Suami Sewaan

Suami Sewaan
Terkejut


__ADS_3

Satria menangis sejadi-jadinya, ia memeluk sepucuk surat peninggalan Putu yang seakan kakeknya tulis untuk di tujukan ke neneknya yang sudah meninggal, keduanya kenang-kenangan terindah mereka


Anggi yang mendengar suara suaminya berasal dari kamar almarhum kakeknya , penasaran.


Anggi membuka kamar tersebut dan mendapati suaminya menangis tersedu-sedu


”Mas, ada apa mas?"tanya Anggi cemas


” Nenek dan kakek meninggalkan catatan untuk kita semua bahkan sepertinya mereka sudah mempersiapkannya seolah tahu bahwa usia mereka tak lama lagi” ucap Satria menyodorkan surat yang di pegang ya pada Anggi, Satria tak mampu membaca lembar berikutnya, karena disana ada empat lembar surat, satu saja sudah berhasil mengidam aduk perasaannya sedemikian rupa.


Anggi yang membacanya tak urung meneteskan air mata juga, ia mengigit bibirnya menahan Isak keluar dari mulutnya.


”Bagaimana jika kita jabarkan kak Ridwan dan kak Bagus? mereka berhak tahu ” Satria mengangguk pelan


”Kita akan bertakziah ke makan nenek dan kakek bersama-sama” ucap Anggi lagi, Satria masih menjawab dengan Anggukan tanpa mengeluarkan satu katapun.


Setelah mendapat kabar Anggi, Ridwan dan Bagus segera menuju rumah Anggi. kebetulan besok weekend mereka merencanakan berkumpul keluarga, menginap di sana , sekaligus keesokan harinya mereka akan merencanakan bertakziah ke makan Ayu dan Putu.


Lima belas tahun kemudian


Kini Kinar sudah berusia dua puluh tiga tahun, ia juga sudah kuliah kedokteran mengikuti jejak Ridwan.


Sejak lima tahun lalu, Ridwan dan keluarganya pindah dan menetap di luar negeri karena anak satu-satunya Farel bersekolah di sana.


Ridwan juga melebarkan sayap membuka rumah sakit di sana, sedang Bagus lebih memilih tinggal di Bali, menempati kediaman orangtuanya yang terbengkalai dan fokus mengurus bisnisnya di sana.


Sejak melahirkan anak yang ke tiga, Anggi sering sakit-sakitan, dokter sudah melarang Anggi untuk hamil lagi karena usianya yang sudah menginjak kepala empat, namun Anggi tetap mempertahankan kehamilannya dan berjuang melahirkan si bungsu dengan mempertaruhkan nyawa.


Rupanya selama ini Anggi menyembunyikan jika ia di diagnosa gejala gagal ginjal, hal ini memperparah kondisi kesehatannya.


Tubuhnya yanag berisi kini turun drastis dan ia akan mudah lelah, jika terus di biarkan bisa-bisa mengancam keselamatannya


Satria berusaha keras mengobati Anggi, dari media hingga alternatif , namun kondisinya belum juga menunjukkan kemajuan, dokter malah menyarankan untuk donor ginjal, dari mana Satria memiliki uang, sedang uang yang mereka miliki sudah habis terkuras untuk pengobatan Anggi


Kinar sedang membersihkan ruangan, hingga ia mendengar suara seseorang sedang berbicara di telepon dengan suara tertahan yang berasal dari ruang kerja papanya, ia berusaha mengintip dari celah pintu yang tak tertutup

__ADS_1


"Dokter Hendra, apa tak ada jalan keluar selain donor Ginjal dok?” tanya Satria lirih


”Saya pasti akan mengusahakan biayanya, bisakah dokter sementara waktu menstabilkan kondisi istri saya sampai saya mendapatkan donor untuknya???”


"Baik, baik dok, saya mohon jangan beritahu kak Ridwan, saya tidka mau terus menyusahkan beliau, baik, terima kasih"


Satria mengakhiri panggilan teleponnya


Terlihat Satria mencengkram rambutnya , ia terlihat sangat tertekan.


Sejak mamanya sakit memang papanya fokus mengurus mamanya, hingga pekerjaannya terbengkalai dan jarang masuk kantor, ia menyerahkan semuanya pada bawahan kepercayaannya yang sudah ia anggap saudaranya sendiri yang bernama om Hari.


Om Hari sering kali kerumah membawa dokumen untuk Satria tanda tangani atau membahas masalah pekerjaan dengan Satria, sehingga hubungan keluarga Hari dan Satria dekat, ditambah Hari memiliki anak yang seusia dengan Kinar.


Satria menangis tanpa suara, membuat hati Kinar sakit melihat keadaan papa dan mamanya.


Kinar juga tahu papanya juga masih harus memikirkan biaya kuliahnya dan sekolah adik-adiknya, di tambah si bungsu Delia yang masih berusia tiga tahun, masih sangat membutuhkan susu dan Pampers.


Perlahan Kinar masuk ke dalam, Satria yang menyadari kedatangannya langsung menghapus air matanya buru-buru, ia tak mau putrinya melihatnya sedang menangis.


"Sayang kamu belum berangkat kampus?"tanya Satria berusaha tersenyum


”Sayang...” Satria tak mampu menjawabnya, hatinya terasa nelongso


”Katakan pa, Kinar sudah mendengar semuanya, Kinar calon dokter pa, Kinar sudah besar, papa bisa cerita sama Kinar”ucap Kinar menatap papanya tanpa ada keraguan


Satria menghela nafas, ia tak merasa nyaman berbagi cerita dengan putri sulungnya itu, atau pada anaknya yang lain, ia menganggap ini semua adalah tanggung jawabnya sebagai seorang suami


”Apa papa gak anggap Kinar Anak kalian???” suara lembut Kinar namun membuat Satria tersentak


"Sayang, papa tidak bermaksud seperti itu, papa...."


"Apa karena Kinar bukan darah daging kalian??” tanya Kinar menitikkan air mata


"Astaghfirullah Kinar, papa tidak pernah berfikiran seperti itu, kamu anak papa dan mama, jangan ragukan itu”

__ADS_1


”Kinar sudah tahu semua pa, siapa Kinar,.."Kinar menangis. Satria langsung bangkit dan memeluk putrinya itu, ia tak menyangka jika Kinar sudah tahu semuanya, sejak kapan?? siapa yang memberitahu???


Pertanyaan itu terus berputar di kepala Satria.


Satria mengelus rambut panjang putrinya, mencium keningnya lembut


”Papa tidak peduli siapa kamu, yang papa tahu kamu anak papa dan mama dan kami amat sangat menyayangi kamu, adik-adikmu, kalian harta berharga kami.


Papa hanya merasa ini semua tanggung jawab papa sebagai kepala keluarga nak.


papa mohon jangan pernah berfikiran seperti itu, selamanya sampai papa dan mama mati, kamu anak kami" ucap Satria kembali memeluk putrinya


”Maafkan Kinar pa” ucap Kinar terisak


”Sudah jangan nangis, papa gak mau wajah putri papa yang cantik ini jadi jelek karena menangis"yg goda Satria


Setelah sedikit tenang, Satria menyerahkan air putih yang ia bawa beberapa saat lalu.


Kinar meneguk air minum tersebut dan ia sudah terlihat lebih rileks


”Kinar sejak kapan tahu?" tanya Satria hati-hati


"Sejak kelas satu pa, lalu pas kelas enam ada bibi-bibi yang menunggu di depan gerbang rumah, katanya itu pembantu yang dulu kerja di rumah kita saat mama Widya hamil Kinar.


Awalnya Kinar benci kenapa harus wanita itu yang melahirkan Kinar bukan mama Anggi, namun se benci apapun Kinar sama orangtua Kinar, mereka tetap orangtua Kinar.


Ditambah kakek dan nenek yang sering jenguk Kinar, yang Kinar ketahui bukan keluarga papa dan mama, dari situ Kinar sudah curiga, dan ketika kerumah mereka Kinar pertama kalinya melihat pria itu.


Kinar malu sama papa dan mama, Orangtua Kinar bukan orang baik, terlebih papa Kinar penjahat, tapi Kalian mau merawat Kinar dengan penuh kasih sayang, terima kasih pa, Kinar anak yang paling beruntung di dunia dapat perhatian dan kasih sayang mama dan papa” Ucap Kinar menundukkan kepalanya.


Satria memeluk putrinya dan membelai rambut Kinar, tak percaya putrinya sudah tahu sejak lama


"Ya Tuhan, ternyata Kinar sudah tahu semuanya sejak dulu, dan ia menutup rapat perasaanya. anak ini sungguh luar biasa, bisa mengontrol emosinya sudah sejak sangat belia."gumam Satria dalam hati.


”Kinar harus percaya, papa dan mama sangat menyayangimu nak.

__ADS_1


Kami tak pernah membeda-bedakan kasih sayang kami pada kalian, karena kalian semua anak-anak kami"


"Kinar tahu pa, terima kasih"Kinar memeluk papanya


__ADS_2