
Empat tahun kemudian
Wajah Kinar nampak di tekuk, hari ini mamanya tidak bisa menjemput mereka pulang sekolah.
Kini Kinar sudah masuk sekolah dasar dan Aisya duduk di TK( taman kanak-kanak) nol besar, sedang si kecil Reyhan TK nol kecil.
Mereka bertiga menunggu pak Slamet datang menjemput, karena mama mereka sibuk dengan si kembar Raffa dan Raffi
”Lama banget sih kak, Reyhan udah laper nih” gerutu si kecil Reyhan dengan logatnya yang agak cadel
”Sabar,, sebentar lagi juga sampe, iya kan kak?” tanya Aisya menatap kakaknya yang sejak tadi hanya diam dengan wajah sedih
Kinar hanya mengangguk sambil memaksakan tersenyum pada kedua adiknya tersebut.
Sejak kecil Kinar bersikap dewasa walau usianya masih kecil.
Ia juga tak pernah merengek dan manja seperti anak kecil pada umumnya. Kinar kecil terbiasa mandiri dan sedikit pendiam.
”Lama banget sih kak”ucap Reyhan lagi sambil memegangi perutnya yang buncit
”Daar tukang makan, lihat tuh perut kamu kaya mau meledak”seloroh Aisya menertawakan adiknya, membuat Reyhan memandang perutnya sendiri lalu meringis memamerkan giginya yang ompong
Tak lama kemudian, sebuah mobil keluarga memasuki pekarangan sekolahan, mereka lalu berjalan mendekati mobil tersebut
”Pak Slamet lama” ucap Rayhan kesal lalu masuk ke dalam mobil, ia duduk di bangku depan samping kemudi sambil bersedekah tangan, memasang wajah bad moodnya .
”Maaf den bagus, bapak tadi mendadak ke supermarket, mama kalian yang suruh berbelanja karena nyonya buyut akan tiba ke jakarta”
”Beneran pak?" tanya Kinar yang sejak tadi hanya diam saja. Ia sangat merindukan nenek buyutnya dan kakek buyutnya itu
”Ya bener dong non, ayo pulang, mungkin nyonya buyut sudah sampai” ucap pak Slamet yang di balas teriakan kegirangan tiga bocah kecil itu
”Asik nenek buyut datang, aku mau minta belikan boneka” teriak Aisya
"aku mau mobil-mobilan”teriak Reyhan tak mau kalah, sedang Kinar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua adiknya itu
Pak Slamet hanya senyum-senyum melihat kelakuan kedua anak majikannya itu
”Non Kinar kenapa diam aj? gak senang apa nyonya buyut datang?” tanya pak Slamet penasaran, memandang anak majikannya yang cemberut
”Seneng kok pak”ucapnya berusaha tersenyum
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Reyhan dan Aisya langsung berlarian kedalam rumah, mereka tak sabar untuk bertemu dengan nenek dan kakek buyut mereka.
Sementara Kinar jalan dengan lesu masuk ke dalam rumah, ia tersenyum dan langsung menyalami kakek dan nenek buyutnya, setelah itu ia pamit masuk ke kamarnya
Anggi memandangi Kinar yang terlihat tak biasa, biasanya setiap kakek dan nenek uyutnya datang, Kinar akan berceloteh riang menceritakan kegiatannya dan sekolahnya, namun hari ini Kinar terlihat murung dan sedih, walau ia tertawa dan tersenyum, Anggi tahu jik putrinya itu hanya berusaha menutupi kesedihannya
Ayu lalu menghampiri Anggi yang masih menatap kepergian Kinar
”Nggi, sepertinya Kinar tidak seperti biasanya, apa terjadi sesuatu padanya?”tanya Ayu
"Anggi gak tahu nek, Anggi akan cari tahu, titip Raffa dan Raffi ya nek” ucap Anggi berjalan menyusul Kinar
Tok Tok Tok
”Sayang, mama boleh masuk?”tanya Anggi, ia melihat Kinar masih duduk di tepi ranjangnya, belum mengganti pakaian sekolahnya
”Mama...., masuk”ucapnya tersenyum
”Kakak sakit sayang?”tanya Anggi memegang kening Kinar lalu mengelus rambut panjang Kinar dengan penuh kasih sayang
” Enggak ma” jawab Kinar lirih
”Sakit perut?” tebak Anggi, namun Kinar menggeleng
"Apa ada masalah di sekolahan???” tanya Anggi lagi
dan lagi-lagi Kinar menggelengkan kelapa
”Sayang, kakak bisa cerita sama mama. kakak pasti ada sesuatu yang kakak sembunyikan kan? ”
”Ma..., apa benar Kinar anak pungut?”tanga Kinar dengan mata berkaca-kaca siap menangis
”Siapa yang bilang kakak anak pungut???”
