
"Itu semua yang diberikan oleh ibu Widya beberapa waktu lalu sebelum ia pergi, beliau meberikan ini semua pada saya beberapa sudah saya jual waktu cucu saya lahiran dan harus operasi" ucap mbok Ijah merasa tak enak
"Tak apa mbok, saya tidak perduli dengan apa yang ia sudah berikan, itu sudah menjadi hak mbok Ijah, saya hanya mau bertanya apakah ada yang janggal, maksud saya... " Satria tidak meneruskan ucapannya karena ia bingung bagaimana menyampaikan ucapannya pada mbok Iyah
"Maksud pak Satria apa ibu Widya bertingkah aneh? " sela mbok Ijah mengerti arah pembicaraan Satria
"Kurang lebih begitu mbok" ucap Satria menggaruk kepalanya yang tak gatal
Mbok Ijah terlihat ragu, ia sejenak terdiam seolah sedang mengingat-ingat sesuatu
"Bu Widya sering menerima telepon, namun saya gak tahu dari siapa, dan kadang pergi teegesa-gesa setelah menerima telepom dari seseorang" ucap mbok Ijah
"Apa mbok tahu, siapa yang menelponnya? lali-laki tau perempuan? "
"Waduh, kalau itu mbok gak selalu memperhatikan pak, cuma sih beberapa kali terlihat bu Widya marah-marah dan menyebut nama seseorang Bob... bob gitu" ucap mbok Ijah berusaha mengingat
"Bobby? apa nama itu yang Widya sebut mbok? " tanya Satria cepat, ia teringat slip bikti transfer sejumlah uang ke rekening seseorang bernama. Bobby
"Nah iya pak, Bobby, maaf mbok sudah tua jadi sering lupa" ucap mbol Ijah menyeringai
"Gak apa-apa mbol, saya memaklumi itu.
Apa ada hal laim yang mbok tahu? atau lihat?" selidik Satria
"Hemmm, mbok takut salah pak, tapi mbok permah lihat bu Widya kedatangan tamu, tapi gak masuk ke dalam rumah, mereka hanya bicara dengan suara hampir berbisik di gerbang rumah, lalu tak lama mereka pergi"
"Apa itu pria yang bernama Bobby?" tanya Satria
"Kalau itu mbok kurang tahu, tapi... "
"Tapi apa mbok, tolong katakan mbok, informasi sekecil apapun saya butuhkan untuk mencari keberadaan Widya" ucap Satria memohon
"Tapi bu Widya beberapa waktu setelah pergi menumui saya di rumah yang ia serahkan ke saya dengan pria yang sama saat saya merihat mereka sebelum bu Widya meninggalkan rumah"mbok Iyah melirik ke arah Satria, nampak majikannya itu mengepalkan tangan, berusaha meredam. emosinya
__ADS_1
"Apa ada yang dia katakan mbok saat menemui mbok? " tanya Satria lirih
"Hemm, bu Widya cuma menanyakan kabar bapak dan meminta saya mengurus bapak dengan baik" ucap mbok Ijah ragu dengan ucapannya, karena ia tahu ucapan Widya seolah meremehkan Satria yang tak bisa hidup tanpanya
"Terima kasih mbok, Mbok bisa kembali bekerja" ucap Satria dengan suara bergetar
Mbok Ijah segera meninggalkan ruang kerja dan kembali ke dapur, sementara Satria terlihat sangat terpukul
" Jadi kau pergi bukan karena Anggi, namun karena kemauanmu sendiri pergi dengan pria itu, kamu wanita hina Widya" teriak Satria melpar lampu du meja kerjanya
Mbok Ijah yang belun terlalu jauh meninggalkan ruang kerja bisa mendengar kegaduhan dalam ruangan tersebut
Mbok ijah menatap pintu tersebut dengan wajah sedih, ia bisa merasakan perasaan Satria saat ini, ia tak memiliki pilihan laim, jika bukan sekarang Satria mengetahuinya, toh ia akan tahu dari orang lain, terlebih Prapti dan Bagus sebenarnya sudah mengetahui kebenarannya, hanya masalah waktu untuk terkuak semua
"Setiap hubungan yang di landasi oleh kebohongan akan musnah dan penyesalan hanya di belakang, cintailah apa yang kau cintai sewajarnya, karena bisa jadi apa yang kau cintai suatu saat adalah apa yang lau benci, semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran untuk nak Satria" ucap mbok Ijah dalam hati
Satria meraung menangis, ia benar-benar salah menilai Widya selama ini, ia merasa hancur, harga dirinya di injak-injak di titik terendah dalam hidupnya
Ia menyesali, sangat menyesali mengapa harus jatuh cinta pada wanita seperti Widya, namun nasi sudah menjadi bubur.
Satria berjalan gontai menuju meja kerja dan meraih ponselnya, ia mau menghubungi Anjar, orang yang ia tugaskan mencari informasi keberadaan Widya dan Anggi
Tutttt, tuttt, tuttt
Tak lama panggilan tersambung,
"Hallo boss, baru saya mau laporan" ucap Anjar di ujung telepon
"Informasi apa yang kamu punya? "tanya Satria to the point
"saya sudah dapat informasi mengenai istri pak Satria" ucapnya bersemangat
"Alhamdulilah akhirnya aku tahu keberadaan mu, Anggi, aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu" gumam Satria dalam hati
__ADS_1
"Pak, apa bapak dengar? " ucap Anjar mengulangi ucapannya
"Ah iya Anjar, apa kau sudah tahu keberadaan Anggi? "tanya Satria antusias
"Ma.. maaf pak, saya belum tahu kabar bu Anggi, tapi saya tahu kabar bu Widya " ucap Anjar lirih di ujung kalimat
"Berita apa yang kau punya" ucap Satria lesu, entah mengapa ia tidak bersemangat tahu kabar Widya lagi.
Cinta Satria sudah habis terkikis tak tersisa lagi, ia malah tak peduli pada Widya, namun demi anak yang di kandung Widya, Satria merasa harus menemukan Widya untuk menghilangkan keraguan dan gelisah di hatinya, karena kepergian Widya bersama pria itu, Satria menjadi sangsi dengan anak dalam kandungan Widya
Satria masih diam, ia mengumpulkan keberanian, berusaha ikhlas dengan semua yang menimpa dirinya, ia sadar semua bukan murni kesalahan Widya, namun ia amat sangat kecewa dengan wanita itu
"Pa Satria? " panggil Anjar di ujung telepon,membuyarkan lamunan Satria
"Ah iya, maaf Anjar saya kurang fokus" ucap. Satria memijit kening nya yang berdenyut
"Sampai dimana tadi? " tanya Satria kemudian
"Saya mempunyai informasi keberadaan bu Widya, dia tinggal di daerah B, anak bapak berjenis kelamin wanita, ia sekarang berusia empat bulan, sehat normal, nanti akan saya kirim alamat dan foto anak bapak" ucap Anjar lagi
"Ok terima kasih.
Saya mohon kamu segera mencari keberadaan istri saya Anggi sesegera mungkin, saya tak mempunyak banyak waktu lagi, saya ingin bertemu Anggi segera" ucap Satria bergetar, ada kepiluan di nada suara Satria
"Baik pak, saya akan usahakan yang terbaik" ucap Anjar
"Terima kasih" ucap Satria lalu mengakhiri panggilan teleponnya
Satria bersandar pada sudut meja kerjanya, menatap foto pernikahannya dengan Anggi yang terbingkai rapih di meja kerja tersebut serta di ruangan itu
"Aku pasti akan menemukanmu sayang, walau keujung dunia" bisik Satria memeluk bingkai foto di meja kerja Anggi
Tak beberapa lama ponsel Satria berbunyi, pesan masuk dari Anjar.
__ADS_1
Beberapa foto gadis kecil yang di gendong oleh seseorang yang tak lain adalah Widya, dan alamat Widya saat ini
"Anak siapa yang bersamamu? apakah kamu masih ingin membuatku merasa bersalah seumur hidup dengan kelakuanmu Widya? " gumam Satria menatap nanar pada layar ponselnya