sudah bisa makan yang ia mau tanpa takut mual dan muntah.
Widya mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit, karena gejala mual muntah ya berkurang, bobot tubuh Widya bertambah, ia terlihat lebih berisi
Satria menjadi over protektif dan lebih memanjakan Widya
dalam hati Widya senang, namun ia juga merasa khwatir jikalau Satria tau siapa sebenarnya ayah biologis dari bayi yang dikandungnya.
Setiap waktu Widya seperti di kejar-kejar rasa bersalah karena telah berbohong pada Satria.
melihat ketulusan dan perhatian Satria membuat Widya merasa sangat bersalah.
Siang itu Widya baru saja sampai di sebuah mall elite di kota tersebut. sudah lama ia tidak berkumpul dengan teman-temannya, dan siang ini mereka janjian di cafe tempat biasa mereka menghabiskan waktu sambil ngopi cantik.
Ia sudah menghubungi teman-temannya di cafe tersebut.
Widya bergegas menuju cafe, baru beberapa langkah kakinya berjalan , namun ia menghentikan langkahnya.
Widya melihat seseorang yang tak asing baginya bersama dengan seorang laki-laki dan beberapa orang yang Widya perkirakan adalah bawahan atau pengawal laki-laki itu.
"Hmm sepertinya aku pernah mengenal wanita yg bersama laki-laki itu" gumam Widya memandang ke arah mereka
"Oh iya itu kan mantan nya mas Satria, Anggi.
Siapa pria itu? mengapa ia sepertinya membawa paksa Anggi dengan para pengawalnya? Apa hubungan mereka????" melihat Anggi yang hanya mengumpat marah , Widya menyimpulkan jika Anggi mengenali pria yang berjalan di depan itu
"Hmm siapa pria itu? apa dia Suaminya? lelaki itu bukan sembarang orang. menilik dari penampilannya, dari ujung kaki hingga pakaiannya semua barang bermerk. ditambah lagi ia bersama dengan beberapa pengawal, aku yakin pria itu bukan orang sembarangan" gumam Widya masih menatap lekat pemandangan di depan nya yang tak lain adalah Anggi dengan mantan suaminya
__ADS_1
Setelah mereka berlalu, Widya bergegas menuju lokasi dimana teman-temannya menunggu.
"Hallo guys, sorry ya gue telat"ucap Widya begitu sampai di meja dimana teman-temannya duduk
"owh gak apa-apa, bumil mah bebas. ya kan guys?" ucap Lia memeluk sahabatnya itu
"Erna loh gak kangen gue? rajuk Widya yang melihat sahabat nya ini hanya melihatnya dengan tatapan datar
"Eh Wid pa kabar loe? ucap Erna berbasa-basi.
Erna memeluk Widya sekilas, dari sorot mata Erna, Widya sangat paham jika Erna marah atas kelakuannya.
Erna tahu semua tentang Widya dan anak dalam kandungannya itu, namun Erna memilih diam, berharap sahabatnya itu bisa memperbaiki diri dan meninggalkan Satria, nyatanya sepertinya Widya tetap mempertahankan Satria.
Erna menduga jika Widya mengklaim bahwa anak dalam kandungannya adalah anak Satria, membuat Erna marah dan jijik pada sahabatnya itu.
Widya seperti manusia tidak punya hati, bagaimana mungkin ia berbuat seperti itu pada Satria orang yang sangat baik dan sangat mencintai Widya
"Loe hamil anak siapa? Satria atau terong-terongan loe si Bobby? celetuk Evi sinis
"Ya anak suami gue lah, secara gue kan subur, gak kaya yang disana nah, dah lama kawin gak hamil-hamil" sindir Widya melirik ke arah Evi sambil tersenyum sinis
"Apa maksud loe main sindir? gue gak suka ya Wid " bentak Evi tersinggung
Ia merasa tersindir dengan perkataan Widya, nyatanya ia memang belum juga hamil padahal ia sudah satu tahun lebih menikah.
Evi makin membenci Widya, ia tak pernah suka dengan Widya.
"Lah kenapa jadi loe yang sewot. gue ngomong gak nyebut nama. loe ngerasa ya? "timpal Widya tak kalah sengit
__ADS_1
"gue emang belum hamil, tapi gue istri setia gak kaya loe persis kaya pela**r yang masih doyan sama punya orang di luar.
Gue juga yakin, itu bukan anak Satria, tapi.anak.bobby cowok terong- terongan loe.
Loe denger ya Wid, gue kasian sama laki loe yang super baik punya istri bejat macam loe, suatu saat loe akan kena karmanya dan gue orang pertama yang akan tertawa buat loe" ucap Evi tajam
"Loe bener-bener sialan Evi" jawab Widya marah
Widya merasa di tenjangi oleh Evi, semua mata menatap curiga kearah Widya, selama ini hanya Erna yang tahu aib nya secara detail termasuk ayah biologis anaknya, namun kali ini Evi membukanya secara umum di depan teman-temannya yang lain membuat Widya malu dan kehilangan muka, Widya sangat membenci Evi.
"Gue pamit guys, geli gue deket-deket pela**r yang berkedok istri model dia " ucap Evi lalu menyambar tasnya dan keluar dari cafe diikuti oleh suaminya yang hanya mengangkat bahu tak berkomentar, ia langsung berlari mengejar Evi
"Evi sialan. awas loe ya, tunggu pembalasan gue" ucap Widya nanar menatap kepergian Evi
"Sabar Wid, udah biarin kan loe tau Evi begitu, lagian loe pake bilang gitu, Evi sensitif klo masalah kehamilan, karena dia udah berobat kemana aja sampai inseminasi buatan dan gagal, loe udah nyentil titik sensitif dari Evi, pantas aja dia marah dan menyerang balik loe" Tia berusaha menenangkan Widya
"gue gak akan mulai kalau tuh lon** mulutnya gak kaya comberan. loe gak usah belain dia.
Gue gak suka Evi ikut campur dalam rumah tangga gue, apalagi dia ngomentarin siapa ayah anak gue, gak etis " ucap Widya dongkol , sebenarnya Widya berusaha menutupi rasa malunya karena ucapan Evi adalah sebuah fakta, Erna hanya diam menghela.nafas tanpa mau berkomentar apapun, mulai detik dimana Widya mengatakan ia mengandung anak Bobby dan meneruskan pernikahannya dengan Satria, detik itu juga ia memilih angkat tangan dan tak perduli lagi dengan Widya, ia hanya kenal dengan Widya tidak mau akrab lagi seperti dulu, ia tak mau disalahkan oleh Satria.
"Udah jangan marah-marah, gak baik buat kandungan loe" timpal Nia menambahkan.
Nia dan Tia tidak tahu jika apa yang Evi katakan adalah sebuah kenyataan, mereka tidak punya mata jeli seperti Evi yang bisa tahu gelagat buruk sahabatnya.
Nia dan Tia tipe teman yang hanya perduli Dangan dirinya sendiri.
Erna acuh tak acuh, ia lebih memilih sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan apa yang baru saja terjadi di depan nya, Erna meneguk kopinya, menikmati nya seolah tak mendengar apapun.
Widya melempar pandang pada Erna , ia ingin merajuk pada Erna, namun melihat Erna cuek, Widya urungkan niatnya.
__ADS_1
Sahabatnya kini menjadi orang yang dingin tak berperasaan