
Keesokan harinya Ridwan baru tiba di Indonesia, sementara Bagus tiba kemarin sore, setelah mendengar kabar ia langsung terbang menuju Jakarta
Satria masih belum sadarkan diri, mereka melakukan operasi pemasangan pen pada kakinya kemarin malam.
Anggi Yang sejak kemarin menunggu Satria terlihat sudah kelelahan.
Begitu melihat Ridwan datang, ia langsung berlari kearah Ridwan dan menangis sejadi-jadinya, ia hanya ingin menangis agar sesak di dadanya sedikit berkurang.
Ridwan berusaha menenangkan Anggi yang terlihat sangat terpukul, hingga akhirnya tubuh Anggi tumbang.
kelelahan dan tekan batin membuat kesehatannya memburuk dengan cepat, ia pun akhirnya di larikan keperawatan untuk segera mendapatkan penanganan medis
Ridwan langsung memanggil dokter Nugraha , dokter sekaligus sahabat Ridwan yang selama ini merawat Anggi, ia sedikit kecewa ternyata kondisi kesehatan Anggi sangat memprihatinkan, namun ia tak mendapatkan kabar mengenai ini dari dokter Nugraha.
Pintu ruangan di ketuk, lalu masuklah dokter Nugraha.
Ridwan hanya diam menatap tajam pada sahabatnya itu, ia sangat marah dan kecewa pada kinerja dokter Nugraha
Dokter Nugraha yang sudah melihat air muka Ridwan yang kurang baik sudah bisa menduga kemana arah pembicaraan mereka nanti.
”Aku rasa kamu sudah tahu maksud ku memanggilmu ke ruangan ku” ucap Ridwan membuka percakapan
”Aku akan jelaskan.
Kondisi Anggi memang harus segera melakukan operasi, namun donor ginjal nya belum dapat sehingga aku menunda operasinya”
"Mengapa kau tidak memberitahu padaku, kamu tahu Anggi adalah keponakanku. maslaah donor kamu bisa runding kan denganku, aku bisa menyediakan untuknya" teriak Ridwan marah
”Maaf, ini semua atas permintaan pasien dan suaminya, Yaitu Anggi dan Satria, sebagai dokter aku hanya bisa menghormati keputusan mereka.
Aku tak bisa berbuat apapun. maaf. ini kode etik kita”
ucap Nugraha lirih
Ridwan meremas rambutnya, kepalanya terasa mau pecah.
Di satu sisi kondisi Anggi sangat mengkhawatirkan , dan di sisi lainnya kondisi Satria masih belum melewati masa kritis.
Ridwan frustasi. ia merasa gagal sebagai orang yang di amanat kan menjaga keluarga besarnya, termasuk keponakannya itu.
Pintu ruangan kembali di ketuk, lalu masuklah Dokter Adam
__ADS_1
Dokter Adam langsung duduk diantara mereka
"Aku ingin memberikan laporan tentang Satria” ucap dokter Adam menyerahkan laporannya pada Ridwan, wajahnya masih terlihat tegang karena memang kondisi Satria masih belum melewati masa kritisnya, namun operasi yang di lakukan bisa dikatakan berhasil.
”Bagaimana kepalanya dan cidera di kakinya? apa dia bisa berjalan kembali?”
”Cidera eksternalnya tidak parah, namun kita masih harus melakukan pemeriksaan Untu cidera internalnya mengingat pasien masih belum juga sadar”
”Aku mohon lakukan yang terbaik untuk keponakanku” pinta Ridwan memohon pada sahabatnya itu
”Itu pasti bro, insha Allah Satria bisa melewati masa kritisnya ”
”Aminnn" ucap Nugraha dan Ridwan bersamaan
Beberapa jam kemudian Satria siuman, ia terlihat sangat kesakitan karena luka yg di deritanya, namun ia berusaha kuat di depan anak dan istrinya yang menangis tersedu-sedu karena bahagia dan lega Satria telah melewati masa krisisnya.
Dua Minggu kemudian
Satria sudah di perbolehkan pulang, beruntung luka di kepalanya tidak parah, hanya cidera kakinya yang sedikit mengkhawatirkan, ia akan bergantung pada tongkat penyangga untuk membantunya berjalan.
Kinar sudah mengambil cuti kuliah, ia ingin fokus mengurus kedua orangtuanya, namun kondisi perusahaan orangtuanya makin terpuruk setelah orang kepercayaan Satria menggelapkan uang perusahaan, sehingga perusahaan tersebut merugi banyak, untuk menutupinya Satria meminjam uang di bank Yang bunganya lumyan, ia belum bisa konsen bekerja di karenakan kondisinya serta kondisi Anggi yang makin hari makin memburuk.
Kaki Anggi mulai membesar karena bengkak, semua karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik.
Siang itu, Kinar keluar dengan wajah lesu setelah mejalani sesi wawancara, ia gagal.
Ini bukan kali pertama ia gagal dalam mencari pekerjaan.
Kinar berjalan gontai, tak terasa bulir air matanya jatuh, ia berusaha menghapusnya dengan punggung tangannya, hingga ia tak memperhatikan jalanan di depannya.
Bugghh
Tubuh mungil Kinar terpental kebelakang karena ia menabrak seseorang, Kinar memegang keningnya yang sakit, dan terdengarlah makian seseorang yang marah
"Kalau jalan pakai mata dong, liat tuh kedepan bukan kebawah, kamu lagi cari koin jatuh apa???” bentak seorang pria kasar
Kinar mau marah, seharusnya pria ini melihatnya kok malah menyalahkannya, kalau dia tidak punya mata, lalu dia apa???
Kinar mengigit bibir bawahnya menahan marah, ia mendongakkan wajahnya dan mendapati seorang pemuda dengan wajah dingin dan sombong
"Kinar???” panggil seorang perempuan yang tak asing suaranya, membuat Kinar mengurungkan niatnya memaki balik pria itu, nampak Mariska yang berjalan setengah berlari ke mereka.
__ADS_1
Kinar buru-buru tersenyum dan bangkit, ia kini bs melihat jelas pria sombong yang menabraknya tadi
"Ah sial, pria menyebalkan ini...." umpat Kinar setelah mengenali pria yang menabraknya
"Kinar? benar kamu sayang, ya Allah Tante tuh kangen banget sama kamu, Tante sampai takut gak bisa ketemu kamu lagi karena nomor kamu gak aktif"ucap Mariska langsung memeluk Kinar
Sementara Dimas menatap sekilas kearahnya dengan malas, ia lalu berjalan meninggalkan Kinar dan mamanya
”Ma, Dimas naik duluan" ucapnya tanpa menoleh
”Cih, dasar manusia sombong, kenapa gue soal banget sih kalau ketemu dia selalu nabrak, kayanya gue apes banget deh” gerutu Kinar meredam amarahnya
”Maaf Tan, Kinar ganti nomor gak bilang.
Ponsel Kinar hilang kecopetan , dan Kinar gak tahu kemana harus menghubungi tante” ucap Kinar merasa bersalah
”Ya tuhan, gak apa-apa sayang, syukur kita bisa ketemu hari ini ya?” ucap Mariska. mengelus puncak kepala Kinar layaknya ibu pada putrinya
Kinar hanya mengangguk dan tersenyum, namun Mariska mengerutkan alisnya melihat wajah Kinar yang kusut dan terlihat kurang tidur
”Tunggu Tante sebentar”ucap Mariska, ia lalu menelpon Dimas anaknya , setelah mengucapkan beberapa kata, ia menghadiri panggilan teleponnya dan menghampiri Kinar
Mereka lalu pergi ke kafe yang masih berada dalam satu gedung, Kinar lalu menceritakan semuanya pada Mariska.
Entah mengapa Kinar bisa sangat terbuka dengan Mariska, dan setelah bercerita,, ia merasa sesak di dadanya sedikit berkurang.
”Tante turut berduka atas musibah yang menimpamu nak”
”Makasih tante” ucap Kinar pelan
”Kamu kerja saja di perusahaan Tante, Tante yang akan urus semuanya” ucap Mariska
”Maaf Tan, bukan Kinar gak mau, namun kayanya gak etis aja Kinar bisa langsung kerja, sedang Kinar gak punya pengalaman. Kinar mau memulai semuanya dari bawah tan"ucap Kinar, walau terdengar naif, namun Mariska bisa menerima alasannya, malah hal ini membuatnya semakin suka dengan gadis ini.
”Baiklah, jika kamu butuh sesuatu, kasih tahu Tante ya” ucap Mariska
"Pasti tante”senyum lebar Kinar menghiasi wajahnya
”Owh ya, Tante mengundangmu secara resmi ke resepsi pernikahan anak sulung Tante, dua Minggu di hotel SB.
Tante harap kamu datang ya?”
__ADS_1
”Insha Allah Tan, Kinar akan usahakan”
Mereka pun akhirnya berpisah, Kinar kembali menuju tempat kedua wawancara sementara Mariska menuju kantor anak sulungnya.