”katakan ma, apa benar Kinar bukan anak mama?" tanya Kinar mulai menitikkan air mata
”Sayang itu gak benar, kakak Kinar anak mama dan papa"ucap Anggi memeluk Kinar menenangkannya yang mulai menangis
”Kata Susan Kinar jelek, hitam, mama cantik.
semua teman-teman jadi ngatain Kinar anak pungut ma" ucapnya sesegukan menangis
__ADS_1
”Kinar anak mama dan papa , mereka cuma itu karena Kinar lebih cantik dari mereka. Jangan sedih ya sayang, kalau Kinar diem aja, mereka akan terus ganggu Kinar.
Ada saat kita mengalah, ada saat kita membela diri, tapi mama gak mau kamu main kekerasan. Biar mama yang antar kakak Kinar besok sekolah.
Sekarang Kinar ganti baju terus turun. kakek dan nenek buyut pasti nunggu kakak Kinar, mereka datang karena kangen sama cicitnya yang cantik ini, dan mereka bawa sesuatu untuk kakak Kinar loh”
"Beneran ma???” Kinar menghapus air matanya bahagia
Anggi mengangguk sambil tersenyum, ia merapihkan anak rambut Kinar yang menutupi wajah cantik Kinar
Kinar berjalan menuju kamar mandi, Anggi mengambilkan pakaian ganti untuk putri sulungnya, ia menghapus air matanya yang tak sengaja menetes di pipinya
”Ya Allah, kuatkan hatiku, tolong jangan sekarang rahasia itu terungkap, ia masih terlalu kecil untuk mengetahui pahitnya hidup ini”gumam lirih Anggi
Anggi meninggalkan kamar Kinar, ia berjalan menuju ruang keluarga dimana seluruh keluarga berkumpul
Satria yang sengaja pulang kerumah untuk makan siang segera menghampiri istrinya yang terlihat sedih.
Satria membimbing Anggi duduk di sofa
”Mas maaf aku ga menyabut kedatanganmu” ucap Anggi lirih
”Gak apa-apa, kamu gak harus menyambut ku, kamu pasti sibuk dengan anak-anak, terima kasih sayang sudah menjadi ibu sekaligus istri yang luar biasa”ucap Satria mengecup kening Anggi.
Anggi malah menangis, membuat Satria kebingungan
"Sayang, kenapa kamu malah menangis? maafin mas ya kalau mas sudah buat kamu sedih, jangan menangis, maafkan mas” ucap Satria memeluk istri tercintanya
Setelah tangis Anggi reda, Satria melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata istri tercintanya itu
”Mas, siang ini Kinar pulang dan menangis, teman-temannya mengoloknya anak pungut. Hati ku sakit melihat ia terluka” ucap Anggi menitikkan air mata
”Kamu tenang saja, mas akan selesaikan semuanya hari ini. selesai makan siang, mas akan menemui wali kelas Kinar untuk membicarakan masalah ini.
Mas tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak kita” ucap Satria, Anggi lalu memeluknya erat sambil tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih
"Gak perlu berterima kasih, kamu lupa??? dia anakku juga. Cepat hapus air matamu, sebentar lagi Kinar keluar, jangan sampai ia melihatmu sedih seperti sekarang.
Kamu harus tegar di depan anak-anak kita, walau hatimu menangis, kamu harus tersenyum agar anak-anak kita tidak takut dan gelisah” ucap Satria menghapus air mata Anggi.
Setelah makan siang, Satria izin kembali ke kantor, namun sebenarnya ia menuju sekolahan Kinar, bertemu dengan wali murid Kinar.
__ADS_1
Satria sangat marah mengetahui anaknya korban bullying di kelasnya, ia tak mau Kinar hidup penuh tekanan dan sedih.
Satria merasa harus menyelesaikan nya segera mungkin, sebelum semuanya terlambat.