Suami Sewaan

Suami Sewaan
Pisah Rumah


__ADS_3

Hari ini Putu an Ayu kembali ke Bali, mereka perlu mempersiapkan pesta pernikahan putra mereka karena akan di selenggarakan di sana. dan pada bulan yang sama mereka juga akan melakukan acara pertunangan hanya saja Bagus memilih tetap di Jakarta mengingat kekasihnya meminta acara sederhana saja di kediaman Anggi


Anggi memeluk putu, lalu berpindah memeluk Ayu, neneknya dengan erat, air matanya tak mampu ia bendung lagi, ia memeluk Ayu seakan tak ingin berpisah


"Sudah jangan seperti itu, lihat itu anakmu, mereka sedih melihat mamanya menangis, kamu harus belajar mandiri dan lebih dewasa lagi ya, nenek pasti akan mengunjungi Kalian lagi setelah menikahkan bujang lapuk nenek yang akhirnya laku itu"ucap Nenek melirik sekilas ke arah Ridwan, membuat Ridwan menggerutu


”Mama...”rengeknya malu membuat semua orang tertawa


Anggi melepaskan pelukannya, ia menghapus air matanya, dan melihat Aisya yang mengulurkan tangannya dari gendongan papanya


Anggi mengambil alih Aisya dan Kini giliran Satria yang memeluk kakek dan neneknya


"Ingat nak, kakek hanya akan berpesan untuk terakhir kalinya, jangan ulangi kesalahan yang sama, mulai sekarang belajarnya menjadi laki-laki sejati dan seorang ayah yang bertanggung jawab untuk kedua putrimu. Kakek akan selalu mendoakan kalian” ucap Putu menepuk punggung cucunya nya dengan sorot mata tegasnya


”Satria akan selalu ingat pesan kakek"ucap Satria pelan


Ridwan, putu dan Ayu lalu bergegas naik ke dalam mobil, mereka tak mau di antar sampai bandara, hanya cukup melepas kepulangan mereka sampai depan pintu


Mobil yang mereka kendarai meninggalkan halaman rumah Anggi hingga hilang ditikungan, Anggi masih menatap sendu kepergian nenek dan kakeknya


”Ayo masuk, lihat anak-anak sudah menguap karena mengantuk"bujuk Satria melihat Kinar yang matanya sudah sayu


Anggi lalu membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah, ia melangkah menuju kamar tidur, namun suara Satria menghentikan langkahnya


”Aku ingin bicara, setelah anak-anak tidur, temui aku di ruang kerja”ucap Satria terdengar sedih , membuat alis Anggi berkerut,berfikir keras


"Apa yang akan ma Satria bicarakan??? mengapa dari nada suaranya terlihat ia sangat sedih dan tertekan???

__ADS_1


Apa ini berkaitan dengan kembalinya kakek dan nenek ke Bali atau memang ada hal mendesak yang harus ia bicarakan setelah nenek dan kakek pergi??? entahlah”Anggi terus berfikir dan membuat kepalanya berdenyut sakit karena semakin ia berfikir semakin ia menemukan kebuntuan


Setelah satu jam kemudian Anggi baru bisa keluar, karena Aisya tiba-tiba demam dan ia terus menangis gelisah, hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan


Anggi berjalan pelan, membuka dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangat perlahan, ia khawatir Aisya terbangun karenanya.


Anggi tak langsung menuju ruang kerja, ia berjalan ke arah dapur, menyiapkan dua gelas teh hangat lalu membawanya ke ruang kerja


Setelah mengetuk pintu, Anggi masuk ke dalam ruang kerja.


Satria berdiri membelakanginya, tubuhnya yang tinggi menutup cahaya yang masuk melalui jendela di ruangan tersebut


”Mas minum dulu teh nya”Ajak Anggi sambil meletakkan teh manis yang ia buat di meja yang berada di ruangan tersebut, lalu duduk di sofa menanti Satria bergabung bersamanya


Satria menoleh dan duduk di depan Anggi, wajahnya yang muram menandakan suasana hatinya yang saat ini buruk saat ini


Satria menghela nafas, lalu ia meneguk teh hangat buatan Anggi, setelah itu masih terdiam seakan sedang memikirkan kata-kata yang pas, yang akan ia sampaikan pada Anggi


”Kakek dan nenek sudah kembali kerumah mereka, sementara di kediaman ini tinggal kamu dan Prapti serta anak-anak.


Diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun, tak bijak rasanya jika aku masih saja menetap di rumah ini.


Secepatnya aku akan pindah dari rumah ini, aku tak mau keberadaanku di rumah ini akan menjadi bahan gunjingan orang. ” ucap Satria berusaha tenang, walau jujur itu keputusan yang berat untuknya, namun demi kebaikan bersama ia juga perlu mempertimbangkan harga diri dan nama baik ibu dari anak-anaknya


”Tapi mas, bagaimana dengan anak-anak, aku juga tak merasa keberatan mas tinggal bersama kami”ucao Anggi memprotes keputusan Satria, walau ia tahu ap yang Satria sampaikan benar adanya


”Aku percaya kamu tak keberatan, namun aku juga tahu aturan agama yang melarang orang yang bukan muhrimnya tinggal satu atap”ucap Satria pelan

__ADS_1


Anggi diam tak mampu berkata apa-apa, ia menggigit bibir bawahnya karena takut


takut Satria akan melupakannya dan meninggalkannya


takut Satria lupa akan janjinya dan mengabaikan anak mereka


dan perasaan takut lainnya yang terus sama memburunya


Satria menarik nafas pelan dan menghembuskan ya, ia meneguk kembali teh di cangkirnya, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat


”Aku memang tidak tinggal bersama kalian, namun aku janji akan tetap bertanggung jawab pada kedua putri-putriku, aku berjanji tidak kan sedikitpun melalaikan tanggung jawabku menyayangi dan melindungi mereka, walau kita berbeda rumah”ucp Satria kembali


Anggi hanya diam, airmata nya tak terbendung, ia memang belum bisa menerima Satria kembali, namun berjauhan kembali dengan pria yang ia sadari masih mengisi hatinya itu, adalah sesuatu yang berat


Satria tertegun melihat Anggi menangis, ia bangkit dan berjalan mendekati Anggi, duduk di samping Anggi dan memeluknya, membiarkan Anggi menangis di pelukannya


”Jangan menangis, aku sudah berjanji pada diriku tak akan pernah akan membuatmu menangis lagi, maafkan aku atas semua kelakuan buruk ku di masa lalu. Aku tahu itu tak mudah kau maafkan, sebagai balasannya aku rela menantimu sepanjang umurku, walau pada akhirnya nanti kamu tetap tak bisa menerimaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. selamanya”ucap Satria lembut. membelai rambut Anggi yang kian tersedu


"Please mas, berikan aku waktu , anak-anak masih membutuhkan sosok mu, apa yang harus aku katakan pad Kinar jika ia mencari mu?” ucap Anggi mencari alasan yang masuk akal, ia terlalu gengsi mengatakan bahwa ia keberatan Satria pindah rumah


"Aku akan pulang kerumah setelah pulang kantor dan bermain bersama anak kita, ketika malam aku akan kembali ke rumahku, aku juga perlu mencari uang , karena aku papa dari dua anak gadis yang nantinya butuh uang banyak untuk membiayai mereka” ucap Satria tersenyum lembut


”Bisakah kau pergi setelah Aisya sehat? anak itu demam, mungkin mau numbuh gigi atau mau jalan, aku mohon mas”ucap Anggi menatap Satria dengan wajah sayu nya


"Baiklah, aku akan disini sampai Aisya sembuh”ucap Satria mengalah membuat Anggi sontak memeluk Satria, memberikan ciuman di pipi Satria.


Reflek yang membuat Satria maupun dirinya sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan, semua di bawah alam bawah sadarnya

__ADS_1


Wajah Anggi langsung bersemu merah, ia sangat malu dengan kelakuannya sendiri.


”Ma.. maaf"ucapnya menunduk lalu bangkit dari sofa hendak keluar, namun tangan Satria menariknya, hingga ia jatuh kembali dan dengan posisi memeluk Satria, pandangan mata mereka bertemu, mereka memandang dengan tatapan penuh cinta, tanpa Sasar wajah mereka mendekat dan bibir Satria menempel pada bibir merah Anggi, Satria ********** dengan penuh perasaan, Anggi yang awalnya terkejut, lama-lama ia terbawa suasana dan terhanyut dalam perasaanya, membalas setiap lumayan Satria lebih dalam dan dalam, saling mengabsen setiap inci rongga mulut mereka, tangan Anggi di kalung kan ke leher Satria sementara Satria memegang kepala Anggi untuk lebih mendalami ciuman mereka


__ADS_